Petualangan Misteri Azman

Petualangan Misteri Azman
Penunggu Pantai 7


__ADS_3

“Guru, sejujurnya saya belum memahami bagaimana kekuatan dan dunia kalian, namun yang jelas aku tidak akan membiarkan ada hal buruk yang terjadi ke Azizah, oh iya Guru aku penasaran, apakah kedepannya masih akan ada korban di pantai itu?.” Ucap Azman.


“Azman aku bangga padamu, dan kau tahu tidak ada yang tahu kapan manusia akan mati dan dimana, jadi aku tidak bisa menjawab pertanyaan mu itu.” Ucap Celtiq.


“Itu benar, tidak ada kapan kematian akan datang, namun apakah ada yang dapat aku lakukan untuk mencegah adanya korban lagi di pantai itu?.” Tanya Azman.


“Tidak ada yang bisa kau lakukan, karena seperti kau tahu pantai itu sangat landai sehingga banyak orang yang terlena dengan hal itu, menurutku kau cukup membuat peringatan untuk mereka agar mereka sadar jika laut itu menyimpan banyak hal yang tidak mereka ketahui.” Jawab Celtiq yang kembali menarik nafas dalam - dalam.


“Azman biarkan Azizah bersama ku dahulu untuk hari ini, aku akan mengajarinya bagaimana dunia ini untuknya.” Ucap Celtiq melanjutkan pembicaraannya dan hal ini membuat Azman berpikir keras.


“Suamiku, ini yang terbaik untuk aku bisa menyesuaikan dengan dunia mu ini, dan dengan begini aku bisa selalu ada untuk mu kedepannya.” Ucap Azizah yang mengetahui jika Azman khawatir akan keadaannya.


“Baiklah, jika demikian aku akan meninggalkanmu disini bersama Guru, aku akan ke pantai terlebih dahulu untuk membantu meringankan beban penduduk.” Ucap Azman sambil berdiri.


“Pergilah Azman dan bantu mereka, jangan khawatir dengan Azizah dan kau tidak perlu menjemputnya kesini ya karena setelah kau meninggalkan lokasi ini kau tidak akan bisa menemukannya lagi.” Ucap Celtiq sambil memandang Azman.


“Suamiku jangan khawatir aku akan ada di villa besok pagi sebelum kau shalat shubuh jadi kita bisa shalat shubuh berjemaah lagi.” Ucap Azizah menyakinkan Azman.


“Baiklah, Azizah jaga diri baik - baik dan Guru aku titipkan istriku padamu.”  Ucap Azman yang langsung berjalan meninggalkan lokasi itu dan baru sepuluh meter dia berjalan Azman pun berhenti lalu menengok kebelakang namun tidak ada lagi air terjun tersebut yang ada hanyalah hutan belantara dengan sungai yang sangat bening.

__ADS_1


“Dunia yang berbeda lagi saja, istriku aku yakin kau akan baik - baik saja.” Ucap Azman berbicara sendiri dan tidak langsung melanjutkan perjalanannya.


Azman terus berjalan dan ternyata perjalanan menuju pantai itu tidak sedekat saat dia berangkat tadi, kini perjalanan itu terasa jauh untuknya.


Memerlukan waktu dua jam untuknya sampai ke pantai dan ini berarti dia sudah terlewat waktu untuk shalat Magrib, bahkan saat dia mendengar Adzan Isya pun dia masih dalam perjalanan menuju pantai.


Meskipun hari sudah malam namun suasana pantai itu masih sangat ramai, karena masih banyak penduduk yang bekerja membenahi warungnya yang rusak akibat hujan badai lima hari kemarin. Azman pun terus berjalan di pantai sambil mengawasi keadaan disana dan dia benar - benar salut dengan penduduk yang bahu membahu membantu satu dan yang lainnya hingga dia melihat Pak Edi yang sedang duduk di atas batu karang melihat ke arah lautan.


“Pak Edi anda sedang apa disini sendirian?.” Tanya Azman yang menyapa Pak Edi.


