
“Sayangku, malam ini kau bisa tidur di mobil dulu saja ya, itu akan lebih aman untuk mu sambil menunggu ku.” Ucap Azman yang baru teringat jika malam itu dia belum menyiapkan tempat menginap untuk Azizah.
“Aku lupa memberitahu mu jika Bu Neneng sudah menyiapkan kamar untuk kita, jadi aku bisa tidur disana.” Ucap Azizah.
“Itu Benar, kalian sudah Ibu siapkan kamarnya, dan jangan khawatir dengan Azizah karena selama dirimu tidak ada, Ibu akan menjaganya.” Ucap Bu Neneng yang tiba - tiba datang bersama dengan Pak Sudrajat dan langsung bergabung di teras rumah itu.
“Pak Azman, apakah anda benar akan ke mata air itu malam ini, entah kenapa Bapak merasa ini kurang tepat, apa tidak sebaiknya besok pagi saja kita bersama - sama kesananya.” Ucap Pak Sudrajat.
“Tidak Pak, saya memang harus kesana malam ini, dan ini untuk kepentingan banyak orang juga bukan, jadi menurut saya tidak baik jika saya tunda - tunda.” Ucap Azman sambil melihat jam tangannya dan sudah jam 20.30 Wib.
“Jika demikian, sebentar Bapak siapkan senter besar untuk mu.” Ucap Pak Sudrajat.
“Itu juga tidak perlu Pak, perlengkapan saya sudah lengkap, kebetulan saya memiliki perlengkapan mendaki di mobil saya, baiklah ini sudah cukup malam saya permisi dahulu, dan saya titipkan istri saya disini dulu ya Pak dan Bu.” Ucap Azman sambil berdiri.
Azman pun langsung berpamitan dengan semuanya lalu dia mulai berjalan meninggalkan rumah Pak Sudrajat, dia pun langsung menuju mobilnya dan mengeluarkan sebuah tas ransel yang memang berisi perlengkapan berkemah miliknya.
Malam itu cuaca sangat dingin dan angin juga berhembus cukup kencang, Azman pun menyadari jika dengan cuaca seperti ini dia sendiri tidak akan kuat sehingga dia pun mengambil jaketnya dan tidak lupa dengan jas hujan miliknya.
__ADS_1
“Sebaiknya aku berkemah di sana saja.” Ucap Azman sambil menutup mobilnya dan melihat ke arah langit yang tidak nampak satu pun bintang bahkan bulan pun tidak dapat di lihatnya.
Azman pun langsung melangkah menuju ke arah hutan yang menjadi lokasi sumber mata air dengan menyusuri jalanan kecil di samping masjid itu.
Dengan menggunakan senter kepala sehingga Azman dapat mudah melihat jalan yang di laluinya, karena tidak ada penerangan apapun di jalan setapak itu, bahkan penerangan alam pun tidak ada.
“Whooooooooo whoooooooooooo whooooooooooooo.” terdengar suara burung hantu namun Azman sendiri tidak bisa memastikan asal suara tersebut.
“Tokkkkkkk keeeeeeeeeek” suara tokek juga terdengar olehnya.
Perjalanan malam itu benar - benar tantangan untuk Azman, karena selama ini dia belum pernah berjalan malam seperti saat ini, di tambah dengan cuaca yang entah kenapa terasa sangat dingin bahkan dia yang sudah menggunakan jaket pun merasa jika cuaca kali ini benar - benar terasa dingin sampai tulangnya.
“Aku harus bisa, aku tidak boleh gagal, ini bukanlah pendakian ke gunung everest, dan aku juga sudah pernah mendaki gunung everest jadi tidak mungkin aku tidak bisa menuju ke sumber mata air itu.” Ucap Azman berbicara sendiri menguatkan tekadnya.
