Petualangan Misteri Azman

Petualangan Misteri Azman
Hadiah dari sang putri


__ADS_3

Langkah kaki Azman tiba - tiba berhenti karena dia melihat seorang wanita muda yang nampak mengawasinya dari jarak lima meter darinya, dan wanita itu duduk bersandar di sebuah pohon.


“Wanita ini bukan manusia dan bukan juga kaum Jin, tapi dari kaum arwah, sungguh hebat bisa menampakkan diri di siang hari seperti ini” ucap Azman dalam hatinya sambil berjalan ke arah wanita itu.


Wanita itu mengenakan pakaian khas para putri di istana para raja, dan Azman bisa melihat dengan jelas jika kulit wanita itu sangat putih dan mulus, seolah tanpa noda apapun.


Azman tidak mendatangi langsung wanita itu, melainkan memilih duduk bersandar di pohon sebelah pohon yang digunakan wanita itu bersandar, dengan jarak hanya dua meter Azman pun bisa melihat wanita muda itu dengan lebih jelas.


“Anda sepertinya seorang putri dari kerajaan, sedang apa anda di alam manusia” ucap Azman sambil duduk bersandar di pohon yang dipilihnya.


“Saya kesini untuk melihat mu, yang sudah berhasil melintasi tiga alam dengan sempurna, dan bahkan bisa melintasi jalan yang terlarang” ucap wanita muda tersebut.


“Apakah ada hal yang ingin anda sampaikan kepada saya” ucap Azman lagi.


“Ya, ketahuilah jika tidak semua kaum arwah itu jahat, dan tidak selamanya kaum Jin itu baik, kini pengalamanmu sudah bertambah, semoga kelak kau akan jauh lebih bijaksana, ini sedikit hadiah dari kami” ucap wanita muda itu sambil menunjuk ke arah kening Azman dan cahaya putih melesat keluar dari jari telunjuknya lalu masuk ke dalam kening Azman tanpa Azman bisa menghindarinya.


Azman merasakan kepalanya menjadi sangat berat dan dia juga kini tidak bisa melihat apapun, pandangan matanya kini semuanya putih.


“Apa yang wanita itu lakukan kepadaku, kenapa aku jadi tidak bisa melihat” ucap Azman dalam hatinya sambil menutup matanya.


Azman langsung berdoa dan berdzikir, kembali lagi dia memohon perlindungan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.


Setengah jam berlalu dan Azman masih pada posisinya semula, duduk bersandar di sebuah pohon, namun kini dia sudah tidak lagi merasakan sakit di kepala maupun di matanya, sehingga dia pun mencoba membuka matanya kembali.


Pandangan mata Azman kembali normal dan dia bisa melihat dengan baik.

__ADS_1


“Kemana wanita itu, dan apa yang dia lakukan kepadaku” ucap Azman sambil berdiri kembali dan melihat ke sekelilingnya, mencoba mencari sosok wanita yang merupakan jelmaan dari kaum arwah.


Azman sama sekali tidak menemukan wanita tersebut, dan dia pun kemudian kembali melangkahkan kakinya, kembali menuju ke area parkir mobil, tempat dia meninggalkan mobilnya.


Pandangan Azman kini sedikit berbeda, dia bisa melihat aura dari orang - orang yang berpapasan dengannya, ada yang beraura hitam gelap dan ada yang beraura putih bersih, ada juga yang beraura hitam namun samar.


“Kenapa aku jadi bisa melihat aura dari semua orang ini, apa ini hadiah yang diberikan wanita itu untukku” ucap Azman dalam hatinya sambil terus melangkah dan dia mulai membiasakan diri dengan penglihatan barunya ini.


Langkah demi langkah Azman lalui dan dia pun kini sudah kembali ke mobilnya, namun ternyata warung yang ada di depan mobilnya itu dalam kondisi tutup sehingga dia tidak bisa mampir ke warung tersebut.


Azman pun memilih untuk langsung naik kedalam mobilnya lalu menghidupkannya mobilnya itu dan menjalankannya dengan perlahan.


“Azman, bagaimana perjalananmu kali ini” ucap Daim yang tiba - tiba muncul dan duduk di kursi penumpang depan.


“Daim, dari mana saja kau” ucap Azman setengah berteriak karena kaget dengan kemunculan Daim.


“Daim, jadi selama ini kau tahu apa yang aku lalui” ucap Azman.


“Ya aku mengetahuinya, bagaimana perjalananmu ini, apakah kau mendapatkan hal baik” ucap Daim.


“Daim, aku berhasil menembus tiga alam, apakah itu hal baik” ucap Azman.


“Ya itu hal baik, kini kau akan bisa dengan mudah mengenali semua kaum” ucap Daim.


“Aku hanya melintasi tiga alam kenapa bisa mengenali semua kaum” ucap Azman.

__ADS_1


“Kau ini, kau tahu, dengan kau masuk ke alam kaum Jin dan Iblis maka mata batin mu itu sudah terbuka, kini tidak akan ada satu kaum pun yang bisa bersembunyi dari mu” ucap Daim menjelaskan.


“Daim, aku kini bisa melihat aura dari manusia, apakah kau bisa menjelaskannya” ucap Azman sambil terus mengemudikan mobilnya dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanan nya masih memegang rokoknya.


“Aura manusia itu menandakan manusia itu sendiri, aura putih berarti dia berhati baik, aura hitam berarti orang itu berhati jahat, ada banyak aura manusia dan kelak kau akan memahaminya sendiri, aku bersyukur kau sudah bisa membuka matamu itu dengan baik, kini kau bisa lebih waspada jika bertemu dengan manusia lainnya” ucap Daim yang nampak enggan menjelaskan secara detail.


Azman tidak langsung berkata kembali, dia hanya fokus mengemudi sambil menghisap rokoknya perlahan.


Jalanan siang itu nampak sangat ramai dan Azman tahu jika tidak lama lagi akan masuk waktu shalat dzuhur, sehingga dia pun sambil mencari masjid agar tidak sampai terlewat shalat berjamaah.


“Azman masih tiga puluh menit untuk shalat dzuhur berjamaah, jadi kau percepat saja laju mobilmu ini, kau jangan khawatir akan ada masjid yang cocok untuk kita shalat berjamaah nanti tepat pada waktunya” Ucap Daim yang seakan tahu apa yang Azman pikirkan.


Azman pun hanya mengangguk dan dia kemudian menambah kecepatan mobilnya itu, dia tahu jika penglihatan Daim jauh lebih baik darinya, karena Daim bisa melihat ke tempat yang lebih jauh dan menembus bangunan apapun juga.


Hujan mulai kembali turun namun tidak langsung deras, dan nampak jika pengendara sepeda motor mulai memarkirkan motornya untuk mencari tempat berteduh.


Langit semakin gelap dan tidak lama kemudian hujan pun turun dengan dengan derasnya, hal ini juga yang membuat jalanan jadi semakin lenggang, sehingga Azman bisa lebih mempercepat laju mobilnya.


“Sungguh aku beruntung, saat di atas gunung tidak turun hujan” ucap Azman.


“Hujannya turun namun tidak ketempat kau berada, itu lebih tepat” ucap Daim.


“Daim, apakah masjidnya masih cukup jauh” ucap Azman.


“Tidak terlalu jauh, sudah kau mengemudi saja, masjid yang jadi tujuanku itu tidak di pinggir jalan, namun aku sengaja ingin membawamu ke masjid itu, dan dengan cuaca hujan seperti ini akan pas membawamu kesana, satu kilometer di depan akan ada persimpangan jalan, jika arah pulang itu ke kiri maka kita akan ke kanan” ucap Daim.

__ADS_1


“Sepertinya kau membawaku ke masjid yang perlu di bantu” ucap Azman sambil melihat ke arah Daim.


“Bukan hanya itu, sudah kau tidak perlu meragukanku, nanti kau akan berterima kasih dengan ku jika sudah sampai di sana” ucap Daim lagi yang terdengar sangat tegas karena tidak ingin berdebat dengan Azman.


__ADS_2