
"Silahkan Pak Azman, Pak Umar tolong sampaikan ke anak anak di luar agar tidak ada yang mengganggu Pak Azman dan tolong pindahkan Motor Pak Azman ke samping Tenda saja, jadi apabila Pak Azman ingin melanjutkan perjalanannya bisa langsung tanpa terganggu oleh media" ucap Pak Jaja dengan sangat ramah.
"Siap Ndan, Maaf Pak Azman saya pinjam sebentar kunci motornya" ucap Pak Umar dengan sangat sopan.
"Terima kasih ya Pak, maaf jika saya jadi merepotkan bapak, ini kunci motor saya nya" ucap Azman sambil memberikan kunci motornya ke Pak Umar.
"Tidak pak tidak merepotkan karena saya juga ingin mencoba motor Bapak" ucap Pak Jaja dengan sangat sopan sambil menerima kunci motor Azman lalu berdiri dan keluar dari dalam tenda itu.
"Pak Azman rencananya akan kemana Pak?" Tanya Pak Jaja dengan sangat sopan.
"Belum tahu pak, seperti saat saya ke sini saja di luar perkiraan saya, saya kesini karena panggilan yang tidak bisa saya utarakan ke bapak" ucap Azman dengan sangat ramah.
"Saya bisa menebak maksud perkataan bapak, dan saya sangat berbahagia atas kedatangan bapak" ucap Pak Jaja dengan sangat sopan sambil meminum sedikit kopinya.
"Ini semua takdir Yang Maha Kuasa Pak, dan maaf mengenai biaya untuk pemasangan himbauan itu kira kira berapa ya pak, biar saya transferkan" ucap Azman dengan sangat ramah.
"Oh iya mengenai itu, saya baru menggunakan uang bapak sebesar sepuluh juta rupiah jadi masih ada di saya sepuluh juta rupiah lagi, saya kirimkan ulang ya pak, soal himbauan itu tidak perlu pak, biar nanti saya sendiri saya yang mengurusnya" ucap Pak Jaja sambil mengambil ponselnya dari saku celananya.
"Tidak perlu di kembalikan Pak, suatu hari nanti jika Tim SAR melakukan penyelamatan maka dana itu bisa di gunakan, atau bisa juga bapak gunakan untuk kepentingan pemasangan himbauan itu saja" ucap Azman dengan sangat ramah.
"Anda memang berhati mulia, baiklah saya akan menyimpan terus dana ini untuk kepentingan penyelamatan di masa yang akan datang, dan insyaallah saya akan menjaga amanah dari Pak Azman" ucap Pak Jaja dengan sangat sopan.
__ADS_1
"Sebenarnya di panggil Pak oleh bapak itu agak agak gimana gitu pak, saya ini masih seumur anak bapak loh, jadi lebih baik bapak memanggil nama saja ke saya" ucap Azman dengan sangat ramah.
"Pak Azman, saya memanggil anda dengan bapak karena saya menilai anda sebagai sosok yang patut saya kagumi bukan karena hal lain, jujur saya sudah keliling indonesia dan juga beberapa negara tetangga juga, tapi saya baru menemukan sosok yang pantas saya kagumi ada pada diri anda, yang sangat ringan tangan dan senang membantu orang lain tanpa menggunakan alasan apapun" ucap Pak Jaja dengan sangat sopan.
"Bapak terlalu meninggikan saya pak, saya melakukan hal ini karena saya ingin menebus atas dosa dosa saya yang tidak saya sadari pak, jadi bukan tanpa alasan" ucap Azman sambil tersenyum hangat ke Pak Jaja.
"Itulah kenapa saya sampaikan jika anda adalah sosok yang pantas di kagumi" ucap Pak Jaja.
"Iya Pak Terima kasih" ucap Azman dengan sangat ramah.
"Pak Azman maaf boleh saya meminta nomor telepon anda" ucap Pak Jaja dengan sangat sopan.
