Petualangan Misteri Azman

Petualangan Misteri Azman
Desa di tengah lembah 3


__ADS_3

“Azman, desa ini memang desa yang sudah sangat tua dan disini ada satu peraturan yang harus diikuti, yaitu boleh mendirikan rumah dengan menggunakan kayu jati yang sudah tua, jadi seperti yang dapat anda lihat jika semua bangunan disini nampak bangunan tua.” Ucap Pak Jaja sambil terus melangkah sedangkan Azman berjalan di sampingnya.


“Peraturan yang sangat bagus dan saya sangat menyetujuinya, dengan pohon yang sudah tua itu artinya kelestarian alam lebih terjaga Pak.” Ucap Azman.


“Sudah gitu sangat jarang sekali ada penduduk desa yang meninggalkan desa ini, sepertinya ini kasus yang pertama kalinya terjadi.” Ucap Pak Jaja.


“Semoga nanti kita bisa menemukan jawabannya Pak, dan apakah pohon - pohon jati di desa ini milik warga desa?.” Ucap Azman yang melihat ada banyak sekali pohon jati yang sudah sangat tua di sekitarnya.


“Benar, saya sendiri sudah mengecek kepemilikan area ini semuanya milik warga desa dan terdaftar juga, dan entah kenapa warga desa disini memang tidak menjual pohon jati ini, mereka lebih senang hidup dari bertani dan berkebun saja.” Ucap Pak Jaja.


“Dengan kualitas kayu disini yang sangat bagus maka akan membuat banyak orang menginginkannya.” Ucap Azman dalam hati bersamaan dengan mereka memasuki pelataran masjid.


Masjid itu masjid kayu yang semuanya terbuat dari kayu jati termasuk lantainya, dan masjid kayu itu juga sangat besar, bisa menampung ratusan orang.


Pak Jaja dan Azman pun langsung mengambil air wudhu di samping masjid lalu keduanya masuk kedalam masjid dan melaksanakan shalat berjamaah, dengan Pak Jaja sebagai Imamnya.


Mereka shalat dengan sangat khusuk lalu keduanya pun menyempatkan diri untuk berdzikir sebentar dan kemudian bersantai di teras masjid.


“Pak Jaja, saya sungguh merasakan nikmatnya beribadah di masjid ini, dan saya jadi semakin ingin mendirikan mushola di rumah seperti ini.” Ucap Azman.


“Saya juga merasakan hal yang sama, sungguh tentram dan sungguh bisa fokus dengan ibadah, oh ya apa rencanamu untuk menyelidiki kasus yang terjadi di desa ini.” Ucap Pak Jaja.


“Jika memang ada hantu dan suara aneh di malam hari maka kita harus bermalam di desa ini, saya penasaran dengan hantu itu dan juga sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan Ibu dan Anak itu, pasti ada unsur kebetulan serta keterkaitan antara dua hal ini Pak, dan yang jelas saya ingin membantu warga disini sampai selesai.” Ucap Azman.

__ADS_1


“Kita disini hanya punya waktu tiga hari, karena hari ke empat Bapak harus ke kota Bandung, ada kegiatan Tim Sar disana yang harus Bapak hadiri.” Ucap Pak Jaja.


“Semoga malam ini selesai ya Pak, asalkan saya bisa mengetahui hantu itu maka insyaallah saya bisa mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.” Ucap Azman sambil melihat ada seorang pria sepuh yang berjalan mendekati masjid desa.


“Assalamualaikum.” Ucap Pria sepuh tersebut menyapa Azman dan Pak Jaja.


“Walaikumsalam.” Ucap Azman dan Pak Jaja berbarengan.


“Maaf kami tamu dari Mbah Hardiyata dan numpang sholat disini Mbah.” Ucap Pak Jaja kemudian.


“Sudah mau masuk waktu Ashar,  mbah mau adzan dulu ya, silahkan di lanjutkan.” Ucap Pria sepuh tersebut yang langsung masuk ke dalam masjid.


Adzan Ashar pun tidak lama kemudian terdengar oleh mereka dan suara Adzan tersebut sangat merdu dan enak di dengar.