Selangkah demi langkah dan akhirnya kini dia sudah mulai memasuki perkebunan milik penduduk desa dan ini artinya tidak lama lagi dia akan memasuki hutan, namun ternyata cuaca tidak berpihak kepadanya, air hujan mulai menetes sehingga memaksa Azman untuk berhenti dan menggunakan jas hujannya.
Jas hujan yang digunakan oleh Azman adalah Jas hujan model Ponco sehingga dia masih dengan mudah bisa berjalan dan bisa mengamankan tas ransel yang ada di punggungnya itu.
__ADS_1
Hujan pun mulai turun dengan cukup deras di sertai dengan angin kencang, sementara itu di rumah Pak Sudrajat nampak Azizah yang berdiri di teras rumah Pak Sudrajat karena dia sangat khawatir dengan Azman, namun dia sudah menyepakati untuk tidak ikut bersama dengan Azman, dia paham alasan Azman selain ingin dia beristirahat setidaknya dengan kehadiran Azizah di desa itu maka tidak akan ada gangguan dari makhluk gaib di desa itu selama proses Azman menyelesaikan makhluk gaib di lokasi sumber mata air.
“Azizah, masuk dan beristirahatlah, Ibu yakin jika suamimu tidak akan kenapa - napa.” Ucap Bu Neneng yang tiba - tiba datang menemui Azizah.
“Iya Bu, hanya saja hujan badai ini menambah rasa khawatir saya.” Ucap Azizah sambil tetap melihat ke arah Azman dan memang dia yang memiliki penglihatan berbeda dengan manusia pada umumnya dapat melihat Azman yang sedang bersusah payah berjalan di tengah perkebunan warga dengan kondisi hujan badai itu.
“Tidak ada yang bisa kita lakukan saat ini selain masuk dan berdoa, dan Ibu yakin suami mu akan kecewa jika kau sampai tidak beristirahat, ibu juga khawatir dengan suami mu itu namun hal bisa kita lakukan adalah berpikiran positif serta berdoa, semoga dengan doa kita akan ada mujizat yang memberikan keselamatan untuk suamimu, Bapak saja saat ini masih berdzikir mendoakan keselamatan suami mu.” Ucap Bu Neneng.
“Baik Bu, mari kita masuk, saya juga akan berdzikir sambil istirahat di kamar.” Ucap Azizah sambil membalikkan badannya dan langsung masuk kedalam rumah lalu masuk ke kamar tamu yang memang di siapkan untuk dia dan Azman demikian juga Bu Neneng yang ikut masuk dan tidak lupa mengunci pintu lalu masuk ke kamarnya yang ada di seberang kamar Azizah.
“Azizah nampak sangat khawatir Pak, seharusnya kita tidak mengijinkan Azman ke mata air malam ini.” Ucap Bu Neneng sesaat dia masuk ke dalam kamarnya dan menutup serta mengunci pintu kamarnya itu.
“Bapak juga sangat khawatir, namun saat ini tidak ada yang bisa Bapak lakukan, jika Bapak menyusulnya maka yang ada Bapak yang akan menjadi beban untuknya.” Ucap Pak Sudrajat yang masih dalam posisi duduk sila di atas sajadah sedangkan Bu Neneng duduk di samping tempat tidurnya.
Sementara Azizah kini berdiri di depan jendela kamarnya dan memandang keluar, dia berusaha untuk melihat Azman lagi namun ada kabut gelap yang kini menghalangi pandangannya sehingga dia tidak dapat lagi melihat suaminya dan tidak dapat mengetahui kondisi suaminya.
“Ada apa ini, kenapa ada kabut hitam yang menghalangi pandanganku, bukankah barusan saja aku masih bisa melihat suamiku, tapi kini aku benar benar tidak bisa, dan ini kenapa kini desa ini di tutupi kabut hitam, ada apa ini sebenarnya.” Ucap Azizah berbicara dalam hatinya sambil terus mencoba melihat ke arah hutan yang menjadi sumber mata air sekaligus tempat tujuan kepergian Azman malam itu.
__ADS_1