Petualangan Misteri Azman

Petualangan Misteri Azman
Gunung Lawu 6


__ADS_3

“Azman beristirahatlah, aku akan kembali nanti sebelum shalat shubuh” Ucap Daim bertelepati ke Azman.


“Oke” Jawab Azman menjawab telepati dari Daim dan Azman pun kemudian menyimpan telepon selulernya lalu melangkah menuju salah satu kamar yang sudah pilih.


Azman yang belum mengantuk hanya duduk di atas tempat tidur bersandar ke dinding kamar itu.


“Aku tidak tahu apa yang selama ini aku lakukan, perjalanan keliling Indonesia ini malah jadi perjalanan bertemu makhluk gaib” Ucap Azman dalam hatinya sambil membayangkan pertama kali dia dikerjain oleh kuntilanak dan juga pertama kali dia berjumpa Daim serta pertemuannya dengan Azizah.


Malam pun semakin larut, Azman pun memilih untuk beristirahat, dan dia nampak tidur dengan sangat pulas.


Hujan di luar nampak semakin deras dan masih diiringi angin yang sangat kencang.


Tepat jam Empat Pagi Azman pun terbangun dan dia langsung keluar kamar untuk menuju ke kamar mandi namun dia terkejut melihat Daim yang duduk santai di kursi ruang tamu sambil menghisap rokok.


“Azman, kau sudah bangun ternyata” Ucap Daim menyapa Azman.


“Sebentar, aku ingin mencuci wajahku dan mengambil wudhu terlebih dulu” Ucap Azman yang menghiraukan Daim dan langsung berjalan menuju ke kamar mandi.


Daim hanya tersenyum dan tetap dalam posisinya semula, yaitu duduk santai sambil menghisap rokok.


Lima menit berlalu dan Azman pun langsung menemui Daim lalu duduk di depan Daim.


“Daim, apakah sudah selesai?” Tanya Azman sambil menuangkan air dari poci ke gelas lalu meminumnya perlahan.


“Azman, mereka itu kaum siluman, dan berdasarkan pengakuan dari salah satu siluman ternyata yang kau panggil Mbah Mirno adalah jelmaan dari kaum Iblis yang menampakkan diri sebagai Mbah Mirno” Jawab Daim.


“Lalu apakah kau sudah bereskan juga?” Tanya Azman lagi.

__ADS_1


“Belum, aku tidak bisa memasuki area candi itu, dan dia bersembunyi disana, dan sepertinya kali ini perjalananmu harus sendiri lagi” Jawab Daim dengan sangat santai seolah tidak terbebani jika Azman pergi sendirian.


“Ada apa memangnya, sampai kau tidak bisa ikut dengan ku’ Ucap Azman yang kemudian menyalakan sebatang rokoknya.


“Azman, disana ada banyak kaum ku dan kaum iblis, jika aku ikut maka akan ada peperangan yang akan merusak alam, dan aku memilih untuk tidak kesana dari pada manusia yang ada disana mendampatkan dampak kerusakannya” Ucap Daim.


“Jadi begitu, lalu apakah akan aman untuk aku kesana sendirian, atau aku harus membatalkan perjalanan ini” Ucap Azman.


“Akan aman, dan kau tidak perlu khawatir karena mustika yang sudah masuk ke tubuhmu itu akan melindungimu nantinya” Ucap Daim bersamaan dengan terdengarnya suara Adzan Subuh.


“Sudah Adzan, sebaiknya kita ke masjid saja” Ucap Azman sambil berdiri dan demikian juga dengan Daim.


Mereka berdua pun langsung keluar dari paviliun dan dengan menggunakan payung mereka berjalan menuju masjid, karena memang hujan masih turun dengan sangat deras.


Sesampainya di masjid mereka berdua pun bertemu dengan Pak Soedirjo sang pemilik rumah sekaligus imam masjid, yang sudah ada disana bersama beberapa orang lainnya, yang memang akan melaksanakan ibadah sholat subuh berjamaah.


Ibadah sholat subuh itu diikuti oleh sepuluh orang termasuk Azman dan Daim, dan mereka semua melanjutkan dengan berdzikir bersama.


