Petualangan Misteri Azman

Petualangan Misteri Azman
Desa di tengah lembah 8


__ADS_3

“Ada berapa banyak kalian semua dan apakah kalian melakukan kontrak darah dengan manusia itu” Ucap Azman.


“Ada sepuluh istriku yang ikut serta, dan Azman itu benar kami melakukan kontrak darah dengan manusia itu, aku mohon lepaskan aku dan juga istri - istri ku, aku berjanji pada mu jika aku tidak akan lagi mengganggu penduduk desa mu” Ucap Makhluk tersebut.


“Jadi semua kuntilanak dan genderuwo itu istrimu, lalu dimana kemarin persembahan itu di lakukan?” Ucap Azman.


“Benar semuanya istriku, persembahan di lakukan di tempat kami di pemakaman tua di hutan pinus” Ucap Makhluk tersebut dan Azman dengan cepat langsung memukul ke arah leher makhluk tersebut namun bukan lagi untuk melumpuhkan melainkan untuk menghancurkan makhluk tersebut.


Tinju Azman yang iringi oleh doa itu pun mengena dengan telak ke leher makhluk tersebut, dan Makhluk itu langsung jatuh ke tanah lalu perlahan menghilang.


Alam pun kembali normal dan demikian juga dengan suhu udara di sekitar Azman.


“Manusia biadab, aku pasti akan membuat perhitungan dengan mu.” Ucap Azman sambil kembali melangkah menuju ke arah hutan jati karena dia ingin mengawasi desa.


“Jadi ada sepuluh lagi yang harus aku hancurkan, dan aku yakin jika kini manusia biadab itu sudah mulai merasakan dampak dari musnahnya makhluk yang tadi.” Ucap Azman berbicara sendirian.


Sementara itu di salah satu rumah di desa Mbah Hardiyata, nampak ada satu orang laki - laki yang terbatuk dan mengeluarkan darah hitam segar dari mulutnya.


“Makhluk tadi tidak kuat sama sekali, dan ini sangat aneh, kenapa manusia biadab itu memilih makhluk yang lemah” Ucap Azman dalam hati sambil terus melangkah.


“Suamiku kau dimana, kenapa aku tidak bisa melihatmu sejak sore tadi” Ucap Azizah yang bertelepati dengan Azman.

__ADS_1


“Istriku, aku sedang membantu Pak Jaja, dan aku ada di sebuah desa pedalaman di tengah lembah yang sangat dalam” Ucap Azman bertelepati dengan Azizah.


“Suamiku, berhati - hatilah, dengan aku tidak bisa melihatmu itu berarti kau ada di tempat yang cukup berbahaya untuk mu” Ucap Azizah.


“Iya istriku, aku akan berhati - hati, hari sudah malam dan kau beristirahatlah” Ucap Azman.


“Baik suamiku, aku percaya dengan mu dan aku yakin kau akan bisa menyelesaikan masalah yang kau hadapi di sana” Ucap Azizah bersamaan dengan telepon seluler Azman mendapatkan pesan singkat dari Pak Jaja.


“Baik isteriku, maaf aku tidak bisa terus berbincang dengan mu karena ini Pak Jaja menghubungiku” Ucap Azman .


“Iya Suamiku” Ucap Azizah dan Azman langsung melihat pesan singkat yang diberikan oleh Pak Jaja.


Pak Jaja mengirimkan pesan singkat jika dia sudah dalam perjalanan menuju desa dan akan sampai dalam waktu dua jam, Pak Jaja juga memberikan informasi jika dia datang bersama lima puluh orang petugas kepolisian.


“Jika tebakanku benar maka orang - orang biadab itu akan kembali ke pemakaman kuno di area hutan pinus, dan dengan adanya petugas kepolisian disana maka dia pasti melakukan kesalahan” Ucap Azman sambil menyimpan kembali telepon selulernya setelah dia mendapat jawaban dari Pak Jaja yang setuju dengan permintaan Azman.


Azman pun terus melangkah dan semakin dekat dengan desa dia kini bisa mendengar suara tangisan perempuan yang sangat menyayat hati.


