Om Buah Hatiku

Om Buah Hatiku
Bagas Family


__ADS_3

Sepulang dari berdinas Sadewa disambut wajah cemberut Cindy.


"Kenapa suami pulang disambut wajah asem begini ?" tanya Sadewa sambil mencomot bibir Cindy.


"Aku ingin pulang ke Jakarta..kangen makan masakan Mommy " jawab Cindy.


"Baiklah..besok kita pulang ke Jakarta " jawab Sadewa sambil mengelus perut Cindy yang mulai terlihat buncit.


"Aku tidak mau besok..maunya sekarang " Cindy merengek kepada Sadewa.


"Ini sudah malam Sayang lebih baik kamu tidur.. istirahat besok pagi baru kita pergi ke Jakarta " Sadewa berusaha membujuk Cindy.


Meskipun kecewa namun Cindy tidak berani membantah ucapan Sadewa. Ia pun tidur dengan membelakangi Sadewa.


"Jangan marah dong..mau anak kita nantinya jadi pemarah " Sadewa memeluk Cindy dari belakang dan tangannya mengusap-usap perut Cindy lembut.


"Jangan elus-elus..malam ini dedek marah sama kamu..jadi jangan coba-coba ingin jenguk " Cindy menepiskan tangan Sadewa dari perutnya.


"Baiklah " jawab Sadewa pasrah.


Sebetulnya Sadewa bukan tidak mau pergi ke Jakarta sekarang, namun ia sangat khawatir akan kondisi kehamilan Cindy. Sadewa tidak mau Cindy terlalu lelah apalagi selama ini ia harus kuliah dalam keadaan hamil.


Karena Cindy menolak ia sentuh akhirnya Sadewa pun tidur tanpa menyentuh Cindy sama sekali.


Udara malam yang dingin ditambah hujan yang cukup deras dengan disertai petir membuat Sadewa cepat tertidur.


Berbeda dengan Cindy yang diam-diam bersembunyi dibalik selimutnya karena takut mendengar suara petir.


"Sayaaang..aku takut " Cindy merapatkan tubuhnya memeluk punggung Sadewa.


Sadewa yang sebenarnya sudah terbangun karena mendengar suara petir diam-diam tersenyum ketika Cindy yang tadi tidak mau disentuh tiba-tiba memeluk punggungnya.


"Kakaaak takut " Cindy terpekik ketika lagi-lagi suara petir terdengar kencang.


Sadewa yang merasa iba akhirnya membalikan tubuhnya dan memeluk Cindy yang sedang ketakutan.


"Makanya jangan sok-sok an tidak mau disentuh suami " ujar Sadewa sambil mengusap punggung Cindy yang gemetaran.


Cindy tidak peduli Sadewa bicara apa yang terpenting sekarang adalah ia merasa nyaman dalam pelukan suaminya.


"Coba kamu bayangin kalau tadi kita ke Jakarta dalam keadaan cuaca seperti ini "


"Sudah ah jangan dibahas lagi " omel Cindy dari dalam pelukan Sadewa.


Sadewa terkekeh sambil terus mengusap punggung Cindy. Setelah menikah dan mengandung Sadewa tidak lagi melihat Cindy yang selalu ketakutan jika berbicara dengannya. Yang ada kini adalah Cindy yang cerewet dan sering ngomel-ngomel.


Namun meskipun begitu malah semakin membuat Sadewa begitu mencintai sahabat adiknya itu.


"Sekarang tidur..besok pagi kita ke Jakarta " Sadewa menarik selimut menutupi tubuh keduanya.


"Iya " jawab Cindy patuh.


Keesokannya pagi-pagi Sadewa dan Cindy pun berangkat ke Jakarta.Di mobil mereka penuh dengan oleh-oleh makanan khas Bandung untuk dibagikan kepada seluruh keluarga.


Sadewa melirik Cindy yang tampak sangat ceria karena akan bertemu dengan orang-orang tersayang nya.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan mulut Cindy tidak berhenti mengunyah cemilan yang sengaja ia bawa dari rumah.


"Yang sehat ya diperut bunda " Sadewa mengusap perut buncit Cindy dengan tangan kirinya.


"Iya Ayah " jawab Cindy menirukan suara anak kecil. Sadewa tertawa sambil kembali fokus mengemudi.


Jam 9 pagi mobil Sadewa mulai memasuki halaman rumah Bagas. Di halaman tampak Kenzo sedang bermain basket dengan Abimanyu


Begitu turun Sadewa pun langsung ikut bermain bersama Kenzo dan Abimanyu.


"Aih perut Lo udah makin buncit saja " Luna mengusap-usap perut buncit Cindy.


"Sehat kak ?" Felisha memeluk Cindy dan ikut mengusap perutnya.


"Sehat Mom..lagi pengen makan terus makanya berat badan udah naik 5 kg " jawab Cindy.


"Bagus lah..biar bayi di perutnya juga sehat " ujar Felisha.


"Kak Zhifana dan kak Nakula tidak kesini ?" tanya Cindy.


"Tidak..dedek bayinya sedang demam habis imunisasi " jawab Felisha.


"Kapan datang kak ?" Bagas yang baru keluar dari kamar sambil menuntun Alysha menyapa Cindy.


"Baru datang Dad " jawab Cindy sambil mencium tangan Bagas.


"Dedek Alysha..kakak kangen " Cindy hendak menggendong Alysha namun dilarang oleh Felisha.


