
“Karena sudah selesai, maka kami berdua pamit ya Pak Kyai” ucap Azman undur diri karena merasa sudah tidak ada lagi urusannya di masjid itu, terlebih lagi dia sudah ingin pulang ke rumah untuk beristirahat.
“Kalian berdua, berhati - hatilah di jalan, dan jika kebetulan lewat ini maka jangan lupa mampir kesini” ucap Imam Masjid.
“Baik Pak” ucap Azman yang langsung berdiri demikian juga dengan Daim.
Mereka berdua langsung keluar dari dalam masjid dan Imam masjid itu tidak mengantar keduanya, hal ini jauh berbeda dengan pengalaman - pengalaman Azman sebelumnya.
Azman dan Daim pun langsung masuk ke dalam mobil dan dengan segera Azman menjalankan mobilnya dengan tujuan pulang ke rumahnya.
“Azman, apa yang kau pelajari kali ini?” tanya Daim
“Berbuat baiklah tanpa alasan, Imam Masjid itu benar - benar sosok yang bijaksana dan telah membuka pandanganku, aku benar - benar bersyukur telah berjumpa dengan sosok beliau” Jawab Azman.
“Baguslah jika kau mendapatkan pelajaran, aku kira kau tidak mendapatkan apapun” ucap Daim yang terdengar sangat cuek.
“Kau ini, kita akan langsung pulang saja ya, aku ingin mandi dan istirahat, dan juga aku sudah sangat kangen dengan Azizah” ucap Azman sambil menyalakan sebatang rokoknya lalu membuka kaca sunroof mobilnya itu.
“Tidak perlu tergesa - gesa, kita nikmati saja perjalananmu ini, lagi pula istrimu baik - baik saja kok” ucap Daim seakan ada tujuan lain dalam ucapannya itu.
“Apa ada yang ingin kau tuju lagi?” tanya Azman sambil memelankan laju mobilnya.
“Sementara belum ada, tapi sebaiknya kita cukup di kecepatan ini saja, lagi pula jalanan pulang akan sangat macet untuk saat ini” jawab Daim.
“Ya jika memang jalanan padat maka sesampainya saja” ucap Azman.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk Azman sampai di jalan raya dan memang ternyata kondisi jalanan sangat padat, bahkan kini Azman hanya bisa melaju di kecepatan sepuluh kilometer per jam saja.
__ADS_1
“Kemacetan ini apakah ada hal yang terjadi di depan kita?” tanya Azman sambil menengok ke Daim.
“Tidak ada apa - apa di depan kita, namun berkilo - kilometer di depan akan tetap seperti ini, sudah kau bersabar saja, meskipun mobil ini melaju dengan pelan namun tetap akan sampai tujuan” Jawab Daim.
“Daim, aku masih belum terbiasa dengan penglihatan baru ku ini, dan apakah ini akan berlangsung selamanya” ucap Azman yang memang tidak nyaman untuknya bisa melihat aura orang lain.
“Azman, ini berkah dari langit untukmu, dan saran ku kau harus bisa mengendalikannya, aku dulu sepertimu bisa terus menerus melihat aura namun kini tidak lagi, aku bisa melihat aura jika aku ingin saja” ucap Daim.
“Kenapa kau tidak mengajarkan caranya kepadaku” ucap Azman.
“Caranya hanya satu, berdamailah dengan dirimu sendiri, jika kau sudah bisa berdamai dengan dirimu sendiri maka kau akan bisa mengendalikan kemampuanmu itu” ucap Daim.
“Berdamai dengan diri sendiri” ucap Azman yang terlihat sambil memikirkan ucapan Daim.
“Benar, mungkin sekarang kau tidak memahaminya tapi aku yakin kau akan cepat paham apa yang aku maksudkan” ucap Daim lagi.
“Azman, sudah tidak perlu terburu - buru, oh iya aku masih ada urusan jadi kau akan pulang sendirian ya, ingat berhati - hatilah jika kau menemukan manusia yang beraura sangat hitam” ucap Daim.
