
“Pak Azman, terima kasih atas bantuan anda ini, saya pun tidak tahu harus bagaimana membalas kebaikan anda terhadap kami semua ini.” Ucap Pak Ridho bersamaan dengan datangnya dua orang anggota Tim Sar perempuan yang membawakan kopi untuk mereka semua dan keduanya pun langsung meletakkannya di atas meja lalu kembali meninggalkan tenda komando itu.
“Saya sangat bangga dengan Pak Eman itu Pak, dia sedang memiliki masalah yang berat namun dia tetap berusaha untuk menjadi penolong, dia melupakan beban pribadinya dan ikut dalam hal sosial ini, kalian ini benar benar pahlawan masa kini.” Ucap Azman.
“Pak Azman ini bisa saja, sudah - sudah ayo kita nikmati dulu kopi kita dan beristirahat, sepertinya langit sudah mulai cerah dan malam ini kita beristirahat dengan tenang.” Ucap Pak Jaja.
“Pak Jaja benar malam ini kita harus beristirahat dan besok pagi izinkan saya dulu yang lokasi bencana ya, saya akan kesana selesai kita sarapan dan saya akan melihat apakah saya bisa mengetahui lokasi dari jenazah - jenazah itu atau tidak.” Ucap Azman.
“Pak Azman apakah anda memerlukan lagi penanda seperti waktu itu.” Ucap Pak Jaja.
“Jika ada boleh Pak, tapi besok pagi saja disiapkannya, siapa tahu saya memang bisa, jadi evakuasi bisa berjalan lebih cepat.” Ucap Azman.
“Baik Pak Azman, dan sejujurnya saya sangat berharap Bapak bisa melakukannya lagi.” Ucap Pak Jaja.
“Kita kan hanya bisa berencana Pak karena semua keputusan akan ada pada Yang Maha Kuasa, semoga besok kita diberikan kemudahan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan tidak ada lagi kendala, Aamiin Ya Rabbal Alamin.” Ucap Azman.
“Aamiin Ya Rabbal Alamin” Ucap semuanya dengan kompak.
__ADS_1
“Oh iya, saya ingin tahu satu hal, kenapa di atas sana bisa ada perkampungan ya, sedangkan ini kan kawasan milik perhutani.” Ucap Azman lagi.
“Jadi jika informasi dari Perhutani, mereka itu sudah ada di sana sejak puluhan tahun lalu dan mereka memang menutup diri dari dunia luar, data jumlah penduduk di desa itu didapatkan dari hasil sensus yang dilakukan beberapa tahun lalu Pak.” Ucap Pak Ridho.
“Jadi demikian dan apakah ada hal lain yang belum saya ketahui tentang para penduduk itu.” Ucap Azman yang merasa masih ada yang di sembunyikan darinya.
“Pak Azman ini sebenarnya hanya cerita rakyat luar desa saja, yang mengatakan jika desa yang longsor merupakan desa para dukun.” Ucap Pak Ridho yang hanya memberikan setengah informasi saja.
“Pak Ridho ini berkaitan dengan kesuksesan kita besok dan ini juga berkaitan dengan nyawa dari semua anggota Tim Sar yang terlibat jadi saya harap anda tidak menutupi apapun dari saya, saya tidak ingin jika besok ada masalah yang timbul akibat ulah makhluk gaib loh ya.” Ucap Azman.
“Jadi mereka terkena Azab dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, tapi mereka juga berhak untuk mendapatkan pemakaman yang layak, baiklah saya besok akan melihatnya lebih dulu dan kalian jangan ada yang mendekatiku ya, ada hal yang saya takutkan yaitu makhluk - makhluk gaib yang tidak ingin terganggu dengan kehadiran kita semua.” Ucap Azman.
“Pak Azman apakah maksud anda makhluk - makhluk gaib itu menolak jenazah itu kita evakuasi?.” Tanya Pak Jaja.
“Benar Pak, itu yang saya takutkan, saya tidak ingin praduga saya ini terjadi karena jika memang mereka adalah pelaku kontrak dengan makhluk gaib maka makhluk gaib itu biasanya menginginkan jenazah mereka dan ini akan menyulitkan kita semua mengambilnya, dan jika seandainya saya pun tidak bisa maka mau tidak mau kita harus membiarkan semua jenazah itu tetap disana saja Pak, lalu menutup area desa selamanya agar tidak dikunjungi oleh siapapun bekerja sama dengan pihak perhutani tentunya.” Jawab Azman.
“Pak Azman, apakah longsor ini disebabkan oleh makhluk makhluk gaib itu juga?.” Tanya Pak Jaja lagi.
__ADS_1
“Saya tidak mau berspekulasi dulu Pak, namun inilah Azab yang kuasa, dimana seluruh penduduk disana berbuat kejahatan, besok kita akan mengetahui yang sebenar benarnya bukan jadi malam ini sebaiknya kita beristirahat saja, insya allah tidak akan gangguan dari makhluk gaib apapun malam ini, tapi saya mohon tidak ada yang keluar dari area ini ya Pak, terutama pihak media agar di jaga benar benar, saya tidak mau jika mereka rasa ingin tahunya berlebihan dan mendatangi lokasi longsor itu malam ini atau besok pagi sebelum saya mengeceknya.” Ucap Azman.
“Baik Pak Azman, saya akan memastikan itu dan semoga saja mereka mau menuruti perkataan ku, Komandan saya mohon izin sebentar untuk menyampaikan hal ini ke pihak media dan kalian berdua sampaikan juga melalui radio komunikasi agar tidak ada anggota Tim Sar atau pun relawan yang ke lokasi bencana tanpa seizin ku.” Ucap Pak Ridho sambil berdiri.
“Siap Komandan.” Ucap kedua orang anggota Tim Sar yang bertugas menjadi operator radio komunikasi itu kompak.
“Ya kau aturlah dan jangan sampai mereka menambah kerjaan kita di saat kita beristirahat.” Ucap Pak Jaja.
“Siap Komandan.” Ucap Pak Ridho yang langsung berjalan meninggalkan Tenda Komando itu.
“Pak Azman, saya jadi ingat momen dimana anda masuk rumah sakit, dan apakah kejadian itu bisa terulang lagi disini, dimana ada makhluk makhluk gaib yang menyerang kita.” Ucap Pak Jaja.
Pak Jaja, saya tidak tahu hal ini Pak, karena biar bagaimanapun juga kan ini belum terjadi dan saya kan tidak bisa melihat apa yang akan terjadi, kemampuan saya hanya melihat makhluk supranatural saja dan sejak kita datang saya tidak melihatnya, jadi semoga saja kejadian seperti dulu tidak terulang ya Pak.” Ucap Azman yang lagi lagi menyalakan sebatang rokoknya setelah yang dia hisap habis.
“Semoga saja malam ini dan besok tidak ada kendala apapun, saya benar benar tidak ingin ada masalah berat yang membuat anda sampai masuk rumah sakit lagi.” Ucap Pak Jaja.
“Iya Pak, itu cukup satu kali, dan itu kan proses saya belajar Pak, sudahlah tidak perlu dibahas lagi dan sebaiknya kita beristirahat saja dulu Pak, agar besok kita dalam keadaan yang prima.” Ucap Azman.
__ADS_1