
Hari ini Bagas terpaksa tidak pergi ke kantor karena Luna sedang demam.Sejak bangun tidur suhu tubuh gadis mungil itu lebih tinggi dari biasanya.
Dari sejak bangun tidur juga Luna tidak mau turun dari gendongan Bagas.
"Kakak makan dulu ya mommy suapin " Felisha membujuk Luna agar mau makan bubur yang sengaja ia buat.
"Tidak mau mommy..pahit " Luna menolak.Ia menyembunyikan wajahnya didada Bagas.
"Kakak makan dulu sayang,terus minum obat biar cepat sembuh " Bagas ikut membujuk
"Tidak mau Daddy " Luna menutup mulutnya rapat-rapat.
"Kalau kakak tidak mau makan nanti Daddy pergi ke kantor nih " ancam Bagas.
"Jangaaan.. Daddy jangan pergi " Luna pun menangis kencang.
"Baik.. Daddy tidak akan pergi asal kakak mau makan dan minum obat " Bagas mengajukan syarat.
"I..iya..kakak mau makan..hiks..hiks..tapi disuapin Daddy " pinta Luna diantara tangisnya.
"Iya Daddy suapin " Bagas pun mengambil mangkuk bubur dari tangan Felisha.
Suap demi suap bubur pun berhasil masuk ke mulut mungil Luna.
"Aku yang mengandung..aku yang melahirkan sekarang nurutnya sama kamu mas " gumam Felisha dengan wajah sedih.
"Kamu kalah pamor dari mas sayang " bisik Bagas sambil tersenyum penuh kemenangan.Wajah Felisha pun langsung cemberut.
Dengan segala bujuk rayu akhirnya Bagas berhasil memaksa Luna menghabiskan buburnya.
"Sekarang kakak minum obatnya ya " bujuk Felisha.Luna pun mengangguk.Gadis kecil itu akhirnya mau menelan Syrup obat demamnya.
"Kesayangan Daddy pinter " Bagas memberi hadiah satu kecupan dikening Luna.
Setelah minum obat,Luna pun tertidur dalam gendongan Bagas.
Perlahan Bagas menurunkan Luna diatas ranjangnya.
"Demamnya sudah reda " ujar Bagas lega ketika tangannya menyentuh kening Luna yang mulai berkeringat.
"Mas Bagas pake guna-guna ya bisa bikin Luna nurut banget sama kamu " tuduh Felisha
"Ngaco kamu..aku menaklukkan kamu dan Luna itu pakai cinta bukan guna-guna " jawab Bagas sambil mencubit ujung hidung Felisha.
"Oh gitu " ujar Felisha sambil mengusap ujung hidungnya yang merah karena ulah suaminya.
Baru saja Bagas menurunkan Luna,kini baby Abimanyu mulai merengek dalam gendongan Felisha.
"Dedek Abi kenapa lagi ini menangis..mau digendong juga ya sama Daddy ?" Bagas mendekatkan wajahnya kearah Abimanyu.
Bayi mungil itu langsung terdiam ketika Bagas mengambilnya dari tangan Felisha.
"Dedek Abi tidak mau kalah sama kakak Luna ya..mau digendong Daddy juga " Bagas pun menimang putranya yang masih berusia dua minggu itu.
Felisha hanya duduk ditepi ranjang sambil memperhatikan Bagas yang sedang menimang putra mereka sambil berceloteh.
Sesekali Bagas melirik kearah Felisha sambil tersenyum.Bagas tau jika Felisha diam-diam sedang memperhatikan dirinya yang sedang menimang bayi mereka.
"Kenapa..kamu mau mas gendong juga seperti Luna dan Abi ?" tanya Bagas menggoda.
"Tidak " jawab Felisha.
"Lalu kenapa kamu menatap mas seperti itu ?" tanya Bagas.
"Masa menatap suami sendiri saja tidak boleh" Felisha balik bertanya.
"Tentu boleh dong..lebih dari itu juga boleh tapi nanti setelah usia Abi 40 hari " jawab Bagas
"Apaan sih.. mikirnya kesana terus " cibir Felisha
__ADS_1
"Ya pasti lah..itu adalah multivitamin sayang " jawab Bagas sambil tertawa.
