Petualangan Misteri Azman

Petualangan Misteri Azman
Desa di tengah lembah 4


__ADS_3

“Rumah itu adalah rumah kayu sama dengan rumah ini, jika ada darah menetes ke lantai maka harus langsung disiram bersih dan disikat baru bisa benar - benar bersih lantainya, namun karena ini kayu yang tidak cukup rapat sehingga darah yang menetes itu masih ada di sisi lain dari lantai kayu, saya tidak tahu ini darah akibat apa karena tidak ada kerusakan disana, namun saya yakin jika darah itu milik salah satu penghuni rumah.” Ucap Azman menjelaskan apa yang di photo.


“Apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka berdua dan kemana sebenarnya mereka, tengah malam mereka berdua pergi dan tidak pamit sama sekali, Azman, kami semua penduduk desa sangat khawatir dengan keadaan mereka jadi saya mewakili warga memohon bantuan mu.” Ucap Mbah Hardiyata.


“Mbah, saya datang kesini memang untuk memberikan bantuan, dan saya akan berusaha untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, sebelumnya saya ingin mengetahui satu hal, apakah ada orang luar yang datang ke desa ini sebelum mereka hilang.” Ucap Azman.


“Beberapa hari sebelum mereka hilang tidak ada satu pun orang luar yang datang dan warga desa juga tidak ada seorang pun yang meninggalkan desa, ini desa terpencil dan biasanya jika ada penduduk yang meninggalkan desa mereka akan memberitahu ku.” Ucap Mbah Hardiyata.


“Ini membuat semuanya jadi semakin aneh, karena jika memang warga desa yang ingin pergi biasa berpamitan namun ibu dan anak yang hilang itu tidak melakukannya.” Ucap Pak Jaja.


“Mbah, saya melihat jika pohon - pohon jati di desa ini sangat tua dan bagus - bagus, apakah ada orang luar yang beberapa waktu kebelakang datang kesini dengan maksud berniat membelinya?.” Tanya Azman.


“Tiga bulan yang lalu ada yang datang kesini, dan mereka menemui Mbah, maksud kedatangan mereka memang untuk membeli pohon jati di desa ini, tapi Mbah menolaknya karena hukum dan aturan desa sudah jelas, pohon jati baik yang tua dan muda hanya untuk kepentingan penduduk pembangunan desa ini saja tidak boleh dilanggar.” Jawab Mbah Hardiyata.


“Tiga bulan yang lalu apakah mereka menginap di desa Mbah ini?.” Tanya Azman kembali.


“Mereka tidak menginap di desa, karena Mbah melarangnya, dan mereka juga langsung pergi dari desa kami ini, tapi pada malam hari ada warga desa yang melihat jika mereka berkemah di hutan pinus.” Jawab Mbah Hardiyata.


“Hutan pinus itu adalah hutan yang tadi kita lintasi, disana memang ada area perkemahan, apakah ada kaitannya antara orang itu dengan kepergian Ibu dan anak itu?.” Ucap Pak Jaja.


“Saya tidak tahu siapa di antara Ibu dan anak itu yang hamil Pak, namun saya menemukan ini.” Ucap Azman sambil memberikan bekas testpack yang dia temukan di kolong lemari dapur saat memeriksa rumah itu.

__ADS_1


“Ini testpack kehamilan dan hasilnya positif.” Ucap Pak Jaja sambil melihat testpack tersebut.


“Dia tidak bersuami dan suaminya sudah setahun meninggal dunia, jika dia hamil oleh suaminya maka seharusnya anaknya sudah lahir.” Ucap Mbah Hardiyata.


“Testpack ini bisa juga milik tetangga Pak, kita tidak tahu dan susah mengecek ini milik siapa,  saya hanya mencari kejelasan saja, apakah ada warga desa yang cukup dekat dengan mereka?.” Ucap Azman.


“Mbah kurang paham, namun sepertinya tidak ada.” Ucap Mbah Hardiyata.


