Petualangan Misteri Azman

Petualangan Misteri Azman
Gunung Lawu 12


__ADS_3

Langkah demi langkah Azman lalui sampai akhirnya dia mendengar suara Adzan  Dzuhur, dan kini dia sudah berada di pinggir sebuah sungai yang hanya selebar tiga meter dengan kedalaman yang hanya setengah meter saja, namun air sungai itu sangat jernih dan Azman bisa melihat aneka ikan air tawar di sungai itu.


“Sungguh berkah, aku menemukan sungai dan juga menemukan bahan makanan, dengan terdengarnya suara Adzan Dzuhur maka bisa dipastikan jika aku memang ada di alam ku, sebaiknya aku beristirahat disini saja” Ucap Azman berbicara sendiri sambil melepas tas ranselnya.


Azman juga melepas sepatunya lalu mengambil sandal dari dalam tas ransel dan mengenakannya, dia berjalan ke arah sungai lalu mengambil wudhu.


“Air ini sungguh segar dan dingin” Ucap Azman yang telah selesai mengambil wudhu sambil kemudian dia mengambil sajadahnya dari dalam tas ransel lalu menggunakan kompas miliknya untuk mengetahui arah kiblat dan langsung menggelar sejadah tersebut setelah arah kiblat dia ketahui.


Azman melaksanakan Shalat Dzuhur dengan sangat khusuk dan dia setelah selesai lalu melipat kembali sajadahnya dan memasukkannya ke dalam tas ransel.


“Aku sebaiknya istirahat disini saja terlebih dulu, entah kemana lagi jalan pulang, sungguh gunung ini membuat ku pusing” Ucap Azman sambil kemudian mengeluarkan peralatan masaknya dan juga satu kaleng makanan siap saji.


Azman langsung memanaskan makanan kaleng siap sajinya lalu memakannya dengan lahap, selesai makan dia pun kemudian berjalan ke sungai kembali dan mengambil air sungai lalu memasaknya sampai mendidih, tidak lupa dia juga menyeduh kopinya.


Cuaca alam yang sangat sejuk benar - benar membuat Azman betah berada di pinggir sungai itu dan tanpa dia sadari sudah dua jam dia disana.


“Arah mana yang harus aku tempuh, secara telepon selulerku tidak bisa digunakan, dan gps navigasi ku juga tidak bisa aku gunakan” Ucap Azman yang sudah kembali berdiri dengan tas ransel di punggungnya.


Azman melihat sekelilingnya dan akhirnya dia memutuskan untuk mengikuti sungai itu, dengan harapan sungai tersebut bisa membawanya ke luar dari dalam hutan itu.

__ADS_1


Langkah demi langkah dia lalui dan Azman hanya berhenti untuk melaksanakan ibadah shalat Ashar, dia tidak membuang waktu sama sekali dan terus melangkah.


Jalanan setapak di pinggir sungai itu benar - benar menjadi jalan satu - satunya, dan sudah berjam - jam dia jalan, masih belum bisa menemukan tanda - tanda kehidupan manusia, hingga akhirnya jalan itu terputus karena ternyata sungai itu berakhir di sebuah jurang yang sangat dalam.


“Ternyata sungai ini sebuah sumber dari air terjun, namun aku tidak mungkin ke bawah sana, tidak ada jalan sama sekali untuk ke bawah selain melompat, tapi itu juga tidak mungkin aku lakukan” ucap Azman sambil melihat ke arah bawah dan dia menduga jika jarak ke bawah kurang lebih tiga puluh meteran, Azman juga melihat ada sebuah danau kecil di bawah sana.


“Sepertinya hanya satu jalan yang bisa ku pilih, yaitu kembali ke dalam hutan dan menyusuri hutan” ucap Azman kembali berbicara sendiri dan dia pun langsung melangkah memasuki hutan, Azman hanya mengandalkan kompasnya dengan tujuan terus ke arah barat.