“Oke” ucap Azman dan bersamaan dengan Daim yang tiba - tiba menghilang dari dalam mobil itu, Azman juga sudah tidak bisa merasakan keberadaan Daim.
“Dia pergi lagi saja, apa yang sebenarnya direncanakan oleh Daim untukku” ucap Azman lagi sambil kembali mengambil bungkus rokoknya.
Azman kembali menyalakan sebatang rokoknya dan dia menghisapnya dengan perlahan sambil menikmati jalanan yang masih sangat padat.
Satu jam berlalu dan Azman pun hanya berhasil melaju lima ratus meter saja.
“Sebaiknya aku menggunakan jalan alternatif saja” ucap Azman sambil melihat GPS Navigasinya yang memang menunjukkan jalan lain.
__ADS_1
“Sepuluh meter lagi aku bisa belok kiri ke jalan pedesaan dan tampaknya ini membelah gunung, aku rasa dengan menggunakan mobil ini serusak apapun jalannya bisa aku lewati” ucap Azman sambil memeriksa rute alternatif yang ditunjukkan oleh GPS Navigasi mobilnya itu.
Azman langsung mengambil jalan alternatif tersebut, dan jalan itu benar jalan desa yang tidak terlalu lebar namun ada banyak pengendara lain yang juga mengambil jalan tersebut.
Di jalanan desa itu suasana benar - benar berbeda, selain jalannya lancar disana juga masih banyak perkebunan dan masih sangat jarang rumah penduduk.
Dengan hati - hati Azman mengendalikan mobilnya tersebut hingga akhirnya dia sampai di sebuah daerah yang cukup ramai bangunannya, dan tidak lama kemudian dia melewati sebuah pasar tradisional namun jalan kembali menanjak dan sepi sesudahnya.
Azman yang terus mengikuti arah dari GPS Navigasi tersebut kemudian diarahkan masuk ke dalam hutan, namun karena jalan itu sudah bagus dan tersemen maka dia pun tidak ada keraguan sama sekali.
“Masih satu jam lagi untuk shalat Ashar, dan sepertinya aku bisa keluar dari dalam hutan ini pada saat itu” ucap Azman berbicara sendiri sambil terus mengendalikan laju mobilnya di jalan yang kiri dan kanannya penuh dengan pohon pinus.
Satu jam lagi berlalu namun Azman masih di jalanan yang sama akan tetapi jalan itu kini sudah berubah menjadi jalanan tanah, dan Azman sadar jika sejak dia masuk jalan hutan itu tidak ada pengendara lain di belakangnya atau yang berpapasan dengannya.
Dia sadar jika dia seorang diri di hutan yang tidak dia ketahui itu.
“Tidak ada pilihan lain untukku selain terus melaju di jalan ini dan mengikuti arah dari Gps Navigasi ku” ucap Azman menguatkan tekadnya, dan tidak lama kemudian dia menemukan satu rumah penduduk di sebelah kanannya.
“Ada rumah di tengah hutan, dan sepertinya di depan pasti ada rumah lainnya” ucap Azman sambil melihat ke arah rumah yang temukannya itu.
Azman pun kembali bersemangat dan benar saja tidak lama kemudian dia memasuki sebuah perkampungan, bersamaan dengan terdengarnya Adzan Ashar.
Dengan mudah Azman pun menemukan masjid desa yang terbuat dari kayu dan bagunan masjid itu yang ada di pinggir jalan membuat Azman harus sedikit melewatinya karena tidak ada area untuk dia memarkirkan mobil di depan masjid.
Azman pun kemudian memarkirkan mobilnya lima puluh meter dari masjid itu, di sebuah halaman sebuah rumah, Azman pun setelah memarkirkan mobilnya dia meminta izin dari pemilik rumah yang kebetulan nampak keluar dari rumah itu.
“Assalamualaikum Pak, saya numpang parkir sebentar ya Pak, hendak shalat berjamaah di masjid” ucap Azman ke pemilik rumah tersebut yang merupakan pria dengan usia kurang lebih lima puluh tahunan perkiraan Azman.
__ADS_1