Petualangan Misteri Azman

Petualangan Misteri Azman
Akhir perjalanan


__ADS_3

Azman melaksanakan ibadah shalat shubuh dengan sangat khusuk, dan dia benar - benar menikmati ibadah shalat tersebut, seperti biasa Azman pun tidak langsung keluar dari dalam masjid, dia meluangkan waktunya untuk ikut berdzikir bersama dengan jamaah lainnya.


Waktu menunjukkan jam setengah enam pagi dan Azman pun terlihat keluar dari dalam masjid tersebut bersama dengan jamaah lainnya, Azman pun langsung kembali ke mobilnya, lalu masuk dan melanjutkan perjalanannya.


“Wah sepertinya sarapan di situ enak” ucap Azman yang melihat ada pedagang nasi gudeg di pinggir jalan dan tidak terlalu jauh dari lokasi masjid itu juga, hanya beberapa ratus meter saja.


Azman pun langsung memarkirkan mobilnya sebelum pedagang nasi gudeg tersebut, karena memang ada tanah kosong di dekat penjual nasi gudeg tersebut.


Azman tidak langsung turun dari dalam mobilnya namun dia nampak mengambil telepon selulernya dan juga rokok beserta koreknya, dia pun memasukkannya ke dalam tas kecil yang selalu dibawanya.


Setelah semuanya beres, Azman pun langsung turun dari dalam mobilnya, dia berjalan dengan santai menuju penjual nasi gudeg yang merupakan seorang wanita sepuh berusia di atas enam puluh tahunan.


“Bu saya pesan nasi gudeg lengkap ya” Ucap Azman memesan sarapannya.


“Mau makan disini apa di bungkus” tanya wanita sepuh pedagang nasi gudeg tersebut.


“Makan disini saja Bu, sama minta teh tawar yang panas juga ya Bu” jawab Azman.


“Sebentar ya” ucap wanita sepuh itu.


Azman pun hanya mengangguk sambil menghisap rokoknya perlahan, tidak ada pembeli lain disitu selain dirinya, diatas meja panjang itu juga nampak ada banyak bakwan dan tahu goreng, sehingga Azman mengambil satu dan memakannya.


“Enak bakwan gorengnya, coba tahu gorengnya” ucap Azman dalam hatinya sambil mengambil tahu goreng dan langsung memakannya sekaligus, “Wah benar - benar enak, aku sudah terlalu lama tidak makan di pinggir jalan seperti ini”


Wanita sepuh itu pun tidak lama kemudian menyajikan pesanan Azman dan dengan lahap Azman pun menikmati nasi gudeg tersebut.


“Bu tambah satu porsi lagi dong, enak banget masakan ibu ini” ucap Azman yang tidak sampai lima menit sudah menghabiskan satu porsi nasi gudeg tersebut.

__ADS_1


“Sebentar ya” ucap Wanita sepuh pedagang nasi gudeg yang mengambil piring Azman.


Azman tidak diam menunggu namun dia kembali mengambil bakwan dan tahu goreng, dan nampak tidak membutuhkan waktu lama untuk wanita sepuh itu kembali datang dengan membawa piring yang sudah terisi oleh nasi gudeg dan krecek serta satu potong paha ayam sayur.


Azman pun kembali menyantap makanannya, dan dia benar - benar merasakan masakan yang benar - benar nikmat, dengan bumbu yang benar - benar meresap kedalam masakan.


“Bu, boleh saya borong saja semua gudeg serta krecek dan ayam sayurnya” ucap Azman yang sudah selesai makan porsi keduanya.


“Alhamdulillah, jika mas mau membeli semua masakan saya ini” ucap Wanita sepuh tersebut.


“Sama gorengan ini juga ya Bu, saya mau semuanya, masakan ibu ini sungguh pas di lidah saya” ucap Azman lagi yang meskipun sudah menghabiskan dua porsi nasi gudeg nampak masih lapar karena dia kembali mengambil satu bakwan goreng lagi.


“Nasinya mau di bungkus juga tidak Mas” ucap Wanita sepuh tersebut.


“Tidak Bu, cukup lauknya saja dan sama gorengan ini saja buat jadi cemilan saya di jalan” ucap Azman.


“Aku benar - benar ingat jaman dulu, nyetir sambil ngemil begini, sejak aku mendapatkan berkah, aku jadi lupa bersenang - senang, dan perjalananku pun selalu dipenuhi dengan hal yang membuatku pusing, sepertinya aku sebaiknya menghentikan perjalananku ini dan menetap di rumah menemani Azizah sampai dia melahirkan, aku sudah tidak boleh egois hanya dengan keinginan ku saja, aku harus bisa mengikuti keinginan istri dan anakku kelak” ucap Azman berbicara sendirian sambil berkali - kali menghisap rokoknya.


