
Sementara itu Azman sedang berbincang dengan pemimpin para arwah dan membahas mengenai apa yang akan mereka lakukan besok pagi dengan tenang di tendanya dan kini tendanya tidak lagi terbuka pintunya karena Azman takut jika ada yang sampai melihat sosok arwah tersebut yang memiliki penampakan seorang kakek tua namun kulitnya sangat pucat seperti mayat dan juga tampak banyak luka di sekujur tubuhnya dengan lubang lubang kecil yang berwarna hitam seperti lubang yang tak berdasar.
“Azman, jadi seperti itu kami akan mengelilingi desa terkutuk dan maju perlahan membantai mereka namun di tengah desa itu ada sumur dan di sumur itulah yang tadi saya ceritakan, yang tidak bisa kami hadapi, seandainya kami hadapi juga maka kami tidak bisa sendiri dan di waktu yang sama, paling bisa besok lagi setelah kami beristirahat.” Ucap Pemimpin Arwah itu.
“Iya, itu urusan saya dan saya akan berusaha menyelesaikannya, namun apakah benar ada masih ada seratus orang manusia disana.” ucap Azman.
“Benar, karena mereka itu jadi sumber kekuatan mereka atau lebih tepatnya ternak mereka.” Ucap Arwah itu.
“Azman sepertinya wanita tadi mulutnya menyinggung para arwah.” Ucap Daim.
“Iya sifatnya yang pemarah itu membuat para arwah jadi ingin membuat wanita itu menjadi takut dan tidak lagi bertinggi hati namun, tenang saja ini tidak akan menjadi masalah mereka hanya menampakan diri saja tanpa memasukinya.” ucap Pemimpin Arwah itu.
“Pak Azman tolong Pak.” Teriak salah seorang relawan dari luar tenda.
“Azman buka saja tidak masalah karena dia tidak bisa melihat ku ada disini.” Ucap pemimpin arwah itu.
Azman langsung berdiri dengan membawa sajadahnya dan melangkah menuju pintu tenda lalu keluar dari tendanya dengan tangan masih memegang rokoknya dan saat keluar dari tendanya dia langsung menggelengkan kepalanya karena kini ribuah arwah tampak melayang di lima meter di atas tanah.
“Pak azman Apa yang harus kami lakukan Pak.” Ucap relawan yang menyusuli Azman itu.
__ADS_1
“Yang lain dimana?.” Tanya Azman.
“Di tanah kosong yang sebelumnya jadi parkiran Pak bersiap sholat maghrib karena sebentar lagi masuk waktu sholat maghrib.” Ucap relawan itu yang terlihat bergetar dan memberanikan diri untuk berada disana.
“Sudah tidak perlu khawatir, mari kita kesana.” Ucap Azman sambil melangkah dan relawan itu kemudian berjalan di samping Azman dengan sangat dekat.
“Hail aku ini laki laki normal, jaga jarakmu kenapa, sudah jangan takut, namun berdzikir sambil berjalan.” Ucap Azman mencandai relawan itu yang melihat jika relawan itu sangat ketakutan karena ini semua arwah terlihat melihat mereka berdua.
Relawan itu pun kemudian sedikit menjaga jarak dan dia langsung berdzikir sambil berjalan di samping Azman.
Suara petir dan suara suara lolongan serigala terus bersahut sahutan membuat suasana hutan ini jadi semakin mencekam.
“Kalian ini baru bangun tidur saja sudah membuat kehebohan seperti ini.” Ucap Daim yang berjalan di belakang Azman bersama pemimpin Arwah itu.
Azman tidak langsung ke tanah kosong menemui yang lainnya melainkan dia kini mengambil wudhu dan setelahnya langsung kembali menuju tanah kosong itu.
