Om Buah Hatiku

Om Buah Hatiku
Arti Sebatang Coklat


__ADS_3

Lima Tahun kemudian


Bagas dan Felisha masih setia mengantarkan Luna diawal masuk tahun ajaran baru.Namun kali ini Bagas dan Felisha mengantarkan Luna di sekolah barunya di SMP yang sama dengan Nakula dan Sadewa juga Kenzo dulu bersekolah.


Seharusnya tahun ini Luna duduk dikelas enam, namun karena Luna menonjol di bidang akademis akhirnya Luna dapat mendapatkan kelas akselerasi sehingga ia dapat menyelesaikan sekolah dasarnya hanya dalam waktu 5 tahun.


Tahun ini adalah tahun yang sangat berbeda sekali.Tahun ini Luna harus kehilangan Nakula,Sadewa dan Kenzo secara bersamaan.


Setelah lulus SMA Nakula tahun ini meneruskan pendidikannya di Australia, sedangkan Sadewa mulai memasuki pendidikan di Akademi Kepolisian di Semarang.


Sadewa memilih untuk masuk Akademi Kepolisian, bidang yang sangat jauh dari keluarga Bagas yang berlatar belakang pengusaha.


Selain kehilangan kedua kakaknya, Luna juga harus kehilangan Kenzo. Keluarga Kenzo memutuskan untuk menetap di Jepang karena bisnis keluarga Kenzo berpusat di Negara Matahari terbit itu.


Menjadi anak yang paling besar di rumah itu membuat Luna menjadi lebih mandiri dan menjadi kakak yang bisa diandalkan oleh Abimanyu.


"Gimana kak sekolahnya ?" tanya Bagas ketika siang itu ia dan Felisha menjemput Luna di sekolah.


"Menyenangkan " jawab Luna lirih.


Felisha menatap wajah putrinya yang terlihat tidak baik-baik saja meskipun Aluna mengatakan menyenangkan disekolah.


"Kakak kenapa wajahnya pucat..kakak sakit ?" tanya Felisha khawatir.


Bagas yang sedang mengemudi sengaja menepikan mobilnya di pinggir jalan untuk melihat kondisi Luna .


"Apa yang sakit Sayang..bilang sama Daddy " Bagas menyentuh punggung tangannya di kening Luna.


"Tidak demam " gumam Bagas.


"Mana yang sakit Sayang ?" tanya Felisha lagi


"Perut aku yang sakit Mom " jawab Luna sambil memegang perut bagian bawahnya.


"Kakak tadi jajan apa di sekolah ?" tanya Bagas khawatir.


"Tidak Dad..aku tidak jajan apa-apa " jawab Luna.


"Tapi Mom pada saat aku ke kamar mandi dicelana aku ada darahnya " ujar Luna mulai terisak.


"Ya ampuun kakak " Felisha memeluk Luna sambil tersenyum.Begitu juga dengan Bagas.


"Itu tandanya kakak sudah baligh Sayang... kakak tidak usah menangis " Felisha pindah ke kursi belakang dan memeluk putri kecilnya yang hari ini sudah menjadi seorang gadis.


"Aku takut mom " Luna menyusupkan wajahnya didada Felisha sambil terus terisak.


"Tidak usah takut semua wanita pasti akan mengalaminya, teman-teman kakak juga mungkin sebagian sudah...nanti Mommy ajarin cara pakai pembalut " bisik Felisha.


"Daddy sudah punya anak gadis sekarang " ujar Bagas sambil tersenyum dan mulai kembali menjalankan mobilnya melanjutkan perjalanan.


"Sayang nanti mampir dulu di apotik ya..aku mau membeli pembalut untuk Luna " ujar Felisha dari kursi belakang.


"Siap Boss " jawab Bagas sambil mengangguk hormat kepada Felisha.


"Daddy seperti sopir Mommy saja " Luna yang masih terisak akhirnya tertawa melihat tingkah Daddy nya.


"Nah gitu dong senyum..kan cantik " puji Bagas membuat Luna tersipu.


Tidak lama kemudian Bagas menepikan mobilnya di apotik yang kebetulan mereka lewati.


Felisha turun dari mobil kemudian masuk ke apotik untuk membeli pembalut untuk Luna.


"Apakah rasanya sakit sekali Sayang ?" tanya Bagas ketika mereka hanya berdua di dalam mobil.


"Iya Dad..rasanya seperti di remas-remas " jawab Luna.


"Mommy pasti tau obat untuk meredakan sakitnya " ujar Bagas


"Iya Dad " jawab Luna lirih.


Tidak lama kemudian Felisha datang dengan membawa satu kantung plastik berisi pembalut untuk Luna.


