Petualangan Misteri Azman

Petualangan Misteri Azman
Gunung Gelap Garut 6


__ADS_3

“Pak Azman terima kasih jika ini benar - benar enak maka saya akan menikmatinya di rumah saja, jika disini bisa - bisa saya hanya kebagian satu cangkir saja, tahu sendiri kami semua suka kopi hitam.” Ucap Pak Jaja.


“Saya sangat yakin bapak akan suka, karena saya juga suka.” Ucap Azman.


“Oh iya ini anda beli sama marbot masjidnya langsung apa bagaimana ya?.” Tanya Pak Jaja.


“Marbot masjid itu punya warung di belakang masjid persis dan saya kan kempingnya di sana semalam, nah jika bapak ingin nambah bisa membelinya nanti Pak pas pulang atau pas Bapak melewatinya.” Ucap Azman sambil kemudian mengambil satu tahu sumedang itu dan langsung memakannya.


“Nanti saya pulang lewat sana saja saja jika demikian, oh iya pantai itu bukannya sangat panas ya, dan merupakan titik pantai terpanas loh Pak.” Ucap Pak Jaja.


“Katanya sih begitu Pak, namun jika malam sangat enak dan paling sejuk Pak jika dibandingkan semua pantai di jalur selatan ini, saya bahkan sampai kedinginan semalam.” Ucap Azman lagi yang masih dengan mulut penuh tahu goreng.


“Wah ini suatu keajaiban ya, siang paling panas dan malam paling sejuk, anda nemu saja Pak tempat yang bagus seperti itu.” Ucap Pak Jaja.


“Hanya kebetulan yang disengaja saja Pak.” Ucap Azman.


“Pak Azman kenapa anda ingin berkemah di kawasan gunung gelap ini jika saya boleh ketahui?.” Tanya Pak Jaja.


“Saya penasaran dengan misteri kawasan gunung gelap ini Pak, siapa tahu misterinya bisa saya selesaikan dan kedepannya tidak ada lagi korban di kawasan ini.” Jawab Azman.


“Semoga ya Pak, bisa anda selesaikan misterinya, nanti  kami akan meminta bantuan pihak kepolisian untuk menutup area gunung gelap ini sementara, jadi anda bisa disini tanpa gangguan pekemah lainnya.” Ucap Pak Jaja. 

__ADS_1


“Kemungkinan besar saya akan disini selama dua hari Pak, selesai dari sini saya akan melanjutkan perjalanan saya.” Ucap Azman.


“Kemana tujuan anda Pak Azman selesai dari sini.” Ucap Pak Jaja.


“Saya juga belum tahu Pak, namun masih sekitaran sini saja dulu, sudah kepalang tanggung saya masuk wilayah sini jadi mau sekalian saja saya jalan - jalan di kabupaten Garut ini, saya masih ingin tahu lebih dengan kabupaten yang satu ini, semoga saja ada banyak yang saya ketahui nantinya.” Ucap Azman.


“Tapi anda hebat bisa tahu soal makam Prabu kian santang itu, saya malah tidak mengetahuinya.” Ucap Pak Jaja.


“Itu juga sama Pak,kebetulan yang disengaja juga, dan karena sudah disini mungkin itu tujuan kedua di kabupaten garut ini.” Ucap Azman lagi.


Mereka berdua pun terus berbincang santai sambil menikmati tahu sumedang itu yang memiliki rasa yang sangat gurih. 


Setengah jam berlalu dan kini semua tenda itu sudah tidak terlihat lagi, menyisakan hanya tenda komando saja, satu persatu mobil juga sudah mulai meninggalkan lokasi tersebut.


“Aku juga berpikiran seperti itu dan apakah masjid jauh dari sini.” Ucap Azman dalam hatinya berkomunikasi dengan Daim.


“Tidak jauh sama sekali kok, lokasinya sangat dekat, kita berjalan kaki saja dari sini ya.” Ucap Daim kembali.


