
Azman mematikan rokoknya lalu menutup kedua matanya, dia pun menyimpan kedua tangannya di atas pahanya dengan tasbih kayu di tangan kanannya.
Azman mulai berdzikir dan melafadzkan ayat - ayat Al Quran, dengan khusuk dan tidak lagi memperdulikan alam sekitarnya.
Azman percaya jika berserah diri dan memohon perlindungan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah jalan terbaik yang bisa dia ambil.
Kabut mulai turun dan menutup area itu sepenuhnya, bahkan jarak pandang pun menjadi semakin dekat, hal ini tidak diketahui Azman sama sekali karena dia fokus dengan dzikir dan doanya.
Waktu menunjukkan jam tiga pagi dan Azman masih dalam posisinya semula, masih duduk bersila dengan kedua tangan di atas paha, hanya jari tangannya saja yang memainkan tasbih kayu.
Waktu terus berjalan dan samar - samar Azman mendengar suara Adzan Subuh berkumandang, dia pun membuka matanya secara perlahan.
“Sudah pagi ternyata dan aku masih di ada di puncak gunung ini, benar dugaan ku semalam jika ini puncak gunung, sebaiknya aku melaksanakan shalat subuh terlebih dulu” ucap Azman sambil mulai berdiri dan dia mengambil cadangan air dari tas ranselnya lalu menggunakannya untuk berwudhu.
Azman pun kembali menggunakan kompasnya untuk mencari arah kiblat lalu melaksanakan ibadah shalat subuh dengan sangat khusyuk yang dilanjutkannya dengan berdzikir.
Sinar matahari mulai menyinari wajahnya dan Azman pun menghentikan dzikirnya, dia lalu membereskan sajadah dan yang lainnya, di masukkan kembali ke dalam tas ranselnya.
“Buruk Jalak itu sepertinya bukan burung jalak biasa, dan sepertinya dia sudah dari tadi memperhatikanku” Ucap Azman berbicara sendiri sambil melihat seekor burung jalak yang berdiri di depannya.
“Aku tahu jika kau adalah jelmaan, tunjukkanlah wujudmu” Ucap Azman berbicara ke burung jalak tersebut.
“Seandainya aku bisa maka aku akan berwujud manusia sepertimu, Azman aku akan membantumu dengan menunjukkan jalan keluar dari sini jika kau berkenan” terdengar suara laki - laki di dalam kepala Azman.
“Jadi kau bisa bertelepati namun tidak bisa merubah bentuk, aku sangat bahagia jika kau berkenan menunjukkan jalan keluar dari sini” Ucap Azman yang bertelepati dengan buruk jalak tersebut karena percuma jika dia berbicara seperti biasa sedangkan burung jalak itu bertelepati kepadanya.
“Ikuti aku” ucap burung jalak yang bertelepati dengan Azman yang langsung terbang perlahan ke arah Barat daya.
__ADS_1
Azman pun bergegas mengikutinya dan nampak jika burung jalak itu benar - benar menunjukkan jalan keluar untuk Azman.
“Azman itu adalah kawah candradimuka, dan entah kenapa dari semalam kawah itu seolah mati tidak ada apapun” ucap burung jalak tersebut yang hanya terdengar oleh Azman, dan saat ini mereka memang berjalan di samping kawah.
“Semalam aku melihat ribuan prajurit perang namun pakaian mereka seperti pasukan perang kerajaan” ucap Azman.
“Itu benar, mereka semua adalah arwah para prajurit yang menjaga gunung ini, kau bertemu dengan mereka, dan apakah kau juga bertemu dengan Baginda Raja” ucap burung jalak.
“Aku tidak bertemu dengannya, dan apakah ada sungai disini” ucap Azman.
“Sepertinya kau sudah berjalan di tiga dunia, karena letak sungai yang asli di alam mu sangat jauh dari sini, sedangkan sungai di alam kami tepat di tengah kawah” ucap burung jalak tersebut.
“Tiga alam” Ucap Azman.