Azman yang sudah sampai ke tanah kosong yang dijadikan area shalat itu melihat ribuan orang yang kini duduk ketakutan sambil berdzikir karena banyaknya arwah di atas mereka, Azman juga melihat jika kamera kamera pihak media menyiarkan fenomena ini secara langsung dan beberapa kamera terlihat menyorotnya, dia pun kemudian berjalan ke depan dimana ada microphone yang akan digunakan untuk imam shalat berjamaah itu.
“Bapak dan Ibu, saudaraku semua, saya sudah sampaikan ke Pak Jaja agar Pak Jaja menyampaikan ke kalian semua, jika hutan ini adalah pusatnya para arwah leluhur yang menjaga agar tidak ada makhluk supranatural dari desa terkutuk yang keluar, saya juga sudah menyampaikan jangan ceroboh, jangan sembrono dan jangan arogan, sekarang siapa yang bisa adzan silahkan berdiri dan adzan karena waktu maghrib sudah tiba, untuk yang belum wudhu silahkan mengambil wudhu.” Ucap Azman melalui sistem pengeras suara itu dan selesai Azman berbicara fenomena kembali terjadi kini semua arwah itu menghilang dari pandangan semua orang kecuali Azman tentunya yang masih bisa melihat mereka, Langit mulai kembali normal dan tidak ada lagi suara lolongan serigala maupun suara gonggongan anjing anjing pelacak.
__ADS_1
Seorang anggota Tim Sar yang ada di dekat Azman langsung berdiri dan berjalan ke Azman.
“Silahkan Adzan dan kita tunda sepuluh menit untuk iqomahnya agar semuanya selesai mengambil wudhu.” Ucap Azman sambil kemudian duduk di tempat untuk Imam shalat berjamaah itu.
“Baik Pak.” Ucap Anggota Tim Sar itu yang kini terlihat lebih tenang karena semua Arwah itu sudah tidak lagi terlihat olehnya dan dia pun langsung mengumandangkan Adzan Magrib.
Sepuluh menit berlalu dan kini Anggota Tim Sar itu pun mengumandangkan Iqamah dan Azman langsung memimpin shalat maghrib itu dilanjutkan dengan Dzikir bersama sampai masuk waktu shalat isya.
Azman pun yang menjadi Imam untuk shalat isya itu dan mereka pun kemudian melakukan doa bersama serta membaca yasin bersama sama.
“Bapak, Ibu dan saudaraku semua, kita akan makan malam lalu nanti jam sembilan kelompok pertama silahkan langsung menempati tempat yang sudah ditentukan, kita akan tetap bekerja sesuai rencana kita, namun saya minta jaga kebersihan dan jangan ada lagi yang menyinggung arwah arwah yang menjadi penunggu hutan terlarang ini, terima kasih.” Ucap Azman menutup kegiatan ibadah itu.
Satu persatu mulai berdiri dan mereka langsung ke dapur umum yang terletak tidak jauh dari lokasi mereka itu namun tidak ada seorang pun yang berani berbicara sendiri melainkan berjalan bersama sama karena mereka masih teringat jelas suasana sore tadi yang sangat menakutkan untuk mereka semua.
Azman tetap di lokasinya dan dia masuk duduk santai di atas terpal itu karena sajadahnya sudah dia lipat kembali.
Pak Jaja terlihat mendatangi Azman bersama dengan Perwira kepolisian dan juga perwira dari TNI dan ada seorang laki laki yang berpakaian pemerintahan juga bersamanya.
“Pak Azman ini perkenalkan Bupati sini baru sampai tadi sebelum maghrib.” Ucap Pak Jaja memperkenalkan pria yang datang bersamanya itu dan kini mereka sudah duduk di atas terpal di depan Azman.
__ADS_1
“Pak Azman, saya Dadang kebetulan saya mendapatkan amanah sebagai Bupati di sini.” ucap Pria itu memperkenalkan dirinya.
“Pak Dadang senang bisa mengenal Bapak, saya Azman Pak, dan saya kira Ibu yang tadi yang jadi Bupati disini.” Ucap Azman yang teringat dengan wanita yang tadi bersuara tinggi kepadanya.