Petualangan Misteri Azman

Petualangan Misteri Azman
Masjid yang hebat


__ADS_3

Azman terus mengemudikan mobilnya dan Daim benar - benar mengarahkannya, seperti jika Daim benar - benar mengetahui daerah itu, hingga akhirnya mereka sampai di sebuah masjid yang kecil dan terbuat dari sepenuhnya dari kayu dan bersamaan dengan berkumandangnya Adzan shalat Dzuhur.


Masjid kayu ini mengingatkan Azman dengan Masjid di daerah Banten yang sempat dia bantu pembangunannya.


“Masjid ini, mirip sekali dengan masjid di Banten waktu itu” ucap Azman sambil memarkirkan mobilnya di halaman masjid yang nampak cukup luas untuknya.


“Ini kejutan pertama, ayo kita masuk ada kejutan kedua untukmu” ucap Daim.


Azman hanya menganggukkan kepalanya dan setelah mematikan mobilnya dia bersama Daim langsung turun dan melangkah menuju area wudhu.


Tidak ada seorang pun di area wudhu itu, namun saat mereka memasuki area dalam masjid Azman pun kaget karena sudah banyak orang disana, dan masjid itu pun nyaris penuh.


Azman dan Daim pun langsung melaksanakan shalat tahiyatul masjid lalu duduk dan berdzikir sambil menunggu iqomah.


Lima menit mereka berdzikir dan Iqomah pun berkumandang, keduanya pun harus rela shalat di barisan belakang, karena di depan mereka sudah terlebih dulu di isi orang lain.


Shalat dzuhur itu nampak sangat khusuk, dan setelah mereka shalat ternyata imam masjid mengajak untuk mengaji bersama, tidak ada seorang pun yang keluar dari masjid itu, semuanya nampak ikut mengaji bersama, lalu Imam masjid itu pun memberikan tausiyah selama kurang lebih lima belas menit.


Tausiyah selesai dan satu persatu jemaah mulai meninggalkan masjid dengan sangat tertib, hingga hanya tersisa Azman, Daim dan Imam masjid itu saja, ini karena memang Azman yang terkejut dengan banyaknya jamaah shalat dzuhur dan juga tertibnya jamaah yang tidak pernah dia temukan di masjid lainnya selama ini, Azman berencana menanyakan secara langsung kepada Imam Masjid.


“Assalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuh” Ucap Azman mengucapkan salam saat dia mendekati Imam Masjid tersebut, Imam Masjid itu nampak seorang pria sepuh yang berusia kurang lebih enam puluh tahun, dan Azman bisa melihat aura putih yang sangat bersih dari Imam Masjid tersebut.

__ADS_1


“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh” jawab Imam Masjid tersebut sambil mempersilahkan Azman untuk duduk di depannya.


Azman dan Daim pun langsung duduk di depan Imam masjid tersebut, mereka berdua duduk bersila dengan kedua tangan di atas paha mereka.


“Kyai, saya Azman, dan saya kebetulan lewat disini, saya sangat kagum dengan Pak Kyai yang mempunyai jemaah yang sangat alim dan juga tertib” ucap Azman.


“Nak Azman, Alhamdulillah, jamaah masjid ini semuanya seperti ini, kami secara turun temurun menjaga agar ba’da shalat wajib ada beberapa menit untuk mengaji dan juga tausiyah” ucap Imam Masjid tersebut menjelaskan.


“Pak Kyai, mohon maaf jika saya lancang ingin bertanya beberapa hal kepada Pak Kyai untuk menghilangkan rasa penasaran saya” ucap Azman.


“Nak Azman silahkan jika ingin bertanya, insya allah jika saya mampu maka sauya akan menjawabnya” ucap Imam masjid tersebut.


“Nak Azman, masjid ini di bangun di era para raja dan wali, jadi mungkin saja ada persamaan dengan masjid lainnya, kami sengaja mempertahankan bangunan ini agar tidak kehilangan ciri khas para wali” ucap Imam Masjid menjelaskan.


“Pak Kyai, mohon maaf jika saya lancang, apakah masjid ini tidak terlalu kecil untuk jaman sekarang” ucap Azman.


