
“Daim, bukankah kau ingin aku mengeluarkan makhluk yang sedang bersembunyi dari mu itu, sudah serahkan saja kepada ku, dan aku akan mengeluarkan makhluk itu, jika tidak bisa cara halus ya kita pakai cara kasar saja.” Ucap Azman dalam hatinya berkomunikasi dengan Daim.
“Oke jika begitu aku percayakan padamu namun jangan kau pacari atau kau nikahi ya makhluk itu.” Ucap Daim kembali.
“Apa maksud mu?” Tanya Azman.
“Nanti kau akan melihatnya sendiri, tapi jangan khawatir kami akan tetap di atas sini untuk berjaga jaga seandainya kau tergoda oleh makhluk itu.” Ucap Daim kembali.
“Iya jangan sampai aku tidak berpakaian lagi ya.” Ucap Azman yang teringat kisah kuntilanak penjaga warung.
“Ya kita lihat saja nanti.” Ucap Daim.
Azman kemudian melangkah mendekati sumur itu dan melongok ke dalam sumur namun dia tidak bisa melihat apapun karena sumur tua itu sangat gelap.
"Asyhadu an laa ilaaha illallahu, wa asyhaduanna muhammadar rasulullah. (Artinya: Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah)." Ucap Azman yang membaca dua kalimah syahadat secara berulang ulang dan melemparkan satu persatu batu kerikil itu ke dalam sumur itu per seratus kali pembacaan dua kalimah syahadat itu.
Azman sangat yakin jika pembacaan dua kalimah syahadat itu akan membuat makhluk yang ada di dalam sumur tidak betah dan akan keluar dari dalam sumur itu.
satu jam berlalu dan Batu batu kerikil yang di bawa azman pun habis namun belum ada satu pun perubahan di sumur itu.
“Hmmmmmm jadi cara halus beneran tidak berhasil, baiklah waktunya cara kasar ternyata.” Ucap Azman berbicara sendiri namun tiba tiba tanah bergetar dengan sangat hebat.
__ADS_1
“Ternyata aku salah, cara halus ku ternyata berhasil.” Ucap Azman berbicara sendiri sambil melangkah menjauhi sumur tua tersebut.
Getaran tanah ini pun terasa sampai ke hutan terlarang dan juga desa desa lainnya yang ada disana, saking kuatnya getaran tanah itu banyak rumah penduduk di desa terkutuk yang roboh namun tidak sampai menimpa orang orang yang ada disana.
Demikian juga dengan tenda tenda di hutan terlarang yang tidak kuat dengan getaran tanah itu pun ikut roboh, langit kini sudah sangat gelap sekali dan petir juga kembali terlihat oleh semua orang yang ada di hutan terlarang itu.
Lolongan lolongan serigala kembali terdengar dengan sangat kencang, anjing dan semua hewan lainnya pun kini terlihat sangat gusar.
Semua yang di hutan terlarang itu tidak bergeming dan tidak mengurusi tenda tenda yang roboh melainkan mereka kini tetap berdzikir dan membesarkan suara dzikir mereka.
“Pak Jaja, jika anda mendengar saya maka berdzikir dua kalimah syahadat saja.” Ucap Azman melalui radio komunikasi dan sudah duduk lima belas meter dari sumur tua itu.
Azman menyimpan radio komunikasinya dan dia pun langsung kembali berdzikir dua kalimah syahadat dengan suara yang terdengar cukup keras, hal ini sengaja dia lakukan selain di tujukan ke makhluk yang ada di dalam sumur ini juga untuk melindungi dirinya.
Suara lolongan serigala dan suara petir yang terus terdengar serta getaran tanah yang semakin kuat tidak sama sekali mengendurkan Azman dan para relawan, namun mereka tetap fokus berdzikir dua kalimah syahadat.