"Dasar otak mesum " cibir Felisha lagi.
Tidak lama kemudian Bagas pun berhasil menidurkan Abimanyu dalam gendongannya.
"Kalau anak-anak tidur semua harus mas yang kelonin repot juga ya " gumam Felisha sambil membetulkan letak tidur Abimanyu didalam box bayinya.
"Tidak apa-apa direpotkan sama anak sendiri, lagian yang manja di rumah ini hanya Luna sama Abi juga mommy nya saja..kalau kakaknya sudah pada besar " jawab Bagas sambil menatap wajah putranya yang sedang terlelap dengan penuh kekaguman.
Felisha mendengus ketika Bagas memasukan dirinya kedalam daftar anggota keluarga yang manja di rumah mereka.
Setelah menidurkan kedua buah hatinya,Bagas bersantai sejenak sambil menikmati secangkir kopi yang Felisha buatkan.
Baru separuh kopi yang sempat Bagas minum, Ia harus kembali menyingsingkan lengan bajunya ketika si kembar yang baru pulang sekolah mengatakan jika mereka membutuhkan sepatu futsal untuk dipakai besok.
"Harus beli sekarang ya ?" tanya Bagas
"Iya dad " jawab si kembar.
"Ya sudah kita beli sekarang mumpung Luna sedang tidur " Bagas beranjak ke kamarnya untuk mengambil dompet dan kunci mobil.
"Mau kemana mas ?" tanya Felisha
"Ngantar Nakula sama Sadewa mau beli sepatu futsal buat dipakai besok " jawab Bagas.
"Ooh iya " ujar Felisha
Karena khawatir Luna keburu bangun,Bagas dan si kembar pergi dengan sedikit tergesa menuju ke sebuah toko yang menjual baju dan perlengkapan olahraga lengkap.
Disana Bagas dengan sabar menunggu kedua putranya memilih sepatu futsal yang mereka inginkan.
"Sejak kapan kalian menyukai futsal ?" tanya Bagas setelah kedua putranya mendapatkan sepatu yang mereka inginkan.
"Sejak om Dio sering mengajak kami bermain Futsal bersama teman-temannya dad " jawab Nakula.
"Tidak ada dad " jawab Sadewa
"Kalau begitu kita pulang sekarang, Daddy takut Luna menangis mencari Daddy..kalian tau sendiri anak itu sangat manja " ujar Bagas sambil tersenyum.
"Iya dad..kasian mommy kalau sampai Luna menangis mencari Daddy " jawab Nakula.
"Iya " jawab Bagas.
Direngkuhnya bahu kedua putranya dikanan dan kirinya.Ia bangga kepada kedua putra tampannya yang begitu peduli kepada ibu dan adik mereka.
Sesampainya di rumah Bagas mendapati Luna sedang menangis dalam gendongan Felisha.
"Tuh Daddy sama kakak pulang " Felisha terlihat lega dengan kepulangan Bagas dan si kembar.
"Daddy..kenapa pergi .. hikshiks ?" tanya Luna sambil terisak begitu tubuhnya berpindah kedalam gendongan Bagas
"Daddy habis mengantar kakak beli sepatu sayang " jawab Bagas.
"Kenapa aku ditinggal ?" tanya Luna lagi masih terisak.
"Kakak kan sedang tidur " jawab Bagas sambil mengusap pipi Luna yang basah dengan air mata.
Tangis Luna berhenti ketika Nakula dan Sadewa mendekat dan mencium kedua pipi bulatnya bergantian.
"Cepet sembuh ya dek..biar bisa main lagi sama kakak " ucap si kembar.Luna mengangguk.
Bagas tersenyum penuh haru melihat anak-anak begitu saling menyayangi.
"Sudah beli sepatunya" tanya Felisha
"Sudah mom..dedek Abi mana ?"
"Dikamar lagi tidur " jawab Felisha
__ADS_1
Nakula dan Sadewa beranjak ke kamar bayi untuk melihat adik mereka yang sedang tidur.
