
Azman terlihat berjalan cukup santai namun dia juga sebenarnya sangat waspada, karena dia tahu jika makhluk gaib itu bisa sepenuhnya menghilangkan aura mereka sehingga tidak dapat diketahui keberadaannya.
Jalan yang dia lewati itu adalah jalan yang tadi siang dia lewati bersama pak Jaja sehingga meskipun tanpa penerangan dia masih bisa mengetahui arah tujuannya, namun jalanan tanah itu ternyata lebih licin dari jalan setapak di dalam hutan jati.
Tidak memerlukan waktu lama untuk Azman sampai di rumah kecil milik Mbah Hardiyata dan Azman tidak memasuki rumah itu namun dia mengendap - ngendap ke rumah milik Ibu dan anak yang kosong.
Meskipun tidak ada seorang pun warga desa yang ada di luar rumah namun Azman tetap berhati - hati karena dia tidak ingin ada seorangpun yang melihatnya.
Suasana desa itu benar - benar mencekam karena tidak ada seorang penduduk pun yang menyalakan lampu di teras mereka, dan rumah - rumah penduduk juga nampak gelap, seolah - olah para penduduk desa itu tidak ada di rumah mereka.
Sudah ada dua kuntilanak yang terbang di atas rumah penduduk yang berhasil Azman lihat namun Azman tetap melangkah ke arah rumah kosong itu, dan dia tidak menggubris kedua kuntilanak tersebut.
“Ternyata desa ini jika malam laksana desa hantu ya, sangat gelap gulita, entah kenapa penduduk desa ini seperti takut rugi menyalakan lampu teras rumah mereka” Ucap Azman berbicara sendirian.
Azman pun sampai ke rumah kosong yang di tinggalkan oleh Ibu dan anak tersebut dan dengan perlahan Azman pun memasuki rumah tersebut.
Sesampainya di dalam rumah itu Azman yang kesusahan melihat kemudian menyalakan senter di telepon selulernya dan dia melangkah menuju dapur untuk mengambil lilin karena saat siang tadi dia melihat ada beberapa lilin di rak dapur.
Azman pun menyalakan lilin tersebut dan dia hanya menyalakan satu lilin saja namun belum satu menit lilin itu menyala tiba - tiba angin berhembus dan mematikan api lilin padahal tidak ada satu jendela pun yang terbuka dan pintu juga tertutup rapat.
__ADS_1
Suhu udara di rumah kosong itu pun berubah drastis menjadi dingin.
“Keluarlah, aku sudah tahu kau dari tadi siang bersembunyi di kamar mandi” Ucap Azman pelan namun tetap terdengar dan Azman pun kembali menyalakan lilin tersebut lalu meletakkan lilin di atas sebuah piring kecil yang ada di atas meja dapur.
Nampak seorang perempuan keluar dari dalam kamar mandi itu dan Azman melihat jika itu hanyalah Arwah bukan kuntilanak, Arwah perempuan itu menggunakan pakaian serba putih dan memiliki rambut sebahu dengan wajah yang sangat pucat dan Azman bisa melihat jika di leher arwah itu ada luka seperti sabetan pisau atau golok.
Azman tidak memusingkan sosok itu dan dia pun kemudian duduk di salah satu kursi meja makan yang terdekat dengannya lalu menyalakan sebatang rokoknya dan menghisapnya perlahan dengan pandangan tetap ke arwah penasaran tersebut.
Arwah itu melayang satu meter di depan Azman dan Azman kini bisa lebih jelas melihat wajah dari arwah gentayangan tersebut yang Azman duga jika itu adalah arwah dari pada sang Ibu yang hilang.
“Tolong bantu saya, anak saya dalam bahaya” Ucap Arwah gentayangan tersebut.
“Dimana anakmu itu dan bahaya apa yang mengintainya, sebaiknya kau jelaskan dari awal kejadiannya kepada ku jadi aku bisa memahami masalahmu” Ucap Azman.
“Apa yang kau sembunyikan, aku tidak akan membantumu jika kau tidak jujur kepadaku sepenuhnya” Ucap Azman dengan sangat tegas.
“Parman adalah anak kandung Mbah Hardiyata dari istri keduanya yang ada di desa sebelah, dan saat aku di bunuh aku melihat seperti ada sosok yang mirip dengan mbah hardiyata, namun aku tidak melihat wajahnya” Ucap Arwah gentayangan itu lagi.
“Bukankah kau bisa mencari anak mu itu, tapi kenapa kau malah memilih bersembunyi di dalam kamar mandi bukannya mencari anak mu” Ucap Azman.
__ADS_1
“Aku tidak bisa keluar dari rumah ini karena aku takut jika kuntilanak dan genderuwo yang berkeliaran itu menemukanku, sebelumnya aku di kejar oleh mereka dan aku sempat mau di binasakan oleh mereka juga” Ucap Arwah gentayangan.
“Lalu dimana tubuh mu?” Tanya Azma.
“Parman membuang tubuhku ke sumur tua yang ada di hutan pinus, di tengah makam kuno” Jawab Arwah gentayangan.
“Aku akan menghabisi kuntilanak serta genderuwo yang ada di luar dan tugasmu adalah mencari anak mu, jika kau sudah menemukannya, langsung kabari kepadaku, apakah kau bisa?” Ucap Azman sambil mematikan rokoknya dan menyalakan sebatang lagi.
“Terima kasih atas bantuan mu, dan sekali lagi mohon bantu aku menyelamatkan anak ku” Ucap Arwah gentayangan itu yang langsung menghilang dari pandangan Azman.
Azman menarik nafas dalam - dalam dan dia sangat merasa marah mendengar kejadian yang sesungguhnya ini, di satu sisi dia sebelumnya sudah merasakan mempunyai pirasat mengenai mbah Hardiyata yang terlibat dengan kasus hilangnya Ibu dan anak namun di sisi lain dia tidak menyangka jika kematian Ibu yang hilang itu sangat tragis.
“Memperkosa lalu berusaha membunuh sang bayi, dan kemudian membunuh untuk dijadikan tumbal, sungguh manusia keji, aku tidak akan membiarkan kalian bebas merdeka” Ucap Azman sambil mengambil telepon selulernya dan dia langsung menghubungi Pak Jaja melalui panggilan telepon.
“Azman, Bapak masih di hutan pinus, jalan kesitu sangat licin dan ada satu mobil di rombongan ku yang kepater jadi barusan aku tarik mobilnya” Ucap Pak Jaja membuka percakapan telepon itu yang mengira jika Azman menanyakan kenapa dia belum sampai.
“Pak Jaja, tolong sampaikan ke pihak kepolisian untuk ke lokasi makam kuno dan di tengah makam itu ada sumur tua, tolong sampaikan agar pihak kepolisian mengecek apakah ada mayat perempuan disitu?” Ucap Azman.
“Azman, apakah kau sudah menangkap pelakunya?” Tanya Pak Jaja.
__ADS_1
“Belum Pak, Namun Arwah dari perempuan yang ada di dalam sumur itu yang memberitahu saya, saya sudah mendapat gambarannya dan jika memang benar jasad perempuan itu ada di dalam sumur tersebut maka apa yang ucapkan oleh arwah tadi adalah kebenaran” Jawab Azman.
“Baik, Bapak akan mengurusnya, dan sepertinya Bapak mengetahui dimana lokasi makam kuno itu jadi biar bapak saja yang memimpin kesana, apakah kau tidak masalah jika kau sendirian disana” Ucap Pak Jaja.