
“Pak Azman saya mohon maaf atas kejadian yang dilakukan oleh bawahan saya itu, dia memang seperti itu dan ingin mencari muka dengan Pak Gubernur dan para pejabat yang hadir jadi datang kesini tanpa berkoordinasi sama sekali dengan saya, tadi saya sudah mendapatkan teguran keras dari Pak Gubernur mengenai perkara tadi, saya sudah meminta dia untuk pulang dan menunggu hukuman yang akan kami berikan.” Ucap Pak Dadang dan kini nampak jika sebagian anggota Tim Sar bersama dengan petugas TNI dan juga petugas kepolisian mulai melipat terpal yang menjadi alas untuk shalat itu.
“Bapak Bapak Maaf, tapi jika kita berbincang disini maka akan mengganggu mereka yang sedang membereskan tempat ini jadi sebaiknya kita berbincang di tenda utama saja dan kita makannya setelah yang lainnya selesai saja, gimana?. Ucap Azman sambil berdiri dan mereka pun ikut berdiri juga.
“Mari Pak kita ke Tenda Utama.” Ucap Pak Jaja.
Mereka berlima langsung berjalan ke tenda utama dan kini terlihat jika suasana sudah mulai normal dan hidup kembali karena semuanya kini merasa tenang karena tadi setelah Azman datang para arwah itu menghilang jadi menambah rasa percaya diri mereka.
Azman dan yang lainnya pun kemudian memasuki tenda utama dan Azman tetap duduk di kursinya yang tadi sedangkan Daim kini tidak terlihat bahkan sejak selesai shalat Isya, Azman tidak melihat keberadaan Daim sama sekali.
“Pak Azman, sekali lagi saya minta maaf atas perilaku dari bawahan saya tadi, ini benar benar membuat saya malu.” Ucap Pak Dadang memulai pembicaraan.
“Iya Pak, tidak saya masukin hati kok Pak, karena saya tahu Ibu itu belum pernah ikut serta dalam aksi kemanusiaan seperti ini dimana semua harus satu suara yaitu dari pemimpin Tim Sar yang jika disini adalah Pak Jaja dan kita tidak perlu membahasnya lagi ya.” Ucap Azman sambil kembali menghisap rokoknya dengan santai.
“Pak Azman maaf apakah semua Arwah itu sudah menghilang.” Ucap Perwira kepolisian itu.
“Belum Pak, mereka masih ada, karena kan mereka memang menghuni hutan ini.” Ucap Azman.
“Pak Azman, apakah tidak masalah dengan hal ini, terus terang saya baru kali ini melihat penampakan arwah gentayangan, ternyata sangat mengerikan.” Ucap Perwira dari TNI.
“Tidak perlu khawatir akan apapun insya Allah semuanya berjalan sesuai rencana kita semua.” Ucap Azman yang masih santai sambil menghisap rokoknya.
“Azman, ingatkan mereka semua untuk mulai jam sembilan malam, paling lambat jam sepuluh malam ini, karena jika tidak akan lebih susah untuk mu besok." Ucap Daim yang terdengar oleh Azman namun tidak terlihat oleh Azman.
__ADS_1
"Bapak bapak, maaf apakah mereka semua sudah bisa jam sembilan malam ini memulai dzikinya? Tanya Azman.
"Sudah Pak, kami sudah menyampaikan selesai makan grup pertama agar menempati posisi mereka lalu jam sembilan malam mereka mulai berdzikir." Jawab Perwira kepolisian itu.
"Pak Jaja, apakah speaker speaker juga sudah diarahkan ke arah desa terkutuk?." Tanya Azman.
"Sudah pak Azman, sudah saya sampaikan untuk diarahkan ke sana, dan kami juga sudah menyiapkan beberapa mobil sound system milik kepolisian sehingga malam ini akan sangat berbeda dengan malam yang lain disini." Jawab Pak Jaja.
"Bagaimana dengan penduduk desa apakah bapak bapak semua sudah meminta izin mereka?." Tanya Azman.
