Petualangan Misteri Azman

Petualangan Misteri Azman
Menuju Kabupaten Bandung 9


__ADS_3

“Pak Azman, apa ini tidak terlalu mewah, kami paketan dua puluh lima ribu ini saja sudah cukup Pak.” Ucap Pak Jaja.


“Kurang Pak, kurang kenyang sayanya nanti jika yang dua puluh lima ribu, Mas, tolong buatkan delapan ratus nasi kotak yang paketan lima puluh ribu ya dan bawakan saya masing masing dua slop rokok ya, saya tidak tahu mereka yang sudah lebih dulu sampai lokasi bencana merokoknya apa jadi masing masing dua slop rokok yang pasaran saja ya.” Ucap Azman.


“Baik Pak, jika demikian saya minta waktu satu jam ya Pak untuk menyiapkannya.” Ucap Kasir rumah makan.


“Iya Mas dan tawarkan ke yang lain kali kali mereka masih ada yang diinginkan ya, saya minta nomor rekeningnya saja karena jumlah yang harus saya bayarkan juga besar bukan.” Ucap Azman.


“Baik Pak, sebentar saya buatkan dulu nota pembeliannya dan juga saya akan berikan diskon Pak senilai lima persen saja tapinya ya Pak.” Ucap Kasir rumah makan itu.


“Diskonnya tidak usah untuk saya, namun bagikan saya ke semua yang bekerja disini ya, jangan lupa tanyakan dulu kepada yang ada disini kali kali mereka masih ada yang di inginkan.” Ucap Azman.


“Baik Pak, saya akan menanyakannya kepada yang lain, saya permisi dulu pak.” Ucap Kasir rumah makan itu.


“Pak Azman, delapan ratus bungkus apa tidak kebanyakan.” Ucap Pak Jaja.


“Tentu saja tidak pak, anggap saja mereka ada empat ratus orang dan sisanya untuk kita saja, siapa tahu disana ada keluarga korban juga kan jadi bisa menikmati makan malam yang kemalaman.” Ucap Azman.


“Pak Azman ini benar benar memikirkan orang lain, saya akan hubungi dulu kesana pak, memberitahukan jika kita sedang membungkuskan makanan untuk mereka.” Ucap Pak Jaja.


“Sama satu hal lagi jika disana banyak media maka minta media untuk tidak heboh dan mengganggu saya saat saya kesana Pak.” Ucap Azman.

__ADS_1


“Baik Pak Azman, sebentar saya hendak mengambil telepon seluler saya yang kebetulan tertinggal di dalam mobil.” Ucap Pak Jaja.


“Iya Pak silahkan.” Ucap Azman sambil mematikan rokoknya karena sudah habis dan menyalakan kembali sebatang rokoknya.


“Azman kau ini sungguh baik, aku salut dengan keputusanmu ini.” Ucap Daim yang hanya terdengar oleh Azman saja.


“Iya kan aku juga sama pasti sampai sana lapar lagi, secepat cepatnya kita baru sampai sana dalam waktu dua Jam jadi sudah sebaiknya jika kita membungkus makanan.” Ucap Azman dalam hatinya berkomunikasi dengan Daim dan melihat jika para pelayan mulai membagikan lagi daftar menu ke anggota Tim Sar yang berbeda beda meja itu.


“Pak Azman, benarkan kami boleh memesan lagi.” Ucap Salah seorang anggota Tim Sar yang duduk di meja sebelah Azman dan jarak mereka memang berdekatan.


“Iya tentu saja, namun jangan yang berat berat soalnya aku juga sudah memesan nasi kotak untuk kita makan di lokasi, jika kalian kekenyangan maka aku takutnya nasi kotaknya akan mubazir loh, ya pesankah cemilan cemilan untuk teman kopi.” Ucap Azman sedikit keras agar semua anggota TIm Sar itu mendengar ucapannya.


“Terima kasih Pak Azman.” ucap Petugas Tim Sar di meja lainnya.


“Maaf Pak Azman, saya sengaja tidak langsung  memberikan kuncinya karena saya kira Bapak mau naik mobil lagi dan saya tidak keberatan sama sekali untuk membawakan motor Bapak, kapan lagi saya bisa mengendarai motor harga ratusan juta itu.” ucap salah seorang anggota Tim Sar yang mendatangi Azman dan kemudian memberikan kunci motor Azman.


“Yakin masih mau membawa motorku, apakah kau tidak akan kecapean nantinya, aku tidak masalah semobil dengan Pak Jaja jika kau memang ingin mengendarai motorku lagi, Ucap Azman.


“Benar Pak, saya benar benar ingin Pak, itu kan motor idaman saya, setidak tidaknya meskipun saya tidak bisa memilikinya namun saya bisa mengendarainya berjam jam sudah sangat puas Pak.” Ucap Anggota Tim Sar itu.


“Oke, nanti aku berikan lagi kunci motorku namun aku akan mengambil dulu tas pinggang ku, jika aku berikan motor ini untuk mu apa kau berkenan.” Ucap Azman yang terlihat sangat serius.

__ADS_1


“Tidak Pak, saya tidak mau Pak, saya bisa mengendarainya sekarang saat bensinnya penuh namun jika harus isi bensin dan merawat motornya maka saya tidak akan mampu Pak, bisa bisa saya di suruh tidur di luar ama istri saya nantinya ha ha ha ha ha ha ha.” Ucap Anggota Tim Sar itu sambil tertawa ringan.


“Kau ini ada ada saja.” Ucap Azman sambil melangkah dan berjalan keluar menuju motornya.


“Pak Azman apakah ada sesuatu.” Ucap Pak Jaja yang hendak masuk kedalam rumah makan itu lagi.


“Kebetulan ada bapak, saya tidak jadi naik motor Pak, soalnya itu anak buah bapak katanya ingin mengendarai motor saya lagi jadi saya akan ikut mobil Bapak saja, ini saya akan ke motor saya mengambil untuk pembayaran nasi kotaknya Pak.” Ucap Azman.


“Iya Pak Azman, jika ada yang hendak di pindahkan kedalam mobil maka mari saya bantu.” Ucap Pak Jaja.


“Tidak ada Pak, saya hanya perlu mengambil tas pinggang saya saja yang ada di box pannier motor saya.” Ucap Azman.


“Ya sudah jika demikian saya akan menunggu di dalam ya.” Ucap Pak Jaja sambil kembali melangkah memasuki rumah makan itu.


Azman langsung menuju motornya dan membuka Box pannier motornya itu, dia tidak hanya mengambil tas pinggangnya saja melainkan dia kini menambahkan lima puluh juta rupiah untuk pegangannya selama di lokasi bencana dan juga di perjalannya nanti.


Azman yang sudah selesai pun langsung melangkah kembali kedalam rumah makan itu dan dia langsung ke kasir rumah makan itu untuk menyelesaikan semua tagihannya.


Azman pun kembali duduk di kursinya lalu meminum sedikit kopi hitam tanpa gula nya dan juga menyalakan kembali sebatang rokoknya.


“Pak Azman kita akan menunggu nasi kotaknya selesai atau akan lebih dulu berangkat dan menyisakan satu mobil untuk membawa nasi nasi kotak itu.” Ucap Pak Jaja.

__ADS_1


“Oalah saya lupa, makannya kita siapkan dan minumnya belum, yang muda muda coba kesini sebentar.” Ucap Azman sedikit lebih kencang.


Empat  orang anggota Tim Sar yang berusia dua puluh tahunan kini berdiri dan langsung berjalan mendatangi Azman


__ADS_2