"Jangan digendong berat " ujar Felisha.


Karena dilarang menggendong akhirnya Cindy pun menciumi wajah Alysha dengan gemas.


"Sudah dong " jawab Luna.


"Serius ?" Cindy langsung melotot.


"Serius..pagi ini sudah isi roti isi, cake keju sama susu coklat " jawab Luna.


"Kamu itu..aku tanya serius jawabannya ngawur " Cindy langsung cemberut.


"Tapi kamu tidak KB kan ?" tanya Cindy.


"Ya tidak lah..orang kakak Ken sudah ngebet pengen punya momongan " jawab Luna.


Obrolan kedua wanita seumuran itu terhenti ketika Kenzo dan Sadewa yang sudah selesai main menghampiri mereka.


"Kamu sehat ?" Kenzo menyapa adik sepupunya.


"Sehat dong kak..lihat saja udah gendut begini " jawab Cindy sambil menunjuk pada perut buncitnya.


"Ini sih akibat kebanyakan begadang berdua " ledek Kenzo.


"Emmm..gw yakin sekarang kalian juga hobi begadang..tuh buktinya leher adik gw pada belang begitu " sindir Sadewa.


Kenzo hanya nyengir sambil melirik kearah leher putih Luna yang terdapat beberapa kissmark hasil karyanya. Sementara Luna sendiri tampak tersipu malu.

__ADS_1


Karena merasa tubuhnya lengket oleh peluh, Kenzo mengajak Luna pulang dulu untuk mandi. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan pulang ke rumah nya di sebrang.


"Dasar manja banget si Ken..mau mandi saja minta ditemenin Luna " cibir Sadewa.


"Ya wajar dong kak..orang mereka sudah suami istri, bukannya kakak juga suka begitu ?" tanya Cindy sambil melirik kearah Sadewa.. Sadewa hanya nyengir tidak bisa mungkir.


Sesampainya di rumah Kenzo langsung minta ditemani mandi. Sebagai istri yang baik tentu saja Luna harus selalu siap kapanpun suaminya membutuhkan nya.


Kenzo dan Luna hampir satu jam berada di kamar mandi. Kenzo belum mau melepaskan Luna sebelum wanita muda itu ia buat menggelepar dibawah tubuhnya.


Luna dan Kenzo yang baru selesai mandi bersama buru-buru keluar dari kamar ketika Cindy datang dengan membawa oleh-oleh dari Bandung.


"Pantas ga balik-balik ke rumah taunya langsung mabar ya " Cindy meletakan satu kotak brownis kukus dan klappertaart di meja makan.


"Apaan Mabar ? " tanya Kenzo.


"Mandi bareng kak " jawab Cindy.


"Tau saja kamu " Kenzo yang baru mengerti akhirnya tertawa.


"Ya tau dong..orang rambut kalian pada basah " jawab Cindy sambil menunjuk rambut Luna dan Kenzo.


Daripada meladeni ocehan Cindy Luna pun memilih mengisi piring dengan kue yang dibawa oleh Cindy dan diletakan di dekat cangkir kopi milik Kenzo yang baru saja ia buat. Untuk Cindy Luna membuatkan satu gelas coklat hangat.


"Kamu tuh kalau pergi bilang-bilang bisa tidak ?" omel Sadewa yang tiba-tiba datang sambil menggendong Alysha.


"Aku cuma mau nganterin ini " Cindy menunjuk kue di meja.


"Iya tapi seharusnya bilang " pungkas Sadewa.


"Iya maaf..dasar cerewet " meski minta maaf namun diakhiri dengan umpatan.


"Bukan cerewet..tapi memang seharusnya begitu " ucap Sadewa tegas sambil menyerahkan Alysha kepada Kenzo karena tangan mungil adiknya itu terentang kearah Kenzo ingin di gendong.


Luna dan Kenzo hanya saling lirik sambil menyuapi Alysha brownies kukus dari Cindy.


"Kakak mau kopi ?" tanya Luna kepada Sadewa.


"Mau " jawab Sadewa sambil duduk disebelah Cindy yang sedang cemberut.


Luna pun beranjak membuatkan kopi untuk kakaknya, tidak lama kemudian secangkir kopi panas yang wangi pun Luna letakan dimeja di depan Sadewa.


Sambil menyesap kopinya Sadewa menceritakan tentang rencana kepindahan mereka dari rumah yang selama ini mereka tempati.


"Kenapa pindah kak ?" tanya Luna


"Karena rumah itu adalah rumah kamu dek..rumah peninggalan Papa kamu " jawab Sadewa.


Sadewa dan Cindy sudah membahasnya setelah mengetahui jika rumah itu adalah peninggalan Papa Luna meskipun Bagas sudah merenovasinya sehingga menjadi lebih besar.


"Jangan pindah kak..memang rumah itu peninggalan Papa..tapi Papa aku berarti Papa kakak juga " jawab Luna.


"Iya..lagian kita tidak mungkin tinggal disana..jadi sayang kalau tidak ditempati " tambah Kenzo.


"Baiklah " jawab Sadewa akhirnya sambil mengacak rambut Luna penuh sayang.

__ADS_1


Mereka kembali ke rumah Bagas setelah Abimanyu menyusul mereka untuk makan siang bersama.


Diluar dugaan sebelum makan siang dimulai Nakula dan Zhifana datang bersama bayi mereka membuat suasana rumah Bagas menjadi semakin hangat.


__ADS_2