"Sudah pak, bahkan sebagian besar ikut menjadi relawan, dan karena ini ada dzikir bersama jadi tidak ada halangan apapun dengan penduduk sekitar." Jawab Pak Jaja kembali.
"Baguslah jika demikian, karena kita tidak bisa tanpa mereka." Ucap Azman.
"Saya berencana masuk jam enam pagi dan Pak Jaja, apakah senjata tajam yang saya minta sudah anda siapkan." Ucap Azman.
"Pak Azman, saya menyiapkan dua parang panjang dan juga dua pisau sangkur." Ucap Pak Jaja.
"Pak Azman maaf untuk apa senjata tajam itu?." Tanya perwira kepolisian itu.
"Begini Pak, khusus untuk saya, mereka tidak ada bedanya dengan manusia, jadi benda apapun yang bisa digunakan untuk melukai bahkan. membunuh manusia bisa saya gunakan, dan bahkan saya ingin memperlihatkan ini kepada bapak agar bapak tidak kaget jika besok ada suara letusan senjata." Ucap Azman sambil memberikan buku izin kepemilikan dan juga penggunaan senjata api miliknya ke Perwira kepolisian itu.
"Pak Azman, buku senjata anda adalah asli, dan saya akan bertanggung jawab apabila ada yang menanyakan hal ini kedepannya, silahkan anda gunakan senjata anda untuk mengatasi makhluk makhluk gaib itu dan apakah peluru anda cukup?." Ucap Perwira kepolisian itu sambil kemudian mengembalikan buku kepemilikan dan juga penggunaan senjata api milik Azman.
__ADS_1
"Saya hanya membawa satu magazine saja Pak, karena saya hanya membawa senjata saya untuk jaga diri." Ucap Azman.
“Pak Azman, maaf apakah itu cukup?.” Tanya Perwira Kepolisian itu.
“Insya Allah Cukup Pak, hanya untuk keadaan darurat saja kok, karena saya lebih memilih parang dan sangkur saja Pak.” Ucap Azman.
“Pak Azman, apakah bapak mengetahui kondisi orang orang yang ada di dalam desa terkutuk.” Ucap Perwira dari TNI.
“Tidak Pak, saya tidak mengetahui akan detailnya, namun yang jelas mereka masih hidup dan berhak untuk hidup normal seperti kita, jumlah pastinya juga saya tidak ketahui Pak.” Ucap Azman.
“Mohon Ijin Ndan, untuk makan malam komandan dan yang lainnya sudah selesai kami siapkan di tenda sebelah.” Ucap salah seorang dari relawan yang mendatangi tenda itu dan berbicara ke Pak Jaja.
“Baik terima kasih, Bapak bapak semua mari kita nikmati dulu makan malam kita.” Ucap Pak Jaja sambil berdiri dan mereka semua langsung ikut berdiri dan melangkah ke tenda sebelah untuk menikmati makan malam mereka.
Mereka pun setelah selesai menikmati makan malam kemudian kembali ke tenda utama untuk bersantai dan menunggu semuanya selesai dengan makan malam mereka.
“Pak Bupati, mohon maaf, apakah mereka warga desa terkutuk bisa memperoleh bantuan untuk legalitas administrasi kependudukan mereka, karena kan selama ini mereka tidak terdaftar di pemerintahan.” Ucap Azman.
“Iya Pak Azman, sesuai instruksi dari Pak Gubernur jika mereka akan mendapatkan semua legalitas demikian juga dengan surat surat tanah mereka akan kami urus nantinya.” Ucap pak Bupati yang kini berbicara lebih santai ke Azman.
“Alhamdulillah jika demikian, saya sangat senang mendengarnya, kerena dengan begini perjuangan saya jadi tidak sia sia Pak.” Ucap Azman.
“Pak Azman, seharusnya kami yang mengucapkan terima kasih kepada bapak, karena dengan adanya bapak yang membantu penyelamatan warga desa terkutuk maka kami berhasil menuntaskan tugas kami yang tertunda sekian lama.” Ucap Pak Bupati.
__ADS_1