
Azman hanya mengangguk karena memang dia mulai kembali merasakan sakit di kepalanya itu, mereka berdua pun langsung berjalan menuju ke tenda medis namun belum sampai disana Azman pun terjatuh dan tidak sadarkan diri.
Pak Jaja dengan di bantu anggota tim sar yang melihat Azman jatuh itu langsung membawa Azman ke tenda medis untuk mendapatkan pertolongan dari tenaga medis yang mereka bawa.
“Pak Jaja bagaimana keadaan suami saya.” Ucap Azizah yang mendatangi tenda medis setelah mendapat kabar jika Azman jatuh pingsan.
“Pak Azman sepertinya kecapean Bu, luka di kepalanya itu untungnya hanya luka luar saja tapi karena dia kurang istirahat maka jatuh pingsan, Ibu jangan khawatir karena tim medis sudah memberikan pelayanan medis yang terbaik untuk Pak Azman.” Ucap Pak Jaja sambil berusaha menenangkan Azizah.
“Suamiku ini belum beristirahat sama sekali dari kemarin Pak, lalu apakah dia sudah sadar kembali.” Ucap Azizah karena dia belum diperbolehkan memasuki tenda medis tersebut.
“Pak Azman sudah mulai sadar namun saat ini sudah tertidur Bu, jika Ibu hendak menemaninya silahkan Bu, biar disini saya yang urus saja.” Ucap Pak Jaja.
“Baiklah saya akan menemani suami saya saja, dan saya percayakan disini ke Bapak ya.” Ucap Azizah yang langsung masuk ke dalam tenda medis tanpa menunggu jawaban Pak Jaja.
Azizah melihat jika Azman tengah terbaring di atas tempat tidur medis dengan tangan yang terinfus dan kepalanya juga sudah mendapatkan perban yang baru namun bukan hanya kepalanya yang di perban melainkan beberapa bagian di tangan dan kaki Azman juga nampak di perban.
“Suami ibu mengalami banyak luka dan sepertinya Pak Azman lebih mengutamakan mengobati luka di kepalanya, ini barang - barang pribadi Pak Azman Bu, dan maaf jika saya memotong celana Pak Azman untuk bisa lebih cepat memberikan pengobatan ke Pak Azman.” Ucap seorang dokter perempuan yang merupakan dokter yang di bawa oleh tim Pak Jaja dan memberikan tas kecil milik Azman.
“Iya Bu Dokter, terima kasih atas bantuan anda, apakah suami saya akan baik - baik saja atau memerlukan pengobatan intensif di rumah sakit.” Ucap Azizah sambil menerima tas kecil milik Azman.
“Saya rasa tidak perlu di bawa ke rumah sakit Bu, lukanya semua luka luar kok, setelah Pak Azman nanti bangun juga akan bisa beraktifitas kembali.” Ucap Dokter tersebut.
__ADS_1
“Saya boleh menunggui suami saya disini?.” Tanya Azizah.
“Silahkan Bu, kebetulan Pak Jaja sudah membangun satu tenda medis lain di sebelah untuk umum jadi disini bisa di gunakan Pak Azman beristirahat juga.” Ucap Dokter perempuan itu mempersilahkan Azizah untuk duduk di kursi lipat yang ada di sebelah ranjang Azman.
Azizah hanya tersenyum dan langsung duduk di kursi lipat itu lalu memegang tangan kiri Azman karena tangan kanan Azman terpasang selang infus.
“Suamiku, kau ini selalu mengutamakan kepentingan orang lain dibandingkan kepentingan mu sendiri, seharusnya semalam aku ikut dengan mu jadi kau tidak akan sampai terluka seperti ini.” Ucap Azizah dalam hatinya dan nampak kesedihan di wajah Azizah.
Waktu berlalu dan sudah dua hari Azman di rawat di tenda medis itu, nampak kini kesehatan Azman pun sudah sangat membaik dan sudah tidak ada lagi selang infus di tubuhnya.