“Saya hanya menunaikan kewajiban saya sebagai umat Pak, semoga nantinya masjid ini bisa lebih banyak jamaahnya dan bisa banyak yang bisa khatam Quran disini” Ucap Azman.


“Insyaallah kami akan menciptakan banyak ahli agama kedepannya” Ucap Pria Sepuh itu lagi.


“Azman dan Daim, mari kita pulang, Bapak sudah istri Bapak menyiapkan sarapan untuk kalian berdua” Ucap Pak Soedirjo sambil berdiri.


Mereka pun langsung berpamitan dan nampak jika kini hujan sudah reda, Azman pun berjalan berdampingan dengan Pak Soedirjo sedangkan Daim berjalan santai di belakang Azman.


“Desa ini ternyata memiliki banyak bangunan kuno ya Pak” Ucap Azman yang kini menyadari jika rumah rumah yang ada disana mirip dengan rumah di desa tengah lembah yang sebelumnya dia kunjungi.

__ADS_1


Rumah rumah disana memang bangunan tua yang kebanyakan terbuat dari kayu jati tua sehingga Azman terbayang dengan desa di tengah lembah.


“Azman, di desa ini memang banyak bangunan tua yang masih asli, jika rumah bapak memang bangunan kayu namun bangunan baru, sepertinya saat kau terakhir kesini tidak memperhatikan sekitar ya” Ucap Pak Soedirjo.


“Benar Pak, saya memang tidak memperhatikan kiri dan kanan” Ucap Azman dan bersamaan dengan mereka sampai di rumah Pak Soedirjo.


“Kalian berdua ikut ke rumah Bapak dulu ya, kita sarapan bersama” Ucap Pak Soedirjo meminta Azman dan Daim ikut masuk ke rumahnya.


“Baik Pak, dan kebetulan saya memang sudah cukup lapar Pak” Ucap Daim mendahului Azman berbicara sambil memegang perutnya.


“Kau ini” Ucap Azman sambil melihat tajam ke Daim karena tidak menyangka jika Daim akan seperti itu.


“Sudah - sudah tidak perlu bertengkar, ayo kita masuk” Ucap Pak Soedirjo yang mengira Azman marah ke Daim dan dia berusaha menengahinya.


Mereka bertiga pun langsung masuk ke rumah Pak Soedirjo dan Pak Soedirjo sendiri mengajak Azman dan Daim langsung ke ruang makan, nampak disana sudah ada istri dan anak Pak Soedirjo yang menunggu mereka.


Mereka pun makan dengan lahap dan selesai makan Pak Soedirjo pun meminta Azman dan Daim untuk berbincang santai di teras rumahnya.


“Azman dan Daim kenapa kalian ingin ke Candi Cetho, kalian kan muslim” Ucap Pak Soedirjo.


“Saya yang akan kesana sendiri Pak, karena saya ingin mempelajari ornamen disana, konon candi Cetho kan di bangun pada era para raja” Ucap Azman yang tidak ingin menyampaikan maksud yang sebenarnya.


“Azman, ada banyak misteri di Candi Cetho, konon di sana adalah area peristirahatan terakhir para raja, dan kau tahu ada banyak juga cerita mistis di sana” Ucap Pak Soedirjo.


“Dari apa yang saya dengar juga begitu Pak, namun anda jangan khawatir, saya akan baik - baik saja Pak” Ucap Azman.


“Dari kemarin kan hujan jadi jalan kesana pasti sangat licin, menurut Bapak sebaiknya kau urungkan niatmu itu dan mungkin kau bisa mencari hari lain disaat cuaca yang mendukung untuk mendaki” Ucap Pak Soedirjo kembali.

__ADS_1


“Kebetulan memang saya hanya memiliki waktu yang terbatas Pak, dan mumpung masih senggang jadi saya akan tetap kesana, kira - kira kesana berapa lama ya Pak” Ucap Azman.


“Untuk kesana dari sini tidak jauh, namun akan lebih cepat jika menggunakan sepeda motor, ada jalan yang lebih singkat sampai ke titik awal pendakian” Ucap Pak Soedirjo.


__ADS_2