
Mereka terus berbincang sampai tidak lama kemudian terdengar suara adzan maghrib, Azman langsung berdiri dan menyelesaikan semua tagihan rumah makan itu sekaligus menyampaikan kepada pihak rumah makan jika mereka semua kan ke masjid untuk melaksanakan ibadah shalat maghrib dan menitipkan kendaraan mereka di parkiran rumah makan karena mereka selesai shalat akan makan malam di rumah makan itu.
Azman dan yang lainnya pun langsung melangkah keluar dari dalam rumah makan itu lalu bersama sama menuju ke Masjid yang memang jaraknya sangat dekat, masjid itu tidak terlalu besar namun cukup untuk mereka semua.
Tidak ada yang meninggalkan masjid selesai shalat maghrib itu karena mereka memang berencana untuk melaksanakan shalat isya di masjid itu dan mereka mengisi waktu jeda itu dengan melaksanakan dzikir bersama, bahkan para penduduk desa juga ikut serta karena sangat jarang sekali ada orang luar yang dzikir bersama sampai waktu isya tiba .
Waktu terus berjalan dan shalat Isya berjamaah pun telah selesai mereka laksanakan lalu semuanya pun kembali ke rumah makan untuk menikmati makan malam mereka dengan lahap mereka menikmati makanan mereka dan kini mereka sudah tidak lagi sungkan bahkan banyak yang menambah sampai ada beberapa orang yang makannya nambah dua kali, hal ini tidak lain dikarenakan ada keyakinan dari mereka jika Azman akan membayarkan semua tagihan rumah makan itu.
Azman pun kemudian berjalan ke kasir dan meminta pihak rumah makan untuk membelikan rokok untuk mereka semua dan tentunya dia meminta juga satu slop rokoknya untuk stok nanti di lokasi bencana, Azman memberikan uang tunai senilai lima juta rupiah dan menyampaikan jika kurang akan dia tambah namun jika lebih ya tinggal di kembalikan kepadanya.
Azman juga meminta agar di buatkan segelas kopi untuknya dan juga untuk yang lainnya, dia pun langsung kembali ke kursinya untuk menemani Pak Jaja.
“Pak Azman, maaf semuanya jadi Bapak yang bayar.” Ucap Pak Jaja sesaat setelah Azman duduk kembali di kursinya.
“Kenapa Pak Jaja meminta maaf, bukankah kita ini saudara, sudah tidak masalah, tapi karena rokok saya habis jadi kita akan disini dulu sebentar ya Pak, saya sudah meminta bantuan pihak rumah makan untuk membelikan rokok untuk kita semua serta segelas kopi agar dalam perjalanan kita tidak mengantuk.” Ucap Azman.
__ADS_1
“Pak Azman nanti motornya kita naikkan ke mobil saja ya, jadi Bapak tidak akan kecapaian.” Ucap Pak Jaja.
“Tidak perlu Pak, lagi pula kan jika saya naik motor lebih santai malahan sayanya pak, setelah minum kopi dua gelas ini maka saya harus sedikit kelelahan agar saya bisa tidur dengan pulas, saya tidak ada niatan untuk begadang soalnya Pak.” Ucap Azman yang melihat jika Daim sudah muncul kembali dan berdiri di belakang Pak Jaja.
“Baiklah jika demikian, saya tidak akan mengajukan ide itu lagi, meskipun niatan saya agar Pak Azman bisa istirahat dalam mobil saya.” Ucap Pak Jaja.
“Iya Pak terima kasih, saya benar benar bahagia jika Bapak memperhatikan keselamatan dan kenyamanan saya, tapi saya tidak boleh manja Pak, saya harus bisa membiasakan diri dengan segala kondisi, ini enak masih banyak orang sedangkan mulai besok kan saya akan kembali mengendarai motor sendirian.” Ucap Azman yang kemudian kembali menyalakan sebatang rokoknya lagi.
Lima belas menit berlalu dan kini beberapa orang pelayan rumah makan tampak menyajikan segelas kopi untuk mereka dan mulai membagikan masing masing satu slop rokok, kasir rumah makan itu pun mendekati Azman dan memberikan perincian dari semuanya yang ternyata hanya menghabiskan dana sebanyak dua juta enam ratus lima puluh ribu sehingga semua kembaliannya pun di berikan kembali ke Azman, Azman pun memberikan uang tiga ratus lima puluh ribunya ke kasir itu untuk dibagikan ke yang lainnya juga, Azman pun menyimpan kembali uang dua juta itu ke saku celananya.
Nampak senyum bahagia dari semua anggota Tim SAR itu karena kini semuanya mendapatkan satu slop rokok dan ini sungguh hal yang berkesan untuk mereka yang kadang satu bungkus harus dinikmati bersama sama namun sejak kejadian Azman di tengah tengah mereka kini mereka bisa merokok dengan puas.
Sama sama Pak, dan maaf apakah disana nanti sudah ada dapur umum, jika belum apa tidak sebaiknya kita membungkusnya dari sini saja, jadi mereka bisa makan apa yang kita makan.” Ucap Azman.
“Informasinya belum ada Pak, karena kan mobil dapur umumnya ada di kita semua dan satu saya tinggal di hutan terlarang.” Ucap Pak Jaja berbarengan Azman mengangkat tangannya dan memanggil kasir rumah makan itu.
__ADS_1
“Disana ada berapa orang Pak, maksud saya semuanya Pak bukan hanya dari Tim SAR saja tapi semua yang ada di lokasi bencananya.” Ucap Azman.
“Kurang lebih tiga ratus orang pak, saya tidak tahu jumlah tepatnya sama sekali.” Ucap Pak Jaja.
“Pak ada yang bisa saya bantu lagi untuk Bapak.” Ucap Kasir rumah makan itu yang kini sudah berdiri di samping kanan Azman.
“Bisa buatkan nasi kotak delapan ratus kotak, jika bisa maka kami akan menunggunya jika tidak maka kami akan mencari rumah makan yang lainnya.” Ucap Azman.
“Bisa Pak, dan menunya apa ya Pak.” Ucap Kasir rumah makan itu yang nampak sangat bahagia mendapatkan tamu rumah makan seperti Azman.
“Lho kok bertanya ke saya, kan masnya yang berjualan, jadi tolong bawakan menunya saja kesini ya, biar kami melihatnya.” Ucap Azman.
“Oh iya maaf Pak, saya terlalu bahagia jadi kelupaan memperlihatkan menu nasi kotak kami, sebentar pak saya ambilkan.” Ucap Kasir rumah makan itu sambil kemudian berjalan dengan cepat ke meja kasirnya untuk mengambil daftar menu dan membawanya untuk di lihat oleh Pak Jaja dan juga Azman.
“Ini Pak silahkan dilihat dulu pak, kami pastikan dalam empat sampai lima jam masih enak dikonsumsi pak, karena semuanya akan kami pisahkan satu persatu Pak.” Ucap kasir rumah makan sambil memberikan satu daftar menu ke Azman dan satu daftar menu ke Pak Jaja.
__ADS_1
Azman tidak langsung menjawabnya melainkan dia melihat terlebih dahulu menu nasi kotak itu dan dia cenderung yang paketan lima puluh ribu untuk nasi kotaknya.
“Pak Jaja, saya lebih suka menu paketan lima puluh ribu pak karena lebih lengkap dan dengan ini maka semuanya akan kenyang Pak.” Ucap Azman