“Istriku, aku tidak mau kau sakit jadi sekarang kau yang harus beristirahat ya.” Ucap Azman sambil berusaha bangun dari tempat tidur medis itu.
“Suamiku kau lupa aku siapa, aku tidak apa - apa kok, sudah jangan khawatir dengan aku, yang ada kau yang tidak boleh capek.” Ucap Azizah sambil membantu Azman untuk bangun.
“Kau sudah dua hari disini, dan soal di luar nanti kau akan melihatnya sendiri, sudah banyak hal baik terjadi di luar sana.” Ucap Azizah.
“Jika demikian mari kita lihat ya.” Ucap Azman sambil turun dari tempat tidur medis itu lalu keluar dari tenda medis bersama dengan Azizah.
Azman melihat jika di luar tenda medis itu kini sudah banyak perubahan, tenda medis yang di didirikan di halaman balai desa itu menunjukkan jika kini di halaman balai desa itu ada banyak tenda lainnya yang digunakan penduduk desa sebagai rumah sementara mereka.
Azman dan Azizah pun kemudian melangkah keluar dari halaman balai desa tersebut dan Azizah membawa Azman ke lokasi pembangunan rumah - rumah penduduk yang berlokasi di seberang balai desa itu.
__ADS_1
Ada ratusan orang yang terlihat bahu membahu membangun rumah dan Azman bisa melihat jika meskipun belum lama proses pembangunan itu namun sudah nampak jika pondasi - pondasi rumah sudah mulai selesai di bangun, ini berkat kerja sama semua orang yang ada disana.
“Pak Azman anda sudah baikan.” Ucap Pak Deni yang datang bersama dengan Pak Jaja dan Pak Sudrajat.
“Alhamdulilah saya sudah baikan, dan saya lihat jika warga ikut membangun rumah mereka ya.” Ucap Azman.
“Benar Pak, penduduk desa sudah tidak sabar untuk rumah mereka jadi, dan sesuai target rumah - rumah ini akan selesai dalam waktu sepuluh hari Pak paling lama.” Ucap Pak Deni.
“Pak Deni, rincian biayanya apakah sudah anda kirimkan ke saya.” Ucap Azman yang ingat jika dia belum sama sekali memberikan uangnya untuk pembangunan rumah - rumah warga itu.
“Sudah saya kirimkan melalui pesan singkat ke Bapak, namun anda jangan khawatir karena tujuh puluh persen biaya pembangunan ini sudah ditanggulangi oleh kawan - kawan saya.” Ucap Pak Deni.
“Alhamdulilah jika demikian, dan apakah isi rumahnya juga sudah anda pertimbangkan.” Ucap Azman sambil meminta tas kecilnya ke Azizah.
“Sudah semua Pak, sudah kami hitung untuk perlengkapan rumah, jadi penduduk desa nanti tinggal masuk kedalam rumah saja tanpa harus memikirkan apapun lagi.” Ucap Pak Deni dan Azman nampak menganggukkan kepalanya.
Azman pun mengambil telepon selulernya dan langsung melihat pesan yang berikan oleh Pak Deni, dia melihat jika dana yang diperlukan itu hanya kurang delapan ratus juta rupiah sehingga dia pun langsung mentransferkan biayanya ke rekening milik Pak Deni.
“Pak Deni sudah saya transferkan ya, dan tolong anda pastikan disini sampai benar - benar beres ya Pak jika tidak mengganggu kesibukan anda di pantai tentunya.” Ucap Azman.
“Pak Azman tidak perlu khawatir, saya akan memastikan disini sampai selesai, dan soal pembangunan pantai anda tidak perlu khawatir juga karena semua sudah berjalan sesuai dengan perencanaan kita.” Ucap Pak Deni.
__ADS_1
“Syukurlah jika demikian dan Pak jaja bagaimana dengan pembangunan jembatannya.” Ucap Azman sambil melihat ke arah jembatan namun dia tidak bisa melihatnya karena kini jembatan tertutup oleh dinding - dinding seng yang entah kapan itu terpasang disana.