Petualangan Misteri Azman

Petualangan Misteri Azman
Gua Kematian 6


__ADS_3

Azman dan Azizah terus berbincang hingga Pak Danu dan Pak Tatang kembali kedalam balai desa menemui mereka berdua, Pak Tatang juga membawakan secangkir kopi untuk mereka semua namun untuk Azizah berbeda karena Azizah mendapatkan secangkir teh manis bukan kopi.


“Pak Azman, penduduk sudah siap semua untuk berangkat hanya tinggal menunggu anda dan pihak kepolisian saja.” Ucap Pak Tatang yang merupakan Kepala Desa itu.


“Kami juga sudah siap, tapi kita tidak perlu terburu - buru juga, sebaiknya kita berangkat selesai menikmati kopi ini saja.” Ucap Pak Danu.


“Apakah anak buah anda sudah mengawasi dan menjaga sumur tua itu?.” Ucap Azman.


“Sudah Pak, ada sepuluh orang yang mengawasi sumur tua itu, namun sudah aku sampaikan agar tidak mencolok dan jika ada yang mendekati sumur itu siapapun orangnya saya minta agar mereka menangkap serta menggeledahnya saja, selain itu untuk orang - orang yang kita curigai saya sudah meminta anak buah saya mengawasi mereka, mereka tidak akan bisa lepas dari kami.” Ucap Pak Danu.


“Baguslah Pak, oh iya, drone saya di mobil apakah anda punya drone, saya ingin melihat situasi jurang kematian terlebih dulu menggunakan drone.” Ucap Azman.


“Saya sudah memiliki videonya pak, tadi saat kami datang saya sudah memerintahkan anak buah saya untuk melihat lokasi dengan drone, sebentar saya kirimkan videonya kepada anda.” Ucap Pak Danu yang langsung mengambil telepon selulernya lalu mengirim video yang di maksud melalui pesan singkat.


Azman dan Azizah langsung melihat video tersebut, mereka berdua kini mengetahui jurang kematian melalui rekaman video tersebut dan melihat jika ada tanah lapang disana yang bisa di gunakan oleh mereka.


Suara halilintar tiba - tiba terdengar oleh mereka semua dan tidak lama kemudian hujan deras pun terjadi, hal ini pun mengejutkan semua yang ada disana termasuk Azman dan Azizah.


“Sepertinya kita harus menunggu hujan reda terlebih dulu, apakah disini biasa seperti ini, hujan tiba - tiba turun padahal sebelumnya panas terik dan sangat cerah.” Ucap Azman.


“Tidak Pak, biasanya tidak seperti ini, daerah kami ini sama seperti daerah lainnya dan biasanya hujan turun dengan pertanda yang normal.” Ucap Pak Tatang.

__ADS_1


“Sepertinya ada yang sengaja memanggil hujan turun untuk menunda perjalanan kita.” Ucap Pak Danu.


“Ya sudah tidak masalah, kita tunggu saja sampai reda dan tanah sedikit kering, tujuan utama adalah menghabisi semua makhluk gaib itu, kedua kita buka kembali Gua Kematian agar penduduk bisa menambah pemasukan mereka, ketiga menangkap biang keladinya.” Ucap Azman.


“Saya setuju, karena kesana dalam kondisi hujan juga tidak bagus untuk kita.” Ucap Pak Danu.


“Saya juga setuju Pak, tubuh ini sudah tidak bisa bermain air hujan.” Ucap Pak Tatang.


“Oh Iya, ini batu apa ya.” Ucap Azman sambil memberikan batu yang dimilikinya ke Pak Danu.


“Ini batu pancawarna Pak, dan memang daerah sini banyak sekali batu ini, karena jika sudah di olah hasilnya bisa seperti milik saya.” Ucap Pak Danu sambil menyenter batu tersebut dengan senter kecil miliknya dan nampak jika batu itu transparan serta memiliki banyak warna keluar.


“Apakah itu memiliki nilai jual yang cukup tinggi?.” Tanya Azman.