“Maaf Mbah, jika saya menguping pembicaraan Mbah, namun setahu Ibu Mas Parman sangat akrab dengan Mbak Rasmi.” Ucap Istri Mbah Hardiyata yang kebetulan datang dengan membawakan sepiring pisang goreng dan meletakkannya di atas meja lalu duduk di kursi samping Mbah Hardiyata.


“Mbak Rasmi itu ibu yang hilang, dan Parman itu penduduk desa sebelah yang datang membawa orang luar waktu itu, namun ke desa sebelah juga dari sini jaraknya lumayan.” Ucap Mbah Hardiyata.


“Jalanan di kebun pinus itu saat kita belok kiri ke desa sebelah maka yang lurus.” Ucap Pak Jaja menambahkan.


“Sudah kami cari kesana namun tidak ada, dan Parman juga memiliki istri dan anak, jadi tidak mungkin jika keduanya ada di rumah Parman, ayo silahkan di minum dulu kopinya dan pisang goreng ini teman yang pas bukan untuk minum kopi.” Ucap Mbah hardiyata sambil menggulung daun kawung (Melinting rokok).


Azman hanya tersebut saja dan dia pun kemudian menyalakan sebatang rokoknya demikian juga dengan Pak Jaja.


“Hanya tinggal petunjuk dari nanti malam saja jika demikian, semoga saja hantu itu beneran datang ke desa ini.” Ucap Azman pelan namun terdengar oleh semuanya dan nampak jika Mbah Hardiyata dan istrinya terkejut dengan ucapan Azman.


“Mbah, Azman ini bisa melihat makhluk yang tidak bisa kita lihat dan bukan hanya itu dia juga bisa menghancurkan makhluk - makhluk itu.” Ucap Pak Jaja menjelaskan agar tidak ada salah paham tentang Azman.

__ADS_1


“Mbah, jika saya bisa berkomunikasi dengan hantu itu maka kita akan mengetahui jawaban yang sebenarnya, dia itu hantu kiriman maka kita akan tahu siapa yang mengirim dan kenapa di kirim ke desa ini, namun saya harap penduduk desa tidak ada yang keluar rumah malam nanti ya.” Ucap Azman.


“Mbah tidak tahu harus berkata apa, selain hanya berdoa semoga kita semua diberikan keselamatan, nanti mbah akan melarang warga desa ada di luar setelah shalat isya.” Ucap Mbah Hardiyata.


“Azman, apa rencana mu nanti malam memangnya?.” Tanya Pak Jaja.


“Bertemu hantu.” Jawab Azman singkat.


“Apa Azman memerlukan kemenyan dan yang lainnya.” Ucap Mbah hardiyata.


“Tidak Mbah, tidak perlu untuk itu, saya tidak melakukan hal seperti itu.” Ucap Azman.


“Azman, pernah ada warga desa yang melihat jika ada asap hitam di atas rumah Mbak Rasmi sebelum hantu itu datang.” Ucap Mbah hardiyata yang mencoba memberikan petunjuk untuk Azman.


“Asap Hitam itu pertanda yang bagus, jadi saya nanti selesai Isya mohon diperbolehkan untuk berada di rumah itu lagi ya Mbah.” Ucap Azman sambil melihat Pak Jaja yang mengambil pisang goreng.


“Aku tidak ikut, aku menunggu di rumah belakang saja.” Ucap Pak Jaja yang mengira Azman mengajaknya namun sebenarnya Azman melihat jika sepiring pisang goreng itu hampir habis oleh Pak Jaja.


“Yang mengajak Bapak siapa? Saya melihat jika Bapak sangat senang dengan pisang goreng, itu di piring sisa dua dan sisanya Bapak yang menikmati.” Ucap Azman sambil mengambil satu pisang goreng di piring dan memakannya.


“Maaf - maaf, pisang goreng ini sangat enak jadi secara tidak sadar Bapak memakannya terus deh.” Ucap Pak Jaja.

__ADS_1


“Wah jika begini biar di gorengkan lagi saja ya.” Ucap Istri Mbah hardiyata.


“Tidak perlu Mbah, nanti malah di habiskan lagi sama Pak Jaja.” Ucap Azman sambil tersenyum lebar.


__ADS_2