Petualangan Misteri Azman

Petualangan Misteri Azman
Yogyakarta 10


__ADS_3

“Ada Jaja toh, mbah kira siapa, sudah lama Nak.” Ucap Nenek tersebut yang langsung duduk di samping Mbah Mirno sedangkan kedua orang wanita itu langsung masuk ke bagian dalam rumah mbah mirno.


“Sudah lumayan Mbah, Mbah putri apa kabarnya.” Ucap Pak Jaja.


“Kabar baik Nak, Mbah baru dari Candi Cetho, ini siapa Nak, apa ini anak mu?.” Ucap Nenek tersebut yang merupakan istri dari mbah Mirno.


“Bukan Mbah Putri, ini Pak Azman, memang sudah seperti anak untuk saya.” Ucap Pak Jaja.


Mereka berempat tetap berbincang dan satu jam kemudian Pak Jaja pun pamit pulang, Azman sendiri menyampaikan jika mereka berdua akan kembali jika sudah senggang untuk mendaki Gunung Lawu dan berkunjung ke Candi Cetho.


Seusai ucapan Azman sebelumnya, perjalanan pulang ini Azman yang mengemudi dan Pak Jaja kali ini yang duduk sambil bersantai dan menghisap rokok.


“Pak Azman, kenapa anda ingin mendaki ke Gunung Lawu?.” Tanya Pak Jaja.


“Saya hanya ingin jalan - jalan saja Pak, dan juga saya ingin berolahraga.” Jawab Azman yang kemudian ikut menyalakan sebatang rokoknya.


“Kapan anda ingin kesana? Biar saya sesuaikan jadwal saya dan bisa menemani anda, saya juga sudah lama ingin napak tilas ke Hargo Dalam dan Hargo Dumilah.” Ucap Pak Jaja.


“Saya sebenarnya kapanpun bisa Pak, yang jadi pertanyaan itu Bapak kapan bisa santai, dengan padatnya jadwal Bapak saat ini, oh iya Ibu sudah sampai rumah loh Pak, tadi Azizah mengirim pesan singkat ke saya, katanya Ibu malah tidak bisa menghubungi Bapak.” Ucap Azman.


Pak Jaja nampak kaget karena dia memang lupa jika istrinya menyusul ke Yogyakarta, dan Pak Jaja juga lupa jika tadi baterai telepon selulernya itu sudah hampir habis.


“Ini saya kelupaan mengisi baterainya, sepertinya nanti di jalan pulang kita harus mampir membeli cemilan kesukaan istri saya.” Ucap Pak Jaja sambil mencolokkan kabel charger untuk mengisi baterai telepon selulernya itu.

__ADS_1


“Soal itu Istri saya juga menyampaikan jika sudah masak banyak untuk kita makan bersama Pak, sudah anda jangan khawatir seperti itu, saya yakin jika Ibu tidak akan marah, untung Ibu mengetahui nomor Azizah dan tadi Azizah yang jemput ke Bandara.” Ucap Azman.


“Semoga saja Pak, usia tua ini benar - benar tidak bisa di bohongi.” Ucap Pak Jaja sambil kembali menghisap rokoknya perlahan.


“Pak Jaja, dusun kawan anda itu apakah ada di jalur ini juga?.” Tanya Azman.


“Beda jalur Pak, itu ke arah pantai indragiri dan sebaiknya kita langsung pulang saja kali ini, agar besok saat pertemuan kita bisa segar dan juga kita bisa mampir langsung ke dusun itu.” Ucap Pak Jaja.


“Pak Jaja, saya sebetulnya sedikit penasaran untuk candi cetho dan juga saya ada rasa penasaran mengenai Mbah Mirno, berapa usia Mbah Mirno Pak?.” Ucap Azman.


“Saat saya pertama kali bertemu dengan Mbah Mirno usianya masih tiga puluh tahunan, dan sekarang kemungkinan sudah tujuh puluh tahunan, dan memang dari dulu gemuk seperti itu, kadang saya tidak habis pikir dengan tubuh segemuk itu dia bisa mendaki gunung lawu dengan tidak kecapean sama sekali, memangnya ada apa Pak?.” Ucap Pak Jaja.


