Petualangan Misteri Azman

Petualangan Misteri Azman
Gua Kematian 3


__ADS_3

“Itu anak pertamanya, dan wataknya sangat keras, dulu dia yang paling vokal untuk menutup Gua kematian, bahkan sampai membawa banyak warga luar untuk ikut menutup Gua kematian itu.” Ucap Bapak Kepala Desa.


“Jadi penutupan itu sendiri bukan oleh pihak kepolisian?.” Tanya Azman.


“Karena banyak yang berunjuk rasa dan menghindari timbulnya konflik berkepanjangan maka pihak kepolisian menutupnya, karena warga desa kami sendiri sangat bergantung dengan sarang burung walet itu, namun ya apa mau dikata itulah yang terjadi.”Jawab Bapak Kepala Desa dengan nafas yang berat.


“Lalu apakah selama ini suka ada gangguan makhluk gaib ke warga desa Pak.” Ucap Azman.


“Selama ini tidak, karena bagaimanapun juga desa kami ada pelindungnya, namun dulu ada hal aneh yang terjadi, dimana saat malam hari kami mencium bau kemenyan yang sangat kuat keluar dari sumur yang tadi, maaf saya baru mengatakannya, karena saya baru mengingatnya.” Ucap Bapak Kepala Desa.


“Bisa anda jelaskan mengenai pelindung desa yang barusan anda sampaikan?.” Tanya Azman.


“Di desa kami ada satu leluhur yang menