Petualangan Misteri Azman

Petualangan Misteri Azman
Jelang ke desa terkutuk 2


__ADS_3

“Pak Bupati, saya hanya menjalankan misi kemanusiaan saja kok pak, tidak ada niatan lainnya, mereka semua sudah menderita sekian lama dan saya yakin jika mereka juga ingin hidup seperti kita yang bebas bepergian.” Ucap Azman.


“Pak Azman, maaf kenapa makhluk makhluk itu sampai berkumpul di sana dan melarang  penduduk desa terkutuk keluar.” Ucap Pak Bupati lagi.


“Jadi begini Pak, mereka itu haus akan darah manusia dan manusia yang ada di situ sudah seperti hewan ternak untuk mereka.” Ucap Azman.


“Azman mulai lebih cepat saja atau gunakan saja dulu sistem pengeras suaranya.” Terdengar suara Daim yang menggema di kepala Azman.


“Oke.” Ucap Azman dalam hatinya berkomunikasi dengan Daim.


“Bapak Bapak, mohon maaf tapi kita harus memulai sekarang saja karena saya takutkan akan ada hal buruk jika kita menunggu jam sembilan malam.” Ucap Azman sambil berdiri dan mengambil ponsel serta rokoknya yang tergeletak di atas meja.


“Baik Pak Azman, Mari semuanya.” Ucap Pak Jaja sambil ikut berdiri dan yang lainnya juga ikut berdiri.


“Pak Jaja, saya akan memimpin Dzikir dengan pengeras suara dimana Mikrofon nya.” Ucap Azman sambil berjalan keluar dari dalam tenda itu dan nampak sedikit tergesa gesa.


“Mari Pak ikuti saya, saya sudah menyiapkan tempat untuk Pak Azman.” Ucap Pak Jaja sambil berjalan mendahului Azman.


Azman dan yang lainnya langsung mengikuti Pak Jaja dan mereka semua terlihat terburu buru.


“Semuanya dengarkan kita akan mulai lebih cepat, ini jadi silahkan kembali ke posisi yang sudah ditentukan.” Ucap Pak Umar melalui radio komunikasi.


Suasana hutan itu tidak terlalu gelap karena memang Tim SAR sudah memasang banyak sekali lampu sorot sehingga mereka dapat berjalan dengan mudah tanpa terkendala cahaya.


“Pak Azman. Silahkan, Bapak bisa di panggung itu.” Ucap Pak Jaja saat mereka tiba di sebuah panggung kecil dan di sekitar panggung itu tampak banyak sekali wanita dan ibu ibu yang berhijab bahkan beberapa orang masih menggunakan mukenanya.

__ADS_1


“Baik Terima kasih.” Ucap Azman sambil melangkah ke atas panggung dan duduk bersila disana, karena memang tidak ada kursi sama sekali hanya ada beberapa buah kasur lipat lantai yang dijadikan alas untuk Azman duduk dan yang lainnya juga ikut duduk di belakang Azman.


“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Ucap Azman membuka acara dzikir bersama sekaligus mengetes sistem pengeras suara.


“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh” Ucap semua orang yang mendengar ucapan Azman.


“Saudaraku semua, mari kita mulai acara dzikir bersama ini.’ Ucap Azman kembali melalui microphon dan suaranya terdengar oleh semua orang yang ada di hutan itu.


Azman tidak langsung melanjutkan ucapannya melainkan memberikan waktu untuk para relawan untuk sampai ke lokasi yang sudah ditentukan untuk mereka sampai lima menit.


Azman pun kemudian mengucapkan Surah Al Fatihah dan surat surat pendek lainnya lalu mengucapkan ayat kursi juga surah yasin dan dilanjutkan dengan mengucapkan dzikir “La Ilaha Illallah” yang di ulang ulang secara terus menerus di ikuti oleh semuanya.


Waktu berlalu dengan cepat dan tepat jam sembilan malam tiba tiga lolongan lolongan serigala kembali terdengar oleh semuanya dan Azman pun kemudian mengeraskan suaranya agar suara suara lolongan serigala tidak membuat semua orang disana menjadi takut karena Azman tahu suara lolongan serigala ini adalah pertanda jika makhluk makhluk gaib mulai bermunculan.


“Azman teruskan saja dan jangan khawatir karena semua arwah leluhur sudah berjaga dan membuat pagar betis untuk kalian.” terdengar suara Daim di telinga Azman.


Jedeeeeeeeer Jedeeeeeeeer Jedeeeeeeeer Jedeeeeeeeer Jedeeeeeeeer Jedeeeeeeeer 


Suara petir bersahut sahutan terdengar oleh semuanya dan kini terlihat jika bulan mulai sedikit tertutup oleh awan.


Azman tidak mengendurkan dzikirnya karena dia tahu ini bukanlah pertanda hujan melainkan pertanda dari makhluk makhluk gaib kuat yang mulai bermunculan.


Suasana semakin mencekam karena kini angin mulai berhembus dengan kencang bahkan banyak tenda yang nyaris roboh akibat dari angin kencang itu.


Anjing anjing pelacak yang ada di tempat khusus juga kini mulai menggonggong dengan kencang hal ini semakin mengingatkan semuanya dengan fenomena tadi sore dimana banyak sekali makhluk gaib yang bermunculan.

__ADS_1


Azman terus berdzikir “La Ilaha Illallah” dan tidak merubah dzikir itu karena dzikir inilah yang paling tepat untuk situasi seperti ini dan juga dia tidak ingin ada seorang pun yang dirasuki oleh makhluk gaib.


Auuuuuuuuuuuuuuuu Auuuuuuuuuuuuuuuu Auuuuuuuuuuuuuuuu Auuuuuuuuuuuuuuuu lolongan lolongan serigala semakin keras terdengar oleh mereka semua termasuk dengan Azman yang bisa mendengarnya juga.


Kukkuuuuuuuk Kukkuuuuuuuk Kukkuuuuuuuk Kukkuuuuuuuk kini suara burung burung hantu kini terdengar oleh mereka semua.


Hiiiiihhiiiiiiiiiiiiiiiihhhhhhhhhhhhiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii hiiiiihhiiiiiiiiiiiiiiiihhhhhhhhhhhhiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii hiiiiihhiiiiiiiiiiiiiiiihhhhhhhhhhhhiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii hiiiiihhiiiiiiiiiiiiiiiihhhhhhhhhhhhiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii suara tawa cekikikan perempuan kini terdengar oleh mereka semua dan bukan hanya dari satu tempat namun menggema dari arah desa terkutuk itu.


Srrrrrooooooooooookkkkkkkkkk srrrrrooooooooooookkkkkkkkkk srrrrrooooooooooookkkkkkkkkk suara yang sangat di kenal oleh Azman kini terdengar yaitu suara bergesekannya  rambut kuntilanak.


Hahaha hahahahaha hahahaha hahahahaha hahahah hahahaha suara orang tertawa yang sangat berat kini terdengar oleh mereka.


Suara suara itu terus menerus di dengar oleh mereka semua bahkan suara suara tangisan perempuan yang sangat menyayat hati juga terdengar oleh mereka semua namun karena Azman terus memimpin Dzikir maka tidak ada seorang pun yang menghentikan dzikir mereka bahkan yang bertugas di tengah malam dan menjelang pagi pun kini ikut berdzikir.


Azman kini melihat jika semua arwah leluhur terlihat olehnya namun tidak terlihat oleh para relawan maupun yang lainnya.


Situasi malam yang semakin mencekam ini membuat beberapa orang ketakutan dan mereka mulai memejamkan mata mereka lalu fokus berdzikir kembali mengikuti Azman.


Waktu terus berlalu dan suara suara itu terus menerus mereka dengar sampai tepat jam nol nol pertanda pergantian hari tiba tiba semua suara itu berhenti dan langit kembali terang menampakkan bulan purnama yang bersinar terang.


“Azman kau bisa istirahat, waktu yang kritis sudah terlewati” terdengar suara Daim.


“Tolong di lanjutkan dzikirnya dan silahkan bergantian beristirahat.” Ucap Azman melalui pengeras suara itu yang terdengar oleh mereka semua yang ada di sana.


Satu persatu yang sebelumnya menutup matanya mulai membuka kembali mata mereka dan kini mereka melihat jika suasana sudah normal kembali.

__ADS_1


Azman kemudian berdiri dan di ikuti oleh yang lainnya juga yang ada di atas panggung dan nampak jika Pak Sobari Ustadz sekaligus Imam masjid naik ke atas panggung dan mengambil alih memimpin dzikir itu.


Azman bersama dengan Pak Jaja dan yang lainnya pun kembali ke tenda utama, beberapa relawan juga kini mulai memilih untuk beristirahat, agar mereka bisa menggantikan yang lainnya nanti di Jam Jam berikutnya.


__ADS_2