"Biasanya datang bulan itu berapa hari Mom ?" tanya Luna.

__ADS_1


"Biasanya antara 3 hari sampai satu Minggu Kak " jawab Felisha.


Sepanjang perjalanan Felisha memberi pengertian dan penjelasan mengenai seputar datang bulan termasuk cara merawat dan membersihkan organ kewanitaan, sementara Bagas hanya jadi pendengar setia sambil fokus mengemudi.


"Kalian ngobrol berdua saja.. Daddy tidak mengerti " gumam Bagas yang langsung disambut senyuman dari Felisha dan Luna.


Setelah sampai rumah, Felisha langsung mengikuti Luna ke kamarnya untuk mengajari cara memakai pembalut yang benar.


"Iya Mom..kakak mengerti " ujar Luna kemudian beranjak ke kamar mandi untuk memakai pembalut pertama nya.


"Sekarang kakak istirahat.. Mommy balik ke kamar dulu ya " Felisha meninggalkan Luna dan kembali ke kamarnya.


"Abi tidur Yang ?" tanya Felisha ketika Bagas muncul di kamar mereka setelah memeriksa Abi yang sedang tertidur di kamarnya.


Diusia Abi yang menginjak enam tahun putra bungsu mereka memang sudah mendapat kamar sendiri.


"Iya sudah tidur " jawab Bagas.


"Bagaimana Luna ?" tanya Bagas


"Sudah aku ajarin cara pake pembalut nya sekarang aku suruh istirahat " jawab Felisha.


"Perasaan baru kemarin Luna Mas gendong-gendong..sekarang dia sudah besar dan tidak mau lagi mas gendong-gendong, Mas rasanya belum siap kehilangan momen-momen itu " gumam Bagas dengan wajah sedih.


"Luna kan sudah besar Mas.Kalau Luna sudah tidak mau Mas gendong..aku masih mau kok " Felisha merentangkan kedua tangannya kearah Bagas minta di gendong.


Bagas pun menyambut tangan Felisha dan menggendongnya. Felisha melingkarkan kedua kakinya dipinggang Bagas sedangkan kedua tangannya erat membelit leher Bagas.


Setelah berada dalam gendongan Bagas, bibir keduanya pun saling bertautan, saling mengunyah, sehingga menghasilkan suara decapan yang hanya terdengar di kamar itu.


"Mau digendong kemana lagi ?" tanya Bagas setelah mereka berputar-putar disekitar kamar.


"Kesana ! " Felisha menunjuk kearah ranjang sambil mengerling manja.


"Baiklah " Bagas pun menurunkan Felisha diatas kasur empuk mereka.


Meskipun tubuh Felisha sudah mendarat di kasur, namun Felisha tidak mau melepaskan tangan dan kakinya yang membelit pinggang dan leher Bagas.


"Mas kunci pintu dulu " bisik Bagas.


Felisha mengangguk dan baru melepaskan belitan tangan dan kakinya dari pinggang dan leher Bagas.


Setelah mengunci pintu kamarnya, Bagas pun kembali naik keatas ranjang dimana Felisha sedang berbaring menunggunya. Tanpa pikir panjang Bagas pun langsung naik keatas tubuh Felisha dan mengurung nya dibawah tubuhnya.


Siang itu Bagas pun mengeksekusi istri nakalnya. Mereka memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya disaat Luna dan Abimanyu sedang tidur siang.


Setelah mereka menyelesaikan pergulatan yang cukup melelahkan, Bagas dan Felisha pun akhirnya tertidur dengan saling berpelukan.


*


Keesokannya setelah sarapan Felisha bersiap-siap untuk mengantarkan Abimanyu ke sekolah, sedangkan Luna sudah mulai menggunakan jemputan untuk pergi ke sekolah nya.


Semalam Felisha sudah menyiapkan pembalut tambahan di tas Luna untuk jaga-jaga. Meski masih terlihat kurang nyaman namun Luna mulai terlihat tidak sepucat kemarin.


"Sudah enakan Sayang ?" tanya Bagas mereka sedang sarapan.


"Sudah Dad " jawab Luna


"Kakak sakit ?" tanya Abimanyu yang baru saja meminum susu coklatnya.


"Iya dek kemarin kakak sakit perut " jawab Luna


"Makanya kakak jangan jajan sembarangan di sekolah " nasehat Abimanyu yang langsung disambut senyuman Bagas dan Felisha juga Luna.


"Dad..aku kangen kakak Nakula dan Sadewa " ucap Abimanyu tiba-tiba.