“Aku selalu membantu orang lain, namun aku melalaikan istri yang sedang mengandung anakku, sungguh aku sudah lalai, perjalanan kali ini sudah membuka pandanganku tentang kehidupan, dan perjalanan kali ini juga biarlah jadi penutup perjalananku, persiapan ku juga sudah semua, rumah dan harta sudah cukup, dan lokasi pantai juga tidak terlalu jauh, mungkin kini sudah waktunya aku benar - benar jadi kepala rumah tangga” ucap Azman lagi - lagi berbicara sendiri.


Azman sudah membulatkan tekadnya, dia ingin menghentikan perjalanannya yang selalu penuh dengan bahaya dan juga misteri, dia ingin menjadi sosok suami yang selalu ada saat dibutuhkan.


Mobil Azman terus melaju dengan perlahan, dan Azman pun tidak ingin terburu - buru, dia menikmati perjalanannya pulangnya ini, meski jalanan masih kosong namun Azman hanya di kecepatan tiga puluh kilometer per jam saja.


“Bakwan dan Tahu goreng ini benar - benar enak sekali, dan aku harus menemukan penjual lain yang dekat rumah ku untuk makanan seenak ini, akan cukup merepotkan jika aku harus mengendarai mobil sampai berjam - jam hanya untuk makan gudeg dan gorengan” ucap Azman yang kembali memakan bakwan dan tahu goreng, dan entah sudah berapa banyak yang dia habiskan, karena tadi dia membeli sampai tiga kantong plastik dan kini hanya nampak dua kantong plastik.


Bungkus rokok kosong juga nampak sudah mulai memenuhi tempat sampah di dalam mobilnya dan Azman memang tidak putus dengan rokoknya itu.

__ADS_1


“Jalan di tengah sawah seperti saat ini benar - benar membuatku nyaman, sepertinya jadi petani dan bersawah juga bukan pilihan yang buruk untuk mengisi waktu luang ku nantinya, tapi apa aku bisa ya, secara aku tidak pernah bekerja keras” ucap Azman sambil melihat ke arah sawah di sebelah kanannya dan nampak ada beberapa orang petani yang berjalan di galangan sawah.


Azman pun melihat ke arah Gps navigasinya dan nampaknya masih dua puluh kilometer lagi untuknya sampai di rumah, dan dia yang tadinya ingin berhenti untuk sekedar menyapa para petani itu pun dengan terpaksa mengurungkan niatnya.


Waktu terus berlalu dan tak terasa Azman pun sudah dekat dengan rumahnya di daerah Wonosari Yogyakarta, dia pun masih mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang rendah hanya tiga puluh kilometer per jam saja.


Nampak jika mobil Azman mulai memasuki pekarangan rumahnya dan dia pun langsung memarkirkan mobilnya di depan teras rumahnya, karena memang tidak ada mobil lain yang parkir disana, Azman pun langsung turun dengan membawa semua makanan yang dibelinya dari wanita sepuh itu.


“Akhirnya suamiku pulang juga” ucap Azizah yang datang menyambut Azman.


“Istriku, ini aku bawa makanan yang enak - enak kau bawalah masuk dulu lalu temui aku kembali disini”  ucap Azman sambil memberikan beberapa kantong plastik.


Azizah tidak membantahnya dan dia pun langsung mengambil semua kantong plastik tersebut lalu membawanya masuk, sedangkan Azman langsung duduk di kursi teras rumahnya itu sambil kemudian menyalakan sebatang rokoknya.


“Suamiku, ini minumlah terlebih dulu” ucap Azizah yang sudah kembali dengan membawa secangkir air teh manis dan meletakkan di atas meja di dekat Azman.


Azman hanya mengangguk dan di pun meminum sedikit air teh tersebut.


“Sepi sekali sayangku, pada kemana yang lain” tanya Azman.


“Mereka pada di taman belakang, dan belum tahu jika kau pulang” jawab Azizah.


“Istriku, aku sudah membuat keputusan, aku akan menghentikan perjalanan keliling Indonesiaku, dan aku akan fokus untuk menjadi suami dan juga ayah dari  anak - anak kita, kelak kita akan melanjutkan perjalanan kita namun bersama dengan anak - anak kita saja, bagaimana menurutmu, apakah kau setuju dengan keputusan ku ini”  ucap Azman yang nampak bersungguh - sungguh sambil menatap hangat mata Azizah.


“Suamiku, aku sungguh setuju dengan pilihan mu ini, aku benar - benar bangga dengan mu, dan aku yakin yang lain juga akan setuju” ucap Azizah yang nampak sangat bahagia dengan keputusan Azman ini.


“Bapak dan Ibu juga setuju” ucap Pak Jaja yang datang bersama dengan istrinya dari dalam rumah.

__ADS_1


“Alhamdulilah” ucap Azman dan Azizah bersamaan..


__ADS_2