"Jangan berisik kak..nanti dedeknya bangun " ujar Felisha
"Iya mom " jawab si kembar
Dikamar bayi si kembar mengelilingi box bayi untuk melihat Abimanyu yang sedang terlelap.
"Lucu banget ya..Lo berani ga gendong bayi sekecil ini ?" tanya Nakula
"Ga berani gue..ngeri takut jatuh " jawab Sadewa menatap kagum pada adiknya.
"Sama gue juga belum berani " gumam Nakula sambil mengusap pipi adiknya dengan lembut.
"Jangan pegang-pegang..nanti dedek Abi bangun " Sadewa mengingatkan saudara kembarnya.
"Ga akan bangun..orang cuma gue elus " jawab Nakula.
"Kalian lagi ngapain ?" tanya Bagas yang baru masuk ke kamar sambil menggendong Luna.
"Liatin dedek Abi tidur dad..lucu " jawab Nakula.
"Aku juga mau lihat dedek Abi " Luna turun dari gendongan Bagas dan menggelendot pada kedua kakaknya disisi box Abimanyu.
Bagas duduk di kursi memperhatikan ketiga buah hatinya yang sedang mengawasi si bungsu yang tengah tertidur lelap.
Karena lelah akhirnya Bagas tertidur dengan bersandar di sandaran kursi.Melihat Daddy nya tertidur,si kembar dan Luna pun memberi tau Felisha.
"Mom.. Daddy tidur di kursi " Luna menarik-narik tangan Felisha untuk melihat Bagas yang tertidur di kursi.
"Ssst...jangan berisik kasian Daddy nya ngantuk " Felisha meletakan satu telunjuk dibibir nya.
"Iya mom " jawab si kembar kemudian membawa Luna ke ruang keluarga untuk menonton film kartun kesukaan Luna.
Luna yang sudah tidak demam tampak terkikik menonton Film kartun kesukaan nya.Ia begitu anteng dengan Nakula dan Sadewa,ia sama sekali tidak mengganggu Daddy nya yang tengah tertidur di sofa kamar Abimanyu.
Bagas baru terbangun ketika ia mendengar suara Abimanyu yang menangis karena popoknya basah.
"Daddy nya jadi kebangun tuh denger suara Abi menangis " ucap Felisha sambil mengganti popok Abimanyu yang basah.
"Mas ketiduran " ujar Bagas sambil duduk di sofa.
"Capek ya Sayang " Setelah menyerahkan Abimanyu kepada mbak Mia, Felisha pun duduk disamping Bagas.
"Ternyata ngurus anak itu sangat berat..mas bangga sama kamu bisa mengurus anak-anak dengan baik " ujar Bagas sambil memeluk pinggang Felisha.
"Selama ini Nakula dan Sadewa tumbuh dengan baik ditangan kamu.Mereka tumbuh menjadi anak yang bisa dibanggakan berkat didikan kamu " gumam Bagas.
"Ya sudah menjadi kewajiban aku untuk mendidik anak-anak..aku kan ibunya " jawab Felisha.
"Ya benar..kamu ibu mereka..ibu dan istri terbaik " jawab Bagas.
"Mas Bagas juga sekarang adalah Daddy dan suami terbaik untuk Luna dan aku " balas Felisha.
"Kalau dulu ?" tanya Bagas.
"Dulu kamu adalah suami yang durhaka,masih untung kamu tidak aku kasih racun sehingga kamu masih bisa mencetak Bagas Junior sekarang ini " jawab Felisha
"Serius kamu dulu ingin meracuni mas ?" tanya Bagas ngeri.
"Nyaris..tapi kalau mas Bagas seperti dulu lagi aku pastikan aku akan benar-benar melakukannya " jawab Felisha.
"Sadis kamu Yang " ujar Bagas.
"Makanya jangan macam-macam " ancam Felisha.
"Mas Sekarang tidak ingin macam-macam..mas hanya ingin satu macam saja.Tapi sayang baru boleh nanti kalau dedek Abi sudah 40 hari " bisik Bagas dengan wajah lesu.
"Dasar otak mesum " cibir Felisha sambil mencubit pipi Bagas gemas.
__ADS_1