"Bulan depan kita tengok kakak Nakula..tapi kalau kakak Sadewa belum bisa ditengok " jawab Bagas.


"Kenapa kakak Dewa belum bisa ditengok..kan kakak Dewa sekolahnya lebih dekat dengan rumah Mbah di Semarang ?" tanya Abi lagi


"Aturan dari sekolahnya memang begitu Sayang, jadi kita harus mengikuti " jawab Bagas sambil tersenyum.


"Nanti aku kalau sudah besar tidak mau seperti kakak Dewa..aku mau seperti Kakak Nakula saja biar bisa ditengok kapan pun " oceh Abi .

__ADS_1


"Iya Sayang " Bagas mengelus kepala putra bungsunya yang semakin terlihat mewarisi ketampanannya.


Luna yang sudah selesai sarapan pergi ke sekolah lebih dulu karena mobil jemputannya sudah datang.


Setelah Aluna pergi, Bagas pun pergi ke kantor bersamaan dengan Felisha yang juga pergi untuk mengantarkan Abimanyu ke sekolah dengan menggunakan mobil yang lain.


*


Sepulang sekolah Luna mengeluarkan beberapa batang coklat dari dalam tasnya dan mengumpulkannya dilaci meja belajarnya.


Hampir setiap hari Cindy teman sebangkunya memberikan sebatang coklat kepadanya, katanya titipan dari kakak kelasnya untuk Luna.


Melihat coklat-coklat didalam laci meja belajarnya membuat Luna jadi teringat kepada teman kedua kakaknya yaitu Kenzo.


Dulu Kenzo juga rajin memberinya coklat. Aluna tidak terlalu mengerti kenapa anak lelaki suka sekali memberinya coklat.


"Kakak.. coklatnya banyak sekali ?" tanya Abi yang tiba-tiba sudah ada dibelakangnya.


"Dikasih temen..kalau mau ambil saja " jawab Luna.


"Aku mau dua ya " Abi mengambil dua batang coklat dari laci meja kakaknya.


"Tidak.. satu saja..kalau terlalu banyak makan coklat nanti dimarahin Mommy "


"Baiklah " Abi pun akhirnya hanya mengambil satu batang coklat.


"Tapi besok boleh lagi ya " pinta Abi


"Boleh satu " jawab Luna sambil mengacungkan jari telunjuknya. Abimanyu pun mengangguk senang dan berlalu dari kamar Luna.


Namun tidak lama kemudian Abimanyu kembali masuk ke kamar Luna dengan Alyn dan


Aziel putranya Ezra dan Ajeng.


"Alyn dan Aziel kapan datang ?" Luna langsung memeluk kedua bocah sepupunya itu.


"Barusan " jawab Alyn.


"Kakak..aku juga mau coklat seperti Abi " pinta Aziel.


"Iya kakak kasih satu-satu " Luna mengambil dua batang coklat dan membaginya untuk Alyn dan Aziel


"Terimakasih kakak " kedua bocah itu mencium pipi Luna bergantian sebelum keluar dari kamar.Luna pun mengikuti ketiga bocah itu keluar kamar untuk menyapa kedua tantenya.


"Keponakan Tante yang cantik ini sudah semakin besar " Kinanti memeluk Luna penuh sayang.


Ia baru saja mendengar cerita dari Felisha jika Luna sudah mendapatkan tamu bulanan pertamanya.


"Sebentar lagi pasti punya pacar nih " Ajeng menggoda.


"Ya engga dong aunty..aku kan masih kecil " jawab Luna.


"Kata siapa masih kecil ?..orang sudah tinggi begini..sebentar lagi Mommy kamu kesusul tingginya " ujar Ajeng.


"Tapi aku belum mau mikirin pacaran " jawab Luna sambil menggelendot di bahu Felisha.


"Bener kak..jangan dulu mikirin pacaran..lebih baik fokus sekolah yang pinter biar sukses seperti Daddy " nasehat Kinanti.


"Siap Boss " jawab Luna sambil tersenyum.


"Ngomong-ngomong kalian dapat coklat darimana ?" Kinanti baru menyadari jika Abi, Alyn dan Aziel sedang anteng menikmati coklat ditangannya.


"Dikasih kakak Luna " jawab Alyn


"Iya Tan dikasih kak Luna.. kakak coklatnya banyak loh..katanya dikasih temannya " jawab Abi


Luna menunduk ketika tatapan Mommy dan kedua tantenya langsung tertuju padanya.


Mulai Bab ini Author mau mengajak readers tersayang berpetualang di dunia Aluna ya..


Semoga suka dan tetap dukung ya biar Author tambah semangat nulisnya


Happy reading 😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2