“Nak Azman, besarnya masjid itu di nilai dari jumlah jamaah, dan memang masjid kami ini tidak cukup untuk menampung banyak jamaah, pada saat shalat maghrib dan isya serta shubuh, jamaah kami sampai shalat di teras, dan sebagian besar malah shalat di masjid lainnya, saya dan para sesepuh desa sengaja tidak memperluas bangunan masjid ini, karena dengan begini masjid lain juga ikut makmur, alhamdulilah disini ada lima masjid, dan semuanya juga penuh” ucap Imam Masjid.


“Alhamdulillah, Pak Kyai, saya ingin memberikan sumbangan untuk masjid ini, kemanakah saya bisa memberikan sumbangan saya ini” ucap Azman.


“Nak Azman, apabila Nak Azman hendak memberikan sumbangan untuk pembangunan masjid ini maka saya akan menolaknya, karena kami saat ini tidak ingin membangun, seperti yang tadi saya ucapkan, kami tidak akan memperluas masjid ini” ucap Imam Masjid menolak dengan halus.

__ADS_1


“Pak Kyai, bukan untuk pembangunan, mungkin Pak Kyai kedepannya bisa mengelola dana bantuan saya untuk hal lainnya, bisa untuk perawatan atau mungkin bantuan untuk kaum dhuafa dan yatim piatu, atau mungkin yang lainnya” ucap Azman yang jujur dia sangat kaget, biasanya jika dia berkata ingin menyumbang maka tidak pernah ada yang menolaknya.


“Nak Azman, Bapak bisa memahami keinginan Nak Azman, jika memang Nak Azman mengikhlaskan bantuan tersebut dan tidak mensyaratkan untuk penggunaannya maka Bapak dengan ikhlas akan menerimanya, namun kembali lagi jika ada syarat untuk penggunaannya maka Bapak akan menolaknya” ucap Imam masjid yang kokoh pada pendiriannya itu.


Azman terdiam sejenak, karena dia benar - benar merasa menemukan satu sosok yang luar biasa, ilmu dan kebijaksanaan dari Imam Masjid ini benar - benar membuatnya kagum.


“Pak Kyai, bisakah saya meminta nomor rekeningnya, dan saya tidak akan mensyaratkan apapun untuk uang yang akan saya sumbangkan, saya sepenuhnya ikhlas dengan apa yang saya berikan” ucap Azman sambil sedikit menundukkan wajahnya karena aura putih dari Pak Kyai itu semakin bersinar.


“Nak Azman, jika demikian bisa langsung mengirimkan uangnya ke rekening milik masjid ini saja, namun berapapun besar kecilnya itu adalah hak sepenuhnya dari Nak Azman, saya mewakili seluruh pengurus masjid hanya bisa berucap terima kasih semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan kemudahan rezeki dan yang lainnya” ucap Imam Masjid tersebut sambil kemudian berdiri dan berjalan ke arah mihrab lalu mengambil secarik kertas dan memberikannya kepada Azman.


Azman pun langsung mentransferkan uangnya, dia tidak sama sekali berpikir untuk membatasi bantuannya itu, bahkan kali ini dia memberikan bantuan senilai lima ratus juta rupiah untuk masjid ini.


“Pak Kyai, saya sudah memasukkan sejumlah uang ke rekening masjid, apakah saya perlu untuk memberikan bukti transfernya” ucap Azman sambil memberikan kembali secarik kertas itu.


“Nak Azman, satu hal yang harus kita lakukan adalah ijab dan qobul” ucap Imam masjid setelah menyimpan secarik kertas itu di sampingnya lalu menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Azman.


“Saya Azman, dengan niat Lillahi Ta’ala memberikan bantuan untuk masjid ini senilai lima ratus juta rupiah” ucap Azman sambil berjabat tangan dengan Imam Masjid.


“Saya Soemarmo, mewakili pengurus masjid menerima uang tersebut dan semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan kemudahan rezeki dan yang lainnya” ucap Imam Masjid tersebut sambil berjabat tangan dengan Azman lalu mereka berdua melepaskannya.


“Aamiin Ya Rabbal Alamin” Ucap Azman dan Daim dengan sangat kompak.

__ADS_1


__ADS_2