Satu persatu penduduk desa nampak mulai berdatangan dan mereka pun kemudian melaksanakan ibadah shalat berjamaah di masjid itu, hingga semuanya kembali meninggalkan masjid demikian juga dengan Azman dan Pak Jaja yang juga ikut meninggalkan masjid, dan tujuan mereka adalah ke rumah yang sudah di siapkan oleh Mbah Hardiyata.


Rumah kayu yang kecil itu ternyata memiliki empat kamar tidur yang cukup besar dan juga ruang tamu, dapur dan dua kamar mandi.


Azman dan Pak Jaja yang memang sudah mempersiapkan perlengkapan untuk menginap di tas ransel milik mereka kemudian mengambil dari mobil dan membawanya ke rumah kayu itu.


“Pak Jaja, bagaimana jika kita tidak membuang waktu dan melihat rumah dari Ibu dan anak yang hilang saja, disana juga kan tidak ada garis polisi jadi bisa kita lihat dalamnya.” Ucap Azman setelah mereka berdua selesai merapikan barang mereka di kamar masing - masing.


“Itu ide yang bagus, siapa tahu ada petunjuk disana, kita temui Mbah Hardiyata terlebih dulu untuk minta pendampingannya.” Ucap Pak Jaja.

__ADS_1


“Baik Pak.” Ucap Azman dan keduanya pun langsung menemui Mbah Hardiyata yang ternyata sudah menunggu mereka di teras rumah.


Mereka bertiga kemudian berjalan menuju rumah yang ada di seberang, rumah milik dari Ibu dan Anak yang menghilang dari desa itu.


Dengan sangat teliti Azman memeriksa rumah tersebut namun Azman tidak menemukan kerusakan di rumah itu, jadi dia mengetahui jika Ibu dan Anak itu benar - benar keluar rumah dari pintu depan dan pintu depan yang rusak juga karena di buka paksa oleh penduduk desa, bukan hanya area dalam rumah yang di periksa Azman namun Azman juga memeriksa area sekitar rumah itu.


“Azman apakah ada yang kau temukan?.” Tanya Pak Jaja.


“Ada Pak, namun sebaiknya kita berbincang di rumah saja.” Jawab Azman.


“Jika begitu kita berbincang di rumah Mbah saja, kebetulan sudah di siapkan makan untuk kita semua.” Ucap Mbah Hardiyata yang nampak sangat penasaran dengan apa yang Azman temukan.


Ketiganya pun kembali ke rumah Mbah Hardiyata namun sesampainya disana mereka tidak langsung membahas apa yang Azman temukan melainkan langsung makan bersama dengan Mbah Hardiyata dan keluarganya, baru setelah selesai mereka bertiga pun berkumpul di ruang tamu sambil menikmati masing - masing secangkir kopi hitam tanpa gula.


“Azman apa yang kau temukan di rumah itu?.” Tanya Mbah Hardiyata yang nampak sangat antusias.


“Mbah, pertama di rumah itu tidak ada kerusakan apapun, jadi pemilik rumah memang pergi sendiri dengan mengunci rumahnya, namun mereka pergi dengan tergesa - gesa, meski mereka pergi dengan membawa pakaian dan barang - barang berharga mereka namun masih banyak pakaian dalam kotor yang tertinggal, dan belum dicuci  di bagian kamar mandi mereka sedangkan jika memang mereka berniat untuk pergi lama tentunya mereka tidak akan meninggalkan cucian kotor dong, di tambah di dapur ada banyak sayuran yang sampai membusuk dan mengering, ini pertanda jika kepergian mereka itu berkesan terburu - buru.” jawab Azman.


“Itu benar kami juga menyadari hal itu, apakah ada hal lainnya yang kau temukan.” Ucap Mbah Hardiyata.


“Ini Mbah.” Ucap Azman sambil memperlihatkan layar ponselnya dan Azman memperlihatkan hasil photo yang dia ambil saat di dalam rumah itu.


Pada saat di dalam kamar terbesar di rumah itu Azman melihat ada bercak darah yang sudah mengering di dekat lemari pakaian dan bercak darah itu nampaknya sudah coba dibersihkan namun tidak sempurna, selain itu dia juga menemukan bekas darah di area dapur dekat kamar mandi yang juga sempat dibersihkan namun tidak benar - benar bersih, masih menyisakan bekas di lantai kayu rumah itu.

__ADS_1


__ADS_2