“Suara tangisan ini suara pancingan dari kuntilanak dan aku yakin ini bersumber dari arah sana” Ucap Azman sambil menuju asal suara tangisan itu.


Azman yang berjalan hanya mengandalkan penerangan dari sinar bulan itu sangat berhati - hati di hutan jati yang sangat lebat dan tidak terawat, dia berjalan menyusuri jalan setapak dan arah yang dia tuju adalah arah pemakaman desa.

__ADS_1


Memerlukan waktu untuk Azman menuju pemakaman desa dan kini sudah hampir sampai ke pemakaman tersebut, namun Azman tidak langsung masuk ke area pemakaman melainkan dia memilih untuk mengawasi pemakaman tersebut dari luar.


Azman melihat jika ada satu sosok yang mirip perempuan berpakain putih dan duduk di atas salah satu padung makam, sosok itu membelakinya namun dengan postur tubuh dan juga rambut panjangnya Azman yakin jika sosok itu adalah perempuan namun bukanlah seorang manusia.


Suara tangisan juga bersumber dari sosok tersebut dan tangisannya sangat menyayat hati, seperti tangisan perempuan yang sedang disiksa namun bedanya suara tangisan itu sangat kencang dan terdengar oleh seluruh penduduk desa.


“Kuntilanak brengsek jadi kau sumber tangisan ini” Ucap Azman dalam hatinya sambil mengambil sebuah batu sebesar kepalan tangannya.


“Jika aku melempar batu ini dari sini sepertinya terlalu jauh dan tidak akan mengenainya, sebaiknya aku mendekatinya saja, namun aku harus cepat karena jika sampai kuntilanak itu terbang, bisa susah untuk ku mengejarnya dan akan menambah kerjaan ku” Ucap Azman dalam hatinya lagi.


Azman pun kemudian berjalan perlahan memasuki pemakaman tersebut dan dia berjalan dengan sangat hati - hati karena dia tidak ingin jika sampai kuntilanak tersebut kabur.


Wussssssssss dengan sangat kuat Azman melemparkan batu di tangannya karena kini dia hanya berjarak delapan meter dari kuntilanak tersebut, batu itu bukan hanya di lempar dengan tenaga yang kuat namun diiringi dengan doa yang  biasa digunakan Azman saat menghancurkan makhluk gaib, salah satunya ayat kursi dan juga ayat - ayat lainnya.


Bruuuggggggg batu tersebut tepat menganai kepala dari kuntilanak dan membuat kuntilanak itu jatuh ke tanah lalu perlahan menghilang, dengan menghilangnya kuntilanak tersebut hilang juga suara tangisan perempuan yang menyayat hati itu.


“Satu lagi beres ku habisi dan sebaiknya aku memang membereskan mereka satu persatu, jika prediksi ku benar maka orang biadab yang bekerja sama dengan makhluk terkutuk ini akan mendapatkan dampaknya.” Ucap Azman berbicara sendirian sambil melangkah keluar dari pemakaman desa.


“Uhuuuk”  seorang pria sepuh tiba - tiba batuk dan nampak darah segar yang menghitam keluar dari dalam mulutnya.


Azman sama sekali tidak mengetahui jika sudah dua orang yang muntah darah dan dia terus berjalan ke arah desa, dia kini sudah tidak lagi berjalan di hutan namun berjalan di jalanan desa yang akan membawanya ke masjid desa.

__ADS_1


Ternyata jarak antara pemakaman desa dengan masjid itu tidak terlalu jauh dan hanya berjarak lima ratus meter saja, Azman pun menyempatkan diri untuk mencuci wajahnya sekalian dia mengambil wudhu lalu kembali berjalan ke arah rumah kecil milik Mbah Hardiyata.


Sementara itu di desa nampak sangat sepi, karena tidak ada seorang penduduk pun yang ada di luar rumah, dan nampak jika ada beberapa kuntilanak yang terbang di atas rumah - rumah penduduk desa, hal ini tentunya belum di ketahui Azman sama sekali.


__ADS_2