“Pak Azman anda menemukan batu ini dari mana?, batu seperti ini ada banyak di dalam Gua, dulu selain kami memanen sarang burung walet kami juga memanen batu ini, namun kami batasi mengambilnya, karena namanya batuan alam jika di panen terus akan habis, selain itu kami menjaga agar harga jualnya tetap stabil.” Ucap Pak Tatang.


“Saya menemukannya di dekat mulut Gua yang ada di pinggir laut tadi Pak.” Ucap Azman.


“Gua kematian ini harus kembali untuk warga sini, dan aku tidak menemukan alasan kenapa di harus di tutup jika memang apa yang ada di Gua itu murni kebaikan alam untuk penduduk desa.” Ucap Azizah.


“Itu benar Bu, kami juga tidak ingin menutupnya, namun kami tidak ingin ada aksi yang membahayakan para penduduk desa ini juga, karena situasinya waktu itu kan benar - benar kacau, terlalu banyak aksi yang menginginkan Gua Kematian di tutup, tapi ternyata kecelakaan yang merenggut nyawa juga masih terus ada.” Ucap Pak Danu.

__ADS_1


“Iya Pak, semoga saja kita bisa mengakhiri ini semua, maaf apakah anda sudah membawa perlengkapan malam hari, takutnya hujan ini sampai sore.” Ucap Azman sambil  melihat ke arah pintu masuk dan melihat ada ibu warung yang datang dengan membawa sebuah nampan dan di atas nampan itu terlihat pisang serta singkong rebus.


“Mohon maaf Bapak Kepala Desa, ini cemilan nya terlambat.” Ucap Ibu warung sambil meletakkan dua piring yang berisi pisang rebus dan juga singkong rebus di atas meja.


“Terima kasih ya, dan yang lain apakah sudah diberikan juga nanti tagihannya biar saya saja yang membayarnya.” Ucap Pak Tatang.


“Setelah ini akan saya bagikan Pak, oh iya itu tadi saya lihat jika di jurang kematian sekarang ini ada kabut hitam yang menutupinya, tapi masih aman untuk yang melintasi jalanan karena kabut itu hanya di area jurang saja.” Ucap Ibu warung.


“Iya terima kasih informasinya, tolong untuk yang lainnya di bagikan juga ya, jika mereka mau makan atau minum sekalian saja masukkan ke tagihan saya.” Ucap Pak Tatang.


“Baik Bapak Kepala Desa, semuanya saya permisi dulu.” Ucap Ibu Warung sambil kemudian melangkah keluar dari dalam balai desa itu.


“Bapak dan Ibu silahkan, ini semua hasil desa kami.” Ucap Pak Tatang mempersilahkan semuanya untuk mencicipi pisang dan singkong rebus itu.


Azman dan Pak Danu mengambil satu pisang rebus sedangkan Azizah nampak mengambil singkong rebus lalu mulai memakannya.


“Ini sungguh enak.” Ucap Azizah.


“Benar, pisang rebus ini juga enak, dan rasanya juga cukup nikmat, cemilan yang tepat di kala hujan seperti ini.” Ucap Azman.


“Anda benar Pak, saya setuju dengan anda, dan kami sudah membawa banyak lampu sorot yang bisa kita gunakan nanti jika memang kita harus kesana malam hari, oh iya Pak Tatang, kabut hitam itu suatu pertanda, apakah malam nanti bulan purnama akan mencapai puncaknya?.” Ucap Pak Danu.

__ADS_1


“Sepertinya nanti malam bulan purnama penuh dan apakah kita tetap akan mengunjungi lokasi itu malam ini?, karena makhluk gaib yang ada disana jika sudah ada kabut hitam sangat agresif dan sebaiknya Pak Danu menutup jalanan, agar tidak ada korban.” Ucap Pak Tatang.


“Menutup jalanan itu tidak mungkin, nanti biar saya simpan mobil dinas saja di sebelum tikungan itu, jadi jika ada yang melintas mereka akan berhati - hati, semoga saja ini bisa mencegah adanya kecelakaan yang merenggut nyawa.” Ucap Pak Danu.


__ADS_2