
Azman hanya bisa mengikuti Pak Sudrajat yang berlari, hingga mereka bisa keluar dari dalam hutan itu akan tetapi keanehan tidak berhenti disana saja, karena hujan deras langsung turun di area hutan itu saja dan tidak di area perkebunan warga.
“Ini benar - benar kekuasaan yang maha kuasa.” Ucap Pak Sudrajat yang kini berhenti sambil menarik nafas dalam - dalam dan melihat ke arah hutan.
“Sebaiknya kita segera kembali rumah Bapak saja Pak, nanti biar saya sendiri saja yang kembali ke lokasi mata air itu.” Ucap Azman yang tidak ingin berlama - lama berhenti di area kebun yang lapang dengan banyak halilintar di atasnya.
“Baik Pak, mari kita lanjutkan lagi, maklum nafas tua ini sudah tidak bisa di bohongi.” Ucap Pak Sudrajat yang kembali berjalan menuju arah rumahnya.
Azman hanya tersenyum dan dia kemudian melihat ke arah hutan itu yang kini sedang hujan deras di tambah dengan angin kencang, namun hanya di hutan itu saja tidak sampai keluar padahal jarak mereka dengan hutan itu tidak terlalu jauh.
Azman pun langsung mengikuti Pak Sudrajat dan sampai mereka ke rumah Pak Sudrajat ternyata sudah ada beberapa orang disana yang menunggu kedatangan mereka.
“Pak Azman itu para sesepuh desa.” Ucap Pak Sudrajat memberitahukan siapa orang - orang yang ada di rumahnya itu.
“Iya Pak, mari kita temui mereka.” Ucap Azman.
Mereka pun kemudian masuk ke ruang tamu dikarenakan Pak Sudrajat takut akan terjadi hujan badai sedangkan teras nya itu tidak memiliki dinding hanya atap saja, satu persatu mulai memperkenalkan dirinya dan kini Azman mengetahui siapa saja yang ada disana bersamanya.
“Nak Azman, bisakah kau membantu kami, karena masalah air ini sangat penting untuk kami.” Ucap Seorang Pria sepuh yang informasinya usianya sudah sembilan puluh tahun.
__ADS_1
“Saya akan berusaha untuk mencari tahu ada apa sebenarnya disana, namun sebaiknya nanti malam saja saya kesananya, mengingat disana saat ini masih hujan badai di tambah akses masuk kesana sudah tertutup oleh pohon yang tumbang juga.” Ucap Azman yang mengingat kejadian tadi dan bersamaan dengan hujan yang turun dengan sangat derasnya.
“Alhamdulilah kita sudah sampai sini saat hujan ini turun.” Ucap Pak Sudrajat berbicara spontan yang membuat semua orang melihat kepadanya.
“Tadi kami berdua berpacu dengan hujan, hujan pertama terjadi sesaat kami meninggalkan hutan, alhamdulilah kami tidak kehujanan.” Ucap Azman menjelaskan kepada mereka semua.
“Pak Azman, jika menurut saya besok pagi saja anda kesananya, malam ini anda bisa beristirahat di sini saja, biar besok kita bersama dengan penduduk lainnya, sekalian menebang pohon yang tumbang itu, dan besar kemungkinan ada pohon lain yang tumbang disana.” Ucap Pak Sudrajat.
“Pak Kades, jika demikian maka besok biar saya dan warga lainnya ikut saja, jadi akses masuk dapat kita rapikan kembali.” Ucap salah seorang tokoh masyarakat disana.
“Bapak - Bapak semua, sebaiknya malam ini saya tetap kesana terlebih dahulu, tadi saya merasakan ada aura makhluk gaib yang cukup kuat disana, dan saya belum bisa mengetahui apakah dia baik atau jahat, saya tidak mengetahui apakah benar dia adalah leluhur yang menjaga desa ini atau hanya roh jahat yang bersembunyi di sana.” Ucap Azman dan hal ini menarik perhatian dari Azizah yang baru datang bersama dengan istri Pak Sudrajat.
“Nak Azman, apakah itu aman untuk mu kesana malam - malam.” Ucap Salah seorang tetua desa.
“Baiklah jika memang demikian maka tidak bisa kami halangi juga bukan, namun aku minta para penduduk besok pagi yang tidak berkebun agar ikut, kita harus bereskan kembali jalan itu karena itu selain akses ke mata air itu juga akses satu - satunya kita untuk memasuki hutan itu.” Ucap Pak Sudrajat.
“Nak Azman, sebelumnya kami ucapkan terima kasih atas kehadiran mu ke desa kami ini, sungguh kami merasakan doa kami semua terjawab dengan kehadiranmu disini.” Ucap Salah seorang tetua desa.
“Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang membawa saya kesini dan insyaallah saya akan berusaha sebaik mungkin untuk mencari dan menyelesaikan masalah yang di alami desa ini.” Ucap Azman.
__ADS_1
Sementara itu hujan terus turun dengan lebatnya demikian juga dengan angin kencang dan juga halilintar yang terus bersahut - sahutan.
“Apakah disini bisa ada hujan badai seperti ini?.” Tanya Azizah ke Bu Neneng.
“Tidak Bu, disini biasanya tidak seperti ini, dan bahkan sudah lama disini ada hujan deras, biasanya hanya gerimis saja malahan.” Jawab Bu Neneng.
“Pak Sudrajat, di desa ini ada sungai yang di jadikan sumber air juga bukan, lalu apakah letaknya bisa membuat air meluap dan membanjiri desa ini.” Ucap Azman karena derasnya hujan ini bahkan lebih deras dari hujan badai selama lima hari di pantai.
“Insyaallah aman Pak, seandainya meluap juga hanya sebagian perkebunan kami saya yang tergenang, sedangkan untuk pemukiman warga semuanya aman dari banjir.” Ucap Pak Sudrajat.
Mereka terus berbincang dan tanpa terasa waktu shalat Ashar pun datang dan karena cuaca yang masih ekstrim maka mereka pun memilih untuk shalat berjamaah di rumah Pak Sudrajat, karena akan membahayakan untuk mereka jika keluar dalam kondisi hujan badai itu.
Angin semakin kencang bertiup dan bahkan sudah banyak pepohonan tumbang bahkan ada beberapa rumah yang mengalami kerusakan akibat hujan badai ini.
Bukan hanya shalat Ashar bersama yang di lakukan oleh mereka, karena Azman mengajak semuanya untuk berdzikir bersama, dia menyampaikan akan lebih baik jika mengisi waktu di kala hujan badai dengan Dzikir meminta pertolongan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Tepat jam lima sore mereka pun berhenti berdzikir dan tidak lama kemudian nampak jika hujan itu mulai mereda, meskipun masih gerimis namun sudah tidak ada lagi angin kencang dan halilintar.
Para tetua dan tokoh desa itu pun kemudian berpamitan dan menyisakan hanya Azman dan Pak Sudrajat saja yang ada di ruang tamu tersebut, sedangkan Azizah dan Bu Neneng sedang sibuk memasak untuk makan malam mereka semua.
__ADS_1
“Pak Azman, hujan badai ini saya takutkan membawa musibah untuk penduduk desa ini, karena angin topan itu benar - benar kencang, jadi sebentar lagi saya akan keliling desa untuk melihat situasi desa ini, anda beristirahat saja ya Pak disini.” Ucap Pak Sudrajat.
“Biarkan saya menemani anda, siapa tahu ada yang dapat saya lakukan untuk penduduk desa anda ini, insyaallah saya tidak akan kecapean dan kebetulan saya juga ingin mengetahui kondisi desa ini lebih dekat lagi Pak.” Ucap Azman.