Sepuluh menit berlalu dan kini getaran itu sudah tidak lagi terasa, namun Azman kini mencium bau yang sangat menyengat, dan bau ini adalah bau darah dan bau bangkai adapun sumber dari bau itu adalah sumur tua itu sendiri.
Azman melihat jika kini ada asap mulai keluar dari dalam sumur tua itu dan tidak lama kemudian dia melihat sosok yang sangat dia kenali namun tidak berpakaian putih melainkan berpakaian merah.
Sosok itu adalah sosok perempuan berambut panjang dengan mata yang merah seperti darah dan menggunakan gaun panjang yang juga berwarna merah.
__ADS_1
Azman kemudian berdiri dan berusaha melihat dengan jelas makhluk itu, dia juga kini sudah memegang kembali tongkat batonnya.
“Kuntilanak merah kau kenapa bersembunyi di dalam sumur, dan kau kenapa tidak menyisir rambutmu itu sebelum bertemu dengan ku, lihatlah rambut panjang mu itu sekarang sungguh jelek dan berantakan dan itu lihat kuku mu sangat panjang, lihat pula itu kulit mu sungguh jelek sekali, katanya sosok mu itu yang paling cantik dari semua kuntilanak namun lihatlah kau sungguh seperti para mayat hidup itu saja.” Ucap Azman dengan sangat lantang, dan dia sengaja memancing sosok kuntilanak merah tersebut karena dari apa yang dia pelajari jika kuntilanak merah adalah sosok pemarah dan juga sangat pendendam sehingga mudah terpancing.
Kini sosok kuntilanak merah itu sudah melayang dua meter di atas sumur tua itu dan angin pun kini berhembus sangat kencang namun hembusan angin itu terasa sangat dingin oleh Azman.
Azman melihat jika mata kuntilanak merah itu kini menyala laksana api dan Azman pun bisa melihat perubahan raut wajah kuntilanak merah tersebut.
Sroooook sroooook sroooook sroooook sroooook suara suara mulai terdengar karena gesekan rambut kuntilanak merah tersebut.
Hiiii hiiiii hiiiiiiii hi hi hi hi hi hi hi hi terdengar suara perempuan tertawa yang sangat menyayat hati dan suara ini terdengar sampai ke hutan terlarang.
Azman berdiri di atas tanah sedangkan kuntilanak itu masih melayang dua meter di atas sumur tua sehingga tidak mungkin baginya untuk menyerang kuntilanak tersebut karena posisinya yang tidak menguntungkan sama sekali.
Bau yang lebih menyengat kini kembali menyerang Azman akibat kuntilanak merah itu membuka mulutnya dengan sangat lebar dan jauh lebih lebar dari ukuran manusia tentunya, dan Azman kini bisa melihat jika mulut kuntilanak merah itu sangat merah namun seperti lubang yang tak berujung.
Azman tetap diam di tempatnya karena dia tahu dia harus menunggu waktu yang tepat untuk menyerang makhluk yang di sebut sebagai kuntilanak merah ini atau bahkan sebagian ada juga yang menyebutnya kuntilanak pengantin, hal ini tidak lain di karenakan kuntilanak merah memakai gaun warna merah.
“Azman kenapa kau tidak menyerangnya, dan malah memancing emosinya seperti itu, ingat Azman dia salah satu yang paling kuat dari para kuntilanak merah lainnya.” Ucap Daim yang terdengar di telinga Azman saja.
“Aku bukan tidak ingin menyerangnya, namun lihat posisinya yang tidak menguntungkan ku sama sekali, jika aku menyerangnya dengan cara melompat maka bisa bisa aku yang terjatuh ke dalam sumur tua itu, dan aku tidak ingin sampai itu terjadi, lagi pula lihatlah dia sudah mulai marah bukan, aku yakin sebentar lagi juga dia akan menyerangku.” Ucap Azman dalam hatinya berkomunikasi dengan Daim dan pandangannya tetap fokus ke arah kuntilanak merah itu.
__ADS_1