“Alam manusia, alam kaum iblis dan jin dan alam para arwah” ucap burung jalak.
“Ya ini alam manusia, itulah kenapa aku tidak bisa merubah wujudku, karena di alam ini wujudku hanya sebagai burung jalak ini saja” ucap burung jalak yang terus terbang di depan Azman, menunjukkan arah pulang untuk Azman.
“Gunung ini penuh sekali misteri, namun setidaknya aku sudah mendapatkan hal yang baik untukku” ucap Azman.
“Apakah itu” ucap burung jalak tersebut.
“Aku jadi bisa membedakan mana alam ku, mana alam kaum jin dan mana alam kaum arwah” ucap Azman.
“Bisa kau jelaskan” ucap burung jalak yang meminta penjelasan dari Azman.
“Alam pertama yang aku masuki adalah alam kaum Jin dan Iblis, itu adalah desa di lereng gunung, alam kedua adalah alam para arwah dan itu adalah gunung yang sangat gelap, alam ketiga ya alam ku, dan sungai itu adalah batasan dari semua alam” ucap Azman mencoba menarik kesimpulan dari perjalannya kali ini.
__ADS_1
“Kau benar, dan apa kau tahu kenapa kau tidak menemukan masalah berat di perjalananmu ini” ucap burung jalak itu lagi.
“Baik dan buruk ada pada semua makhluk, terimakasih kalian sudah menjaga ku” ucap Azman dengan penuh kesungguhan hati.
“Itu yang ingin kami sampaikan kepadamu, dan kami berharap kedepannya kau bisa terus menjadi orang baik, jangan lagi ragu jika menemukan makhluk jahat, maka binasakan saja langsung, apa yang Daim lakukan itu benar, dia tidak pernah ragu dalam membinasakan kaum yang jahat” Ucap burung jalak.
“Kau mengenal Daim” ucap Azman.
“Kami semua mengenalnya karena dia adalah satu - satunya sosok yang kami kagumi dan segani, Daim juga sudah menceritakan kepada kami jika kau bertemu dengan kaum iblis jahat yang berpura - pura baik, Azman, kami tidak pernah menjadikan makhluk terkutuk sebagai bawahan kami, dan kau harus pahami ini” ucap burung jalak.
“Aku kini sudah paham dan aku juga kini sudah memahaminya, perjalanan ini benar - benar membuka pandanganku” ucap Azman.
“Kau sepertinya masih memikirkan sesuatu?” tanya burung jalak itu.
“Ya, konon katanya ada banyak pendaki yang hilang dan di bawa ke alam lain, dibawa kemana mereka dan kenapa” jawab Azman.
“Kaum yang jahat akan terus berbuat jahat, namun jika aku menemukan mereka maka aku yang akan menunjukkan jalan pulang untuk mereka, tidak semua di gunung ini harus kau tangani” ucap burung jalak lagi.
“Aku paham, dan kemana kita akan menuju” ucap Azman.
“Aku akan membawamu ke arah jalan pulang, dan sisanya adalah perjalanan mu sendiri” ucap burung jalak.
“Terima kasih” ucap Azman.
Azman terus berjalan mengikuti burung jalak tersebut dan setelah empat jam perjalanan mereka pun harus berpisah karena Azman sudah dekat dengan jalan yang menuju ke Candi Cetho, dan juga hanya ada satu jalan di sana sehingga Azman tidak akan tersesat.
Azman pun berpamitan dan tanpa menunda waktu dia langsung menuju arah dia memarkirkan mobilnya, Azman yang melewati Candi Cetho pun tidak lagi mampir melainkan dia terus berjalan.
__ADS_1
Ada banyak orang yang kini berpapasan dengannya bahkan tadi saat dia melewati Candi Cetho dia melihat ada banyak pengunjung di candi itu, dan dia meskipun sekilas mengetahui jika mereka semua adalah manusia, baik yang di Candi Cetho maupun yang berpapasan dengannya itu.