
“Ide Bapak ini boleh juga Pak,ini kunci motor saya.” Ucap Azman yang berbicara pelan sambil memberikan kunci motornya ke Pak Jaja.
Pak Jaja Pun menerima kunci motor tersebut dan langsung menyimpannya di saku celananya dengan cepat sehingga serah terima kunci motor itu tidak dilihat siapapun juga.
Azman dan Pak Jaja kemudian mendekati pria yang merupakan dukun santet itu dan Azman melihat jika kini kedua tangan dan kakinya membusuk bahkan wajah orang itu menjadi lebih tua dari sebelumnya.
Tidak lama kemudian petugas medis pun datang namun tidak langsung mengangkat orang tersebut sampai akhirnya di yakinkan oleh Azman dan Azman dengan lantang menyampaikan jika dia akan ikut di mobil ambulan itu, hal ini tentu saja membuat petugas medis gembira namun tidak dengan semua orang disana yang sebenarnya ingin berfoto ria bersama Azman.
Azman pun ikut menaiki mobil ambulan namun tidak di depan karena dia memilih untuk duduk di belakang bersama dengan dukun santet yang masih tidak sadarkan diri itu.
Pak Jaja pun memintas salah satu dari anggota Tim Sar untuk membawa motor Azman dan mereka pun langsung mengikuti ambulan tersebut dengan menjaga jarak agar tidak terlihat mengikutinya.
“Kalian berdua tenang saja, karena pocong merahnya sendiri sudah tidak ada dan aku akan turun setelah sedikit jauh dari lokasi ini, ini untuk kalian berdua simpanlah, dan bawa orang ini ke rumah sakit terdekat ya, jika perlu biaya maka gunakan saja sebagian uangnya.” Ucap Azman sambil memberikan sepuluh juta rupiah ke petugas medis yang duduk di kursi penumpang depan.
“Pak Azman ini sungguh banyak sekali, kami tidak berani menerima ini.” Ucap Petugas medis tersebut yang masih memegang uang yang diberikan oleh Azman.
“sudah anggap saja ongkos taksi saya, dan jangan pernah menolak rezeki yang datang untuk kalian, saya minta maskernya satu ya.” Ucap Azman sambil mengambil sebuah masker medis yang ada di kotak masker.
__ADS_1
“Alhamdulillah, terima kasih Pak atas kebaikan Bapak, iya Pak silahkan digunakan Pak.” Ucap petugas medis tersebut sambil kemudian memasukkan uang yang diberikan oleh Azman ke dalam laci dashboard mobil.
“Pak Azman, kita sudah cukup jauh dan juga selain Tim Sar tidak ada yang mengikuti kita Pak.” Ucap Pengemudi mobil Ambulan.
“Tolong cari tempat berhenti yang sekiranya aman dari pandangan masyarakat ya, saya tidak ingin di hebohkan lagi untuk saat ini.” Ucap Azman
“Baik Pak, di depan sana sangat sepi Pak dan sepertinya tidak ada seorangpun jua.” Ucap Pengemudi ambulan.
Mobil Ambulan itu tidak lama kemudian berhenti di perempatan jalan yang cukup besar namun tidak memiliki lampu lalu lintas, Azman pun langsung turun dari dalam Ambulan dan dengan segera menaiki mobil Pak Jaja.
“Pak Jaja, apakah ada jalan pintas untuk ke rumah makan itu?.” Tanya Azman sesaat setelah dia menutup pintu mobil.
“Inilah dampak media Pak, kita jadi kesusahan sendiri, dan sementara saya akan menghindari media saja Pak.” Ucap Azman sambil kemudian membuka masker medis yang dia gunakan dan menyimpannya di saku jaket.
“Itu benar Pak, fenomena ketenaran anda ini bahkan mengalahkan bintang film Pak, anda sungguh tenar.” Ucap Pak Jaja.
“Ketenaran yang tidak saya inginkan Pak, saya lebih suka hidup sebagai orang biasa yang tidak di kenal banyak orang, kini privasi saya sudah susah Pak, semua orang sudah mengenal saya, tidak bisa saya bayangkan marahnya orang tua saya nanti.” Ucap Azman dan Pak Jaja tampak bingung harus menjawab apa.
__ADS_1
Sepuluh menit berlalu dan kini mereka sudah melintas di jalan utama pantai selatan itu lalu berhenti di sebuah rumah makan yang cukup besar, cukup untuk menampung mereka semua.
Azmandan Pak Jaja pun langsung turun dari dalam mobil demikian juga dengan anggota Tim Sar lainnya, mereka pun kemudian memasuki rumah makan tersebut lalu memesan makanan yang mereka inginkan.
Azman yang memang sudah kelelahan dan juga sangat lapar bahkan memesan porsi untuk dua orang, makanan itu pun tidak lama kemudian datang dan tanpa basi basi mereka langsung menyantap makanan yang mereka inginkan itu.
Waktu menunjukan jam lima sore dan Azman pun meminta untuk menikmati segelas kopi agar lebih segar untuk mereka semua.
“Pak Azman, dekat sini ada masjid besar dan kita bisa nanti pas sholat maghrib berjalan kaki kesana Pak.” Ucap Pak Jaja.
“Memangnya tidak sejalan ya Pak sampai kita tetap parkir disini?.” Tanya Azman.
“Sejalan Pak, namun hanya seratus meter kurang dari sini dan akan lebih cepat waktu untuk berjalan kaki daripada parkir kendaraannya Pak, ditambah hari sudah mulai malam dan kita tidak mungkin bukan melaksanakan evakuasi malam hari, jadi jika menurut saya kita di masjid sampai selesai sholat isya saja, lalu kita makan malam disini dan melanjutkan perjalanan setelah makan malam, ini karena setelah ini tidak ada lagi rumah makan yang besar Pak.” Ucap Pak Jaja menjelaskan rencananya itu.
“Itu baik juga Pak, namun apakah kita kemalaman sampai disananya, kasihan rekan rekan kita ini Pak jika malam malam nanti harus mendirikan tenda.” Ucap Azman.
“Untuk tenda yang akan kita gunakan beristirahat sudah disiapkan oleh rekan rekan yang ada disana Pak, jadi jam berapa pun kita datang tidak masalah, kita bisa langsung beristirahat tentunya, dari apa yang saya dapatkan bencana alam ini mengakibatkan kematian kurang lebih empat ratus orang Pak dan baru lima puluh jenazah saja yang berhasil dievakuasi oleh rekan rekan Tim Sar kabupaten Bandung, kemungkinan ini bisa sampai satu minggu Pak, kecuali secara akurat bisa kita ketahui lokasi dari jenazah jenazah itu Pak seperti waktu ada bencana tanah longsor dan anda menandai lokasi para korban.” Ucap Pak Jaja.
__ADS_1
“Insyaallah Pak jika memang saya mampu maka saya akan membantu Bapak, agar tugas kalian lebih mudah dan hemat energi tentunya, oh ya ini kan malam pertama disana jadi tolong sampaikan mereka untuk sebagian berdzikir ya pak jangan hanya sibuk mengobrol, takutnya ada makhluk gaib yang tersinggung dengan bapak bapak semua sehingga akan mengganggu kita selama disana.” Ucap Azman sambil melihat Daim yang tiba tiba muncul di belakang Pak Jaja dan menganggukkan kepalanya.
“Pak Azman tadi saya juga sudah menyampai hal itu, dan semoga saja mereka mengikuti apa yang saya sampaikan dan tidak mendapatkan gangguan dari makhluk gaib.” Ucap Pak Jaja.