
“Saya tidak keberatan untuk itu, tapi saya sebenarnya tidak ingin menonjolkan diri ke pembesar disini Pak, saya disini hanya ingin menjadi masyarakat biasa saja, akan tetapi jika ada yang memang memerlukan bantuan saya, maka dengan senang hati saya akan membantu.” Ucap Azman yang berpikiran jika dia menemui orang - orang yang akan di temui Pak Jaja maka yang ada dia akan dikerubuti oleh pihak media lagi dan alhasil dia akan merasa kurang nyaman untuk berada di Yogyakarta ini.
“Saya memahami apa yang anda pikirkan, dan sebelumnya kesini saya sudah banyak berbincang kepada pihak media agar mereka tidak lagi meliput anda untuk kebaikan bersama, dan mereka sudah setuju dengan hal ini, bahkan beberapa pemilik perusahaan media juga sudah menyetujuinya.” Ucap Pak Jaja yang dengan sangat santai sambil menghisap rokoknya.
“Alhamdulillah, saya memang tidak ingin di liput lagi Pak, kejadian di Cianjur dimana saya dikerubuti oleh warga yang hanya ingin berphoto bersama itu kurang nyaman untuk saya, ditambah lagi jika saya terluka, orang tua saya akan sangat khawatir.” Ucap Azman.
“Pak Azman, ada satu hal lagi yang sebenarnya ini menjadi alasan saya kesini.” Ucap Pak Jaja.
“Sampaikan saja Pak, jika memang saya mampu maka saya akan membantu anda.” Ucap Azman.
“Ada kawan saya yang menyampaikan jika di desanya saat ini suka ada gangguan dari makhluk gaib, dan hal ini benar - benar mengganggu kehidupan mereka di desa, saya juga belum tahu cerita yang sebenarnya dan tadinya saya ingin mengajak anda ke desa itu setelah pertemuan dengan para pemimpin besok pagi, tapi jika anda keberatan maka saya tidak akan memaksa anda.” Ucap Pak Jaja.
“Maaf saya lama, Pak Jaja silahkan di minum ya.” Ucap Azizah yang sudah datang kembali dengan membawa dua cangkir kopi untuk Pak Jaja dan juga untuk Azman.
“Terima kasih ya.” Ucap Pak Jaja.
“Suamiku, sebaiknya kita bertiga makan terlebih dulu, Bu Sumiyem sudah menyiapkan makanan di meja makan.” Ucap Azizah sambil melihat ke arah Azman.
__ADS_1
“Istriku kau masuk duluan saja ya, sebentar lagi kami menyusul ke ruang makan.” Ucap Azman yang melihat jika rokok Pak Jaja masih panjang demikian juga dengan rokoknya.
“Baik, jika sudah selesai merokoknya maka langsung masuk ya.” Ucap Azizah yang langsung kembali masuk kedalam rumah.
“Pak Jaja, saya tidak keberatan sama sekali, baiklah besok saya akan menemani anda kesana dan juga ke pertemuan para pemimpin daerah itu, lalu apakah desa yang anda maksudkan itu jauh dari sini?.” Ucap Azman.
“Kurang lebih dua puluh kilometer dari sini, namun saya tidak akan mengabari ke teman saya yang disana jika kita besok akan kesana, saya akan berikan kejutan dengan kedatangan kita berdua.” Ucap Pak Jaja.
“Ada - ada saja, ya itu terserah anda saja Pak, jika saya kan hanya akan membantu anda saja, semoga saja misteri itu bisa kita selesaikan ya.” Ucap Azman.
“Bukankah di daerah sini juga banyak ahli makhluk gaib dan juga ada banyak Kyai Pak, kenapa mereka tidak meminta bantuan kepada orang - orang yang ada di sekitar sini ya.” Ucap Azman.
“Mereka sudah meminta bantuan namun belum ada yang berhasil menyelesaikan, untuk lebih jelasnya besok kita cari tahu bersama ya Pak.” Ucap Pak Jaja sambil mematikan rokoknya di asbak kayu yang ada di atas meja..
“Baiklah, sekarang karena rokok anda sudah habis mari kita masuk dan makan bersama terlebih dulu.” Ucap Azman yang juga mematikan rokoknya.
Mereka berdua pun kemudian masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke arah meja makan, disana nampak jika Azizah sudah duduk menunggu Azman dan juga Pak Jaja, namun Azizah tidak sendiri karena Pak Sugeng dan Bu Sumiyem juga ada disana, dan duduk di sebelah kiri Aizizah.
__ADS_1
Ini adalah hal biasa untuk Azman dan Azizah, dimana sejak Pak Sugeng dan Bu Sumiyem bekerja untuk mereka, mereka selalu meminta agar tidak ada yang makan terpisah dan selalu makan bersama, hal ini tentunya untuk memupuk rasa kekeluargaan diantara mereka.
Azman pun kemudian mengenalkan Pak Sugeng dan Bu Sumiyem ke Pak Jaja lalu mereka pun langsung menikmati hidangan yang ada di atas meja, dan nampak jika di atas meja makan itu ada banyak sekali lauk pauk yang sebelumnya di masak oleh Bu Sumiyem dan tentunya semua lauk yang ada di atas meja itu adalah permintaan dari Azizah yang entah kenapa nafsu makannya semakin menjadi - jadi.
Lima belas menit berlalu dan acara makan bersama pun sudah selesai, Azman pun kemudian mengajak Pak Jaja untuk berkeliling rumahnya lalu bersantai di taman belakang yang merupakan area favorit untuk Azman, dimana di taman belakang itu lebih mirip dengan area hutan kecil yang dikelilingi pepohonan tinggi serta lebat.
“Saya suka bersantai disini Pak, meski kita ada di dalam kota namun saya berasa ada di dalam hutan.” Ucap Azman sambil duduk di salah satu kursi yang ada di taman itu.
“Anda benar - benar pas dalam membeli rumah ini, dan apakah ini salah satu alasan anda membeli rumah ini.” Ucap Pak Jaja sambil duduk di depan Azman.
“Benar Pak, tadinya saya hanya ingin tidur dengan nyaman selama ada di Yogyakarta sambil menunggu cuaca kembali normal dan ini rumah pertama yang kami lihat, setelah melihat ada taman ini saya jadi tidak memiliki alasan untuk tidak membelinya.” Ucap Azman.
“Ini pilihan yang baik dan terbaik menurut saya, lagipula jika berkelana dengan cuaca yang ekstrim akan sangat beresiko.” Ucap Pak Jaja.
“Kejadian di desa sebelumnya dimana saya meninggalkan istri saya di desa dan setelah saya kembali ternyata semua bangunan di desa sudah rubuh itu benar - benar pengalaman kelam untuk saya, saya mencari - cari istri saya dan alhamdulilah dia tidak kenapa - napa, seandainya ada yang terjadi dengan istri saya mungkin saya tidak bisa memaafkan diri saya ini Pak.” Ucap Azman sambil menarik nafas dalam - dalam karena dia teringat dengan kejadian di desa itu, dimana untuk menemui Azizah dia harus melewati jalanan yang sangat ekstrim.
“Saya juga sangat kaget dengan apa yang terjadi di desa itu Pak, namun anda sudah membawa matahari untuk mereka, mereka yang tengah kebingungan akan tinggal dimana kini sudah bisa tersenyum kembali, dan apakah anda tahu jika disana sekarang ada tugu patung anda yang didirikan oleh warga desa sebagai ungkapan terima kasih kepada anda.” Ucap Pak Jaja.
__ADS_1