
"Pak Azman terima kasih sudah mempercayai saya, saya permisi sebentar untuk menyiapkan semuanya terlebih dulu, bapak bapak yang mau ikut kerja ayo kita mulai kosongkan" ucap pria yang merupakan tukang bangunan tersebut sambil mengajak warga lainnya.
Azman kemudian berjalan dan mendekati ibu warung beserta dengan suami sedangkan anak laki laki nya ikut dengan warga untuk mengambil barang barang yang masih bisa di rumahnya.
"Pak Azman kenapa anda begitu baik kepada kami" ucap Ibu warung sambil meneteskan air matanya.
"Benar Pak, anda sudah menolong saya dan sekarang anda bahkan sampai membangun ulang rumah saya, saya benar benar tidak tahu harus berterima kasih seperti apa ke bapak, rumah kami ini kan memang sudah rusak pak, tidak bapak betulkan juga tidak apa apa, ini coba gara gara menolong saya bapak jadi luka luka, motor bapak juga jadi rusak" ucap suami ibu warung sambil menangis juga di hadapan Azman.
"Bapak dan ibu, sudah jangan di bahas, kan biar bagaimana pun juga ini sudah ketetapan dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala, saya di pertemukan dengan ibu dan bapak semua sudah kehendak Allah, dan yang saya berikan ada murni titipan dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala, ini saya masih ketitipan untuk nanti membeli furniture dan juga bisa untuk menyewa rumah lain dulu sampai proses pembangunan rumah bapak ibu selesai, dan bapak ibu jika masih ada sisa uangnya bisa untuk tambahan modal warungnya juga ya. Insyaallah semuanya akan lebih baik lagi untuk bapak dan ibu" ucap Azman sambil memberikan empat puluh juta rupiah ke ibu warung itu, bukan karena dia tidak percaya dengan suami ibu warung namun karena lebih dekat posisinya dengan ibu warung itu.
"Pak Azman terima kasih" ucap ibu warung sambil menangis dan menerima uang itu dengan tangan bergetar.
"Baik, tugas saya di sini sudah selesai, bapak bapak dan ibu ibu semua saya permisi dulu ya, senang bisa berjumpa dengan kalian semua" ucap Azman sambil tersenyum hangat ke semua orang itu lalu melangkah ke motornya dan menyimpan kembali tas pinggang itu di box pannier motornya.
Azman juga langsung menggunakan jaketnya dengan sedikit susah karena dia sebenarnya masih merasakan kesakitan dengan luka yang di terima terlebih di bagian punggung dan dadanya yang sempat di tendang oleh makhluk menyeramkan yang di panggil buto ireng.
"Pak Azman saya minta photo bareng dong sama Pak Azman, kan Pak Azman sudah sangat terkenal loh" ucap seorang ibu yang mendatangi Azman.
__ADS_1
"Iya Bu, tentu saja boleh" ucap Azman yang mulai membiasakan diri karena dia juga tidak ingin mengecewakan siapapun.
Satu persatu mulai berphoto dengan Azman bahkan ada beberapa ibu ibu yang sambil memeluk Azman, ada juga yang sampai mengecup pipi Azman.
Beberapa orang juga mengambil vlog bersama Azman untuk menjadi konten media sosial mereka, dan Azman tetap mengikuti keinginan mereka semua sampai semuanya selesai, dia pun kemudian mengambil helmnya dan langsung meninggalkan lokasi itu dengan di iringi tepuk tangan oleh para warga laksana seorang pahlawan pulang berperang.
"Semoga semuanya menjadi lebih baik ke depannya" ucap Azman sambil terus mengendarai motornya itu.
"Aku tidak pernah menyangka jika ternyata berjalan jalan jalan ku bisa membawa kebahagiaan bagi banyak orang, ternyata hidup seperti ini seru juga" ucap Azman berbicara sendiri sambil terus mengendalikan laju motornya karena dia belum sampai jalan raya dan masih di jalan desa sehingga hanya bisa melaju dua puluh kilometer per jam saja.
Beberapa menit berlalu dan kini Azman sudah kembali ke jalan raya dan langsung melaju ke arah pantai selatan namun dengan kecepatan rata rata di enam puluh kilometer per jam saja.
Waktu berlalu dengan cepat dan Adzan Dzuhur kembali berkumandang, Azman kemudian mulai memelankan laju motornya dia yakin jika suara adzan terdengar maka ada masjid di dekatnya.
"Akhirnya ketemu, meskipun hanya masjid tua" ucap Azman sambil membelokkan motornya ke arah masjid yang di temukannya.
Masjid itu masih menggunakan bangunan semi permanen karena hanya bagian bawah yang menggunakan bata, sedangkan dinding dindingnya terbuat dari kayu.
__ADS_1
Azman yang telah selesai memarkirkan motornya langsung berjalan ke tempat wudhu namun karena sebagian wajahnya menggunakan perban dia sedikit lebih lama wudhunya lalu melangkah memasuki bagian dalam masjid itu dan ada kurang lebih dua puluh orang pria sepuh yang sudah ada di dalam masjid.
Seperti biasa Azman pun melakukan shalat sunnah tahiyatul masjid sambil menunggu Iqamah dan shalat berjamaah.
"Ternyata meskipun bangunan masjid ini seperti ini tapi banyak juga yang shalat berjamaah di dzuhur ini" ucap Azman dalam hatinya melihat kini sudah ada kurang lebih empat puluh orang yang ada di dalam masjid itu.
Beberapa menit berlalu dan Azman pun selesai melaksanakan shalat Dzuhur dan Dzikir, kini dia hanya duduk bersandar di teras masjid menghadap ke arah motornya.
"Maaf Pak Azman, jika bapak mau beristirahat tidak apa apa di dalam masjid juga boleh kok" ucap seorang pria sepuh yang tadi memimpin shalat dzuhur berjamaah.
"Oh iya Pak Ustadz terima kasih, masjid ini ternyata sungguh ramai ya, namun dari mana bapak mengetahui nama saya" ucap Azman sambil melihat lengan atas sebelah kiri yang dia perban karena terasa sedikit nyeri.
"Saya mengetahui nama Bapak dari televisi pak, bahkan barusan sebelum dzuhur ada berita mengenai bapak yang membantu orang yang dirasuki oleh buto ireng, bapak juga membantu membangun rumah rumahnya yang hancur" ucap pria sepuh itu sambil duduk di samping Azman dan bersandar di dinding kayu masjid.
"Iya Pak Ustadz, ternyata berita cepat menyebar ya, saya numpang istirahat disini ya pak, suasananya sangat enak" ucap Azman.
"Pak Azman ini selalu membantu orang yang kesusahan, semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala selalu menjaga dan memberikan kemudahan kemudahan untuk bapak ya" ucap Pria sepuh itu.
__ADS_1
"Aamiin Ya Rabbal Alamin, terima kasih atas doanya Pak Ustadz, ngomong ngomong ini masjid sudah berapa lama pak usianya." Ucap Azman yang merasa jika masjid itu sama tuanya dengan masjid kayu yang ada di Serang, Banten.
"Jika saya tidak salah sudah seratus dua puluh delapan tahun pak, Masjid ini dulunya hanya surau saja, namun kami sedikit demi sedikit besarkan jadi sekarang bisa menampung sampai dua ratus jemaah" ucap Pria sepuh.