“Pak Jaja, sebaiknya kita ke masjid saja dulu, soalnya waktu shalat ashar tinggal beberapa menit lagi dan selesai shalat ashar berjamaah baru kita mulai pencariannya, tenang saja ini tidak akan terlambat kok.” Ucap Azman.


“Iya Pak benar biar yang paling utama saja kita lakukan, mari jika demikian dan biar nanti yang non muslim membongkar tenda ini, kebetulan kan ada beberapa anak buah saya yang non muslim.” Ucap Pak Jaja sambil berdiri.

__ADS_1


Mereka berdua pun kemudian berjalan menuju ke arah pemukiman penduduk dan kebetulan ada masjid yang cukup besar disana, disana juga terlihat beberapa anggota Tim Sar yang sudah duluan datang demikian juga dengan petugas kepolisian dan juga TNI.


Semuanya menyambut Azman dengan sangat baik namun tidak ada yang berani untuk meminta photo bersama karena memang waktu shalat sudah sangat dekat.


Shalat Ashar berjamaah itu pun dipimpin oleh Azman, hal ini atas permintaan dari para penduduk desa yang sudah mengetahui siapa Azman sebenarnya, Azman dan semuanya pun kemudian kembali ke lokasi basecamp, disana kini hanya tinggal mobil ambuilan dan mobil jenazah saja serta ada dua truk besar yang akan di gunakan untuk mengangkut semua pendaki yang berhasil selamat.


“Pak Jaja, tolong kumpulkan semuanya saja, biar saya memberikan sedikit arahan kepada mereka, saya tidak ingin jika sampai malah ada dari kita yang harus kita cari lagi, ini pastinya tidak lucu bukan.” Ucap Azman sesampainya di lokasi basecamp itu dan kini mereka sedang duduk di kursi lipat yang memang disiapkan oleh anggota tim sar.


“Baik Pak, sebentar biar saya kumpulkan mereka dulu, dan menyiapkan pengeras suaranya dulu.” Ucap Pak Jaja yang langsung berdiri dan berjalan menemui beberapa orang anggota tim sar yang sedang ada di dekatnya.


“Azman, jika kita berjalan kaki kesana maka akan memakan waktu hampir satu jam, apakah kau kuat.” Ucap Daim yang berdiri di belakang Azman layaknya seorang penjaga.


“Wah kawan ku satu ini kira aku tidak bisa berjalan jauh ya, aku pasti mampu lah jika hanya berjalan beberapa kilometer, kau tidak perlu khawatir sahabatku.” Ucap Azman dalam hatinya berkomunikasi dengan Daim dan dia pun kini mulai menyalakan kembali sebatang rokoknya.


“Kau itu perokok dan inilah yang membuat aku ragu dengan mu, bukankah para perokok itu tidak kuat berjalan jauh.” Ucap Daim lagi.


“Kawanku, tidak semuanya seperti itu, aku ini kan biasa berolahraga, jika hanya sepuluh kilometer saja aku masih sangat sangat mampu, lagi pula mana mungkin aku bisa membawa motorku kesana kan.” Ucap Azman berkomunikasi dengan Daim dalam hatinya.


“Ke lokasi yang akan tuju memang tidak bisa, tapi ke lokasi untuk berkemah bisa, kau bisa membawa motormu kesana jika kau inginkan, dengan kemampuanmu mengendalikan motor itu aku yakin kau akan bisa kok.” Ucap Daim kembali.


“Daim aku masih tidak mengetahui alasanmu ingin aku berkemah disini, loh, kenapa kau tidak terbuka saja sih, jadi aku tidak penasaran dengan mu.” Ucap Azman yang  tetap berbicara dalam hatinya untuk berkomunikasi dengan Daim, dia tidak ingin berbicara langsung dan membuat orang - orang yang ada di sebelahnya kaget atau berpikiran aneh - aneh.

__ADS_1


“Susah untuk ku menjelaskannya namun kau akan mengetahuinya dengan jelas nanti, sudahlah jangan menanyakan apa yang tidak ingin aku ceritakan ya, kadang lebih enak menunjukkannya daripada harus menceritakannya.” Ucap Daim lagi.


__ADS_2