"Tentu saja boleh Pak, namun harap maklum ya jika saya akan susah di hubungi, nomor saya di 085. …. …." Ucap Azman dengan sangat ramah.
"Oh iya pak, sudah masuk dan saya akan menyimpannya" ucap Azman sambil menyimpan nomor telepon pak Jaja tersebut.
"Pak Azman maaf saya mau bertanya untuk pegangan saya saja, dzikir apa terbaik untuk memproteksi diri kita dari gangguan makhluk goib" ucap Pak Jaja dengan sangat ramah.
"Semua dzikir itu bagus Pak, namun jika pendapat saya pribadi maka Syahadat dan istighfar Pak, karena dengan bersyahadat kita di lindungi oleh Allah SWT dan dengan istighfar maka kita memohon ampuanan atas dosa dosa kita terdahulu baik yang di sengaja maupun yang tidak di sengaja" ucap Azman dengan sangat ramah.
"Saat Pak Azman tadi bertemu dengan begitu banyaknya makhluk makhluk goib seperti itu apa yang bapak rasakan" ucap Pak Jaja dengan tetap sopan.
__ADS_1
"Sama seperti bapak mungkin, takut, gelisah dan juga marah" ucap Azman sambil tersenyum ramah.
"Marah" ucap Pak Jaja yang terlihat bingung.
"Iya Pak, marah karena mereka sampai masuk ke tubuh manusia padahal sebelumnya kami sudah memiliki perjanjian agar mereka tidak menampakkan diri ke manusia dan tidak masuk ke tubuh manusia, tapi karena mereka juga dulunya manusia yang nakal ya jadi arwah gentayangan pun masih nakal" ucap Azman dengan ramah.
"Lalu bagaimana bapak bisa melawan rasa takut dan gelisah nya" ucap Pak Jaja lagi.
"Dengan niat dan keyakinan kepada Allah SWT, niat saya menolong semua yang ada disini, dan saya yakin Allah SWT akan menyelamatkan saya" ucap Azman dengan ramah.
"Niat dan keyakinan, terima kasih Pak Azman sudah membuka pemikiran saya, hal seperti inilah yang tidak saya dapatkan dari orang lain, pemikiran anda sungguh luar biasa seperti hati anda yang sungguh mulia" ucap Pak Jaja.
"Tidak juga pak, kita manusia kadang memiliki emosi dan juga amarah serta nafsu, tidak ada manusia yang lebih dari manusia lainnya" ucap Azman dengan ramah sambil tersenyum hangat ke Pak Jaja.
"Itu benar namun tidak semua orang berani mengakui kesalahannya, ketakutannya, apalagi dosanya" ucap Pak Jaja sambil tersenyum hangat lalu menyalakan sebatang rokoknya.
"Broooom Broooom"
Keduanya mendengar suara motor Azman terparkir di samping tenda.
"Tugas bapak sebagai pemimpin tim penyelamat adalah tugas yang mulia, dan tugas ini tidak bisa di kerjakan oleh semua orang, saya melihat bapak memimpin mereka dengan baik dan bisa akrab dengan mereka semua tanpa status dan jabatan sungguh saya sangat kagum dengan bapak, sosok pemimpin yang bapak tunjukan itu buat saya sesuatu yang baik, kebersamaan yang bapak perlihatkan bersama rekan rekan tim penyelamat ini tidak mudah di bangunnya, jadi saya sangat percaya bapak juga orang yang berhati baik" ucap Azman dengan ramah.
__ADS_1
"Saya hanya menekankan kepada mereka semua, jika hanya kita terluka maka teman kita lah yang menolong kita, jadi dengan seperti ini persaudaraan dapat terbangun, tapi Pak Azman terlalu memuji saya, karena saya tidak ada apa apanya tanpa anggota Tim SAR di bawah saya" ucap Pak Jaja dengan sangat sopan