Setengah jam Azman berjalan dan akhirnya dia pun memutuskan untuk kembali ke pinggir sungai, karena hari sudah mulai gelap dan jam tangannya menunjukkan jam enam sore.


“Aku tidak bisa melanjutkan perjalanan di malam hari dalam hutan, dan sebaiknya aku berkemah di pinggir sungai saja, setidaknya dengan dekat sungai kebutuhan airku bisa terpenuhi” Ucap Azman sambil menyusuri jalan yang tadi dia buat, karena memang sejak tadi dia masuk hutan dia membuka jalannya sendiri.


Tidak memerlukan waktu setengah jam untuk Azman sampai di pinggir sungai dan Azman pun kembali berjalan mengikuti jalan di pinggir sungai, karena dia tidak ingin berkemah di pinggir jurang yang mana akan berangin kencang pada malam hari.


Seratus meter Azman berjalan mengikuti sungai itu sampai akhirnya dia menemukan area yang pas untuk berkemah dia pun langsung berhenti, Azman tidak langsung mendirikan kemah melainkan kembali masuk hutan untuk mengambil ranting dan dahan kering yang telah jatuh ketanah.


Cukup banyak yang dia ambil dan dia tumpuk di tanah lapang itu, lalu dia pun kembali mendirikan tendanya.


Azman setelah mendirikan tenda langsung masuk ke dalam sungai dan diapun mengambil wudhu lalu melaksanakan shalat di dalam tendanya.

__ADS_1


Cukup lama Azman di dalam tenda karena selesai shalat Maghrib dia pun langsung berdzikir sampai masuk waktu shalat Isya, tepat setelah selesai melaksanakan shalat Isya Azman pun keluar dari dalam tendanya dan dia langsung menyalakan api unggun persis satu meter di depan tendanya itu.


“Setidaknya langit ini cerah, dan jika sampai hujan maka aku harus memindahkan tenda ini, sungai ini terlalu rendah dan sangat beresiko banjir jika cuaca hujan deras” ucap Azman sambil menyalakan api unggun tersebut.


Azman terus duduk di depan api unggunnya dan dia mencoba merenungkan nasibnya.


“Apa ini yang di rasakan oleh para pendaki yang hilang?, aku kini mengetahui rasanya ingin berjumpa manusia lainnya” ucap Azman berbicara sendirian dan dia pun kemudian menyalakan rokoknya.


“Untung aku membawa banyak persediaan makanan dan juga rokokku, dan dengan adanya sungai ini maka aku bisa memasak air juga, sehingga aku bisa mempunyai stok air minum” ucap Azman kembali.


Azman pun tidak lupa memanaskan makanannya dan sebenarnya dia ingin menangkap ikan namun dia mengurungkan niatnya, karena akan berbahaya baginya menangkap ikan di sungai pada malam hari.


Angin berhembus pelan dan bulan juga bersinar terang, suasana disana sungguh sepi, hanya ada suara jangkrik dan juga kodok yang entah ada dimana.


“Aku masih bisa mendengar suara adzan magrib dan isya dari arah barat, dan besok pagi - pagi aku harus kembali ke arah barat, aku sangat yakin sekali jika arah barat adalah yang terdekat ke pemukiman penduduk, setidaknya nanti jika sudah di pemukiman penduduk aku bisa menanyakan arah ke parkiran mobilku”  Ucap Azman sambil melihat ke arah api unggun dan menghisap rokoknya.


Malam semakin larut dan tak terasa sudah jam sebelas malam, Azman pun kemudian mengambil batu batu besar di sekitarnya dan meletakkannya melingkari api unggunnya itu, lalu dia pun memilih masuk kedalam tendanya, dia sengaja tidak mematikan api unggunnya karena dengan api itu menyala maka dia tidak memerlukan senter kepalanya.


Azman berusaha untuk tidur namun apa daya, matanya susah untuk terpejam, meskipun badannya terasa sangat lelah namun tetap susah untuknya bisa tidur.

__ADS_1


__ADS_2