“Eh ada Pak Azman, saya sedang merenungkan nasib saya dan keluarga saya Pak, tanpa perahu itu saya tidak bisa mendapatkan pemasukan tambahan untuk keluarga saya dan hanya mengandalkan gaji dari menjaga pantai ini saja yang tidak seberapa.” Ucap Pak Edi sambil memandangi Azman dan Azman pun langsung duduk di sebelah Pak Edi.


“Kecil Pak hanya satu juta sebulannya, sehingga menjadi nelayan pada malam hari itu benar - benar pemasukan utama saya.” Jawab Pak Edi sambil menghisap rokoknya.


Azman tidak langsung menjawabnya karena dia tidak mengetahui sumber pemasukan dari pengurus pantai itu sehingga dia tidak berani untuk berkomentar lebih banyak lagi dan Azman pun memilih untuk menyalakan sebatang rokoknya untuk membuat suasana lebih santai untuknya.


“Pak Edi, jika saya boleh tahu berapa harga perahu?.” Tanya Azman.


“Harga perahu itu beda - beda Pak, punya saya sendiri dulu saya membelinya seharga lima puluh juta rupiah, dulu saya bekerja di pabrik dan uang saya berhenti mendapatkan sedikit uang yang kemudian saya jadikan modal untuk membeli perahu serta kebutuhan nelayan lainnya, tapi kini sudah hilang semuanya Pak.” Ucap Pak Edi dengan pandangan masih ke arah laut dan nampak kesedihan mendalam di matanya.

__ADS_1


“Pak Edi, ada berapa banyak orang yang kehilangan perahu disini?.” Tanya Azman.


“Hanya saya Pak, sedang penduduk yang lain perahu nya malah terdampar ke daratan dan mengalami kerusakan kecil saja, sedangkan milik saya entah kemana.” Jawab Pak Edi.


“Ya sudah anda tidak perlu khawatir, saya akan membelikan anda satu perahu, namun ada syaratnya loh.” Ucap Azman yang membuat Pak Edi nampak kaget serta bingung.


“Selama syarat yang Bapak berikan tidak menyalahi agama maka saya siap Pak, demi anak dan istri saya apapun syaratnya saya siap.” Ucap Pak Edi.


“Tentu saja tidak akan menyalahi aturan dalam agama kita Pak, saya hanya minta anda untuk menyumbangkan sedikit penghasilan anda untuk masjid saja tidak lebih kok, dan juga saya minta bertemu dengan pengurus dari pantai ini Pak.” Ucap Azman dengan sangat santainya.


“Saya siap Pak, Insyaallah saya akan berusaha untuk tetap menyumbang untuk masjid namun meskipun ini kabar terbaik untuk saya di satu sisi saya tidak ingin memberatkan Bapak dan perihal pengurus pantai ini itu Pak Deni sendiri Pak.” Ucap Pak Edi.


“Jika pengurusnya adalah Pak Edi maka itu lebih baik lagi karena saya akan meminta lebih banyak plang pengumuman untuk para pengunjung pantai agar tidak berenang di daerah terlarang itu dan juga agar dia menambah penghasilan dan petugas keamanan di pantai ini, anda tidak perlu khawatir tidak akan ada lagi hal buruk atau hal mistis di pantai ini.” Ucap Azman.


“Benarkah Pak, karena dulu saya saat bekerja jadi keamanan malam saya sering kali mendapatkan gangguan di malam hari dan itu hal - hal yang tidak masuk di akal, seperti mendengar suara tangisan perempuan dari arah laut.” Ucap Pak Edi.


“Itu sudah tidak ada lagi Pak, tapi dimana kita bisa membeli perahunya Pak?.” Tanya Azman karena dalam hal membeli perahu di lokasi itu dia benar - benar tidak ada gambaran sama sekali.


“Disini ada yang menjualnya Pak, dan meskipun tidak baru namun masih sangat bagus Pak, tapi apakah benar ini tidak akan memberatkan anda, meskipun saya sudah sering mendengar kebaikan anda dari televisi namun saya benar - benar tidak ingin menjadi beban untuk anda.” Ucap Pak Edi.

__ADS_1


__ADS_2