“Tidak Pak, hanya saja usia yang nampak sepertinya tidak sesuai dengan usia aslinya, saya menduga jika dia jauh lebih tua dari tujuh puluh tahunan, dan apakah anda dari dulu mengetahui jika ada banyak makhluk gaib jadi pengikutnya?.” Ucap Azman.


“Tadi yang memindahkan barang - barang yang kita bawa itu adalah makhluk gaib Pak, dan nampaknya mereka adalah roh dari abdi dalam istana masa lalu, dan ini menunjukkan jika Mbah Mirno sudah berusia lebih tua dari penampilannya, sangat susah untuk roh leluhur mau nurut ke manusia, kecuali jika manusia itu memang keturunan dari orang yang mereka layani saat mereka hidup.” Ucap Azman.


“Maksud anda? Mbah Mirno itu salah seorang dari kerajaan masa lalu?.” Tanya Pak Jaja.


“Mungkin seperti itu dan mungkin ini hanya praduga saya saja, entahlah Pak, satu - satunya cara adalah menuju ke tingkat empat belas di Candi Cetho.” Jawab Azman.


“Anda salah Pak Azman, Candi Cetho hanya tingkat sembilan saja bukan empat belas.” Ucap Pak Jaja.


“Pak Jaja, yang berhasil di pugar itu sembilan tingkat dan lima tingkat lagi tidak berhasil dipugar jadi sebenarnya ada empat belas tingkat disana, Candi Cetho itu sendiri menyimpan banyak jawaban Pak jika anda ingin mengetahui sejarah dari Gunung Lawu, sebelumnya saya sudah mencari tahu tentang Candi Cetho dan dusun Cetho sendiri Pak dan ada banyak misteri disana.” Ucap Azman.

__ADS_1


“Bisakah anda berikan sedikit gambaran.” Ucap Pak Jaja.


“Moksa.” Ucap Azman singkat.


“Prabu Brawijaya ke lima memilih moksa di gunung lawu dan semua bawahannya juga ikut, apakah hal ini nyata.” Ucap Pak Jaja.


“Wallahualam, tidak ada yang bisa menjawab ini Pak, pada masa itu saya belum lahir dan tidak ikut serta.” Ucap Azman mencandai Pak Jaja.


“Anda bisa saja, saya serius anda jawab bercanda.” Ucap Pak Jaja.


“Pak Jaja, apakah anda percaya dengan roh leluhur yang masih ada menjaga keturunannya dan juga menjaga suatu area.” Ucap Azman.


“Saya percaya Pak, meskipun saya tidak bisa melihatnya dan mengetahui kebenarannya tapi saya mempercayai hal itu.” Ucap Pak Jaja.


“Saya dulu malah tidak percaya Pak, dulu sebelum saya bisa berkomunikasi dengan mereka saya tidak sama sekali mempercayai mereka, buat saya hal mistis itu hanyalah karangan belaka yang tidak masuk akal dan tidak dapat dibuktikan sama sekali.” Ucap Azman yang masih mengemudi dengan santai dan menjaga agar kecepatan mobil itu hanya empat puluh kilometer per jam saja.


“Terlalu banyak misteri di alam ini, dan saya yakin jika gunung - gunung menyimpan lebih banyak misteri dari lainnya.” Ucap Pak Jaja.


“Saya setuju dengan hal itu Pak, itulah kenapa ada banyak peninggalan sejarah di atas gunung, dan semoga saja saya bisa mengunjungi semua gunung yang ada di Indonesia ini.” Ucap Azman.


“Pak Azman, hari ini kita menduga akan hujan lebat namun ternyata tidak ada hujan sama sekali ya.” Ucap Pak Jaja.


“Mungkin belum Pak, oh iya Pak Jaja dulu saat anda hilang dan ditemukan oleh Mbah Mirno itu apakah anda melihat saat Mbah Mirno datang atau tiba - tiba ada di depan kalian semua.” Ucap Azman.

__ADS_1


__ADS_2