
“Tugu Patung?.” Ucap Azman yang nampak heran kenapa penduduk desa itu sampai melakukan hal seperti ini.
“Benar, sebentar saya mintakan photonya terlebih dahulu, dan menurut saya ini hal yang sangat wajar karena ini adalah ungkapan rasa terima kasih dari para penduduk desa kepada anda.” Ucap Pak Jaja.
“Hal seperti ini sangat tidak saya harapkan Pak.” Ucap Azman.
“Kadang memang apa yang tidak pernah kita bayangkan terjadi Pak, tapi menurut saya hal ini tidak masalah, dengan hal ini juga mereka akan selalu mengingat anda dan semua pesan anda tentunya.” Ucap Pak Jaja dengan tenang seolah untuk dia hal ini bukanlah suatu permasalahan besar dan menganggap jika hal seperti ini sangat lumrah mengingat apa yang sudah Azman berikan untuk para penduduk desa itu.
“Ya sudahlah, lagi pula hal itu sudah terjadi dan tidak ada yang bisa kita lakukan, jika saya melarang mereka maka mereka juga akan kecewa, oh iya Pak Jaja ada kabar apa lagi selain itu?.” Ucap Azman.
“Tidak banyak Pak, namun yang jelas semua penduduk yang sempat anda bantu kini kehidupannya menjadi lebih baik, anda bagaikan dewa penolong untuk mereka semua, bahkan apakah anda ingat dengan desa terkutuk yang dulunya merupakan desa terbelakang, kini sudah mulai normal dan mirip dengan desa lainnya, kehidupan masyarakat di sana yang sebagai petani sayuran kini menjadi semakin baik, dan teknologi juga sudah mulai masuk Pak, di desa terkutuk sudah ada aliran listrik bahkan ada beberapa orang yang menyumbangkan peralatan listrik untuk penduduk desa terkutuk itu.” Ucap Pak Jaja.
“Alhamdulillah, jika demikian Pak, saya sangat senang mendengarnya.” Ucap Azman.
“Pak Azman, dalam beberapa waktu ini kami memprediksi akan ada banyak bencana alam yang terjadi, curah hujan yang deras disertai angin kencang, tentunya kemungkinan besar akan menimbulkan korban, beberapa hari ini di beberapa daerah sudah ada bencana longsor dan banjir juga, jadi jika boleh saya menyarankan anda untuk tidak tergesa - gesa dalam memberikan bantuan, maaf bukan maksud saya melarang anda untuk berbuat kebaikan namun saya rasa akan banyak yang membutuhkan uluran tangan anda.” Ucap Pak Jaja.
“Saya sudah memperkirakan hal ini juga Pak, dan saya sudah meminta kepada semua direksi rumah sakit milik saya untuk mulai bersiap, dan juga untuk membantu semua korban bencana alam, mengenai bantuan uang itu nanti saya akan persiapkan juga akan tetapi yang jelas saya tidak akan mungkin bisa membantu semua orang Pak, satu dua orang mungkin masih bisa namun jika satu kota saya rasa akan sedikit susah untuk saat ini saya bisa membantunya.” Ucap Azman.
__ADS_1
“Saya bisa memahaminya Pak, oh iya di sekitaran sini kan banyak sekali pantai dan juga tempat - tempat wisata alam loh Pak, apakah anda sudah mengunjunginya.” Ucap Pak Jaja.
“Belum Pak dan mungkin lain waktu saja…., silakan di terima dulu Pak” Ucap Azman yang belum sepenuhnya selesai berbicara namun dia hentikan karena telepon seluler Pak Jaja berbunyi.
Pak Jaja pun mengambil telepon selulernya dan langsung menerima panggilan telepon tersebut dan nampak ada perubahan di raut wajah Pak Jaja saat menerima panggilan telepon.
“Apakah ada sesuatu?.” Tanya Azman setelah Pak Jaja selesai dengan pembicaraan teleponnya.
“Pak Azman, baru saja anak buah mengabari jika ada bencana alam terjadi, jalan lintas selatan dan tengah terputus oleh longsor, sedangkan jalan lintas utara sedang banjir, ini berarti sementara Jawa tengah dan Jawa Barat aksesnya terputus Pak.” Ucap Pak Jaja sambil mengambil bungkus rokoknya dan menyalakan sebatang rokoknya.
Azman tidak langsung berbicara melainkan dia pun sama, menyalakan sebatang rokoknya an menghisapnya perlahan.
“Sudah Pak, dan ini berarti jika mereka sembilan puluh persen personil saya sudah bekerja, hanya tinggal sepuluh persen saya personel saya yang tersisa, saya tidak bisa bayangkan jika nanti ada bencana alam lagi, pastinya anak buah saya akan sangat kelelahan.” Jawab Pak Jaja sambil kembali menghisap rokoknya.
“Ada baiknya jika masyarakat rawan bencana memiliki kemampuan seperti kalian, setidaknya jika di lokasi mereka ada bencana mereka bisa menjadi team penolong untuk di lokasinya.” Ucap Azman.
“Keinginan saya juga demikian Pak, namun apa daya, sangat susah untuk hal itu, semua orang memiliki kesibukan dan sangat jarang yang mau berlatih keterampilan Pencarian dan Pertolongan Pak.” Ucap Pak Jaja.
__ADS_1
“Pak Jaja, bagaimana dengan pihak media dan juga sekolahan, memberikan ilmu tentang keselamatan diri sejak usia dini melalui pihak sekolah, bukankah ada pramuka dan jika media gencar menyiarkannya saya rasa akan banyak orang yang tertarik, ya ini hanya pemikiran saya saja Pak, kadang saya suka sedih jika ada pendaki gunung yang tersesat di gunung dan tidak memiliki ilmu atau pengetahuan cara bertahan hidup di dalam hutan, hal seperti ini sama dengan adanya bencana, dimana penduduk seharusnya saat ada bencana dapat segera mengambil tindakan untuk keselamatan juga untuk perbaikan setelah bencana itu terjadi.” Ucap Azman yang menyampaikan pemikirannya.
“Semoga di masa yang akan datang itu bisa Pak, akan sedikit susah dilaksanakan namun itu bisa berhasil, nanti saya akan menyampaikan ini jika ada pertemuan dengan para petinggi Pak.” Ucap Pak Jaja.
“Suamiku aku dan Sumiyem akan pergi dulu ya, kami ingin ke supermarket untuk membeli kebutuhan rumah yang sudah mulai habis.” ucap Azizah yang datang dengan membawa dua botol air mineral dan meletakkannya di depan Azman serta Pak Jaja.
“Pergilah, bawa mobil saja ya sayangku, karena cuaca tidak bisa diprediksi.” Ucap Azman.
“Oke, Pak Jaja saya tinggal dulu ya.” Ucap Azizah yang tidak lama kemudian langsung meninggalkan Azman dan Pak Jaja.
“Pak Jaja, bagaimana jika kita berjalan - jalan juga, kita ke desa kawan anda itu terlebih dahulu untuk melihat situasinya.” Ucap Azman.
“Pak Azman, saya tidak keberatan, namun lebih baik besok saja, bagaimana jika kita berkeliling daerah sini saja, saya mengetahui satu daerah dimana anda akan menyukainya.” Ucap Pak Jaja.
“Baiklah, mari kita kesana.” Ucap Azman sambil berdiri demikian juga dengan Pak Jaja.
Azman dan Pak Jaja langsung melangkah ke arah teras karena mobil Pak Jaja terparkir disana, Azman sebelumnya ingin menggunakan sepeda motor namun dengan cuaca yang mulai gelap, seperti akan turun hujan jadi Azman pun menyepakati untuk menggunakan mobil Pak Jaja.
__ADS_1
Mobil Pak Jaja melaju perlahan keluar dari area rumah Azman dan Pak Jaja juga yang menyetir mobil itu, sedangkan Azman duduk santai di kursi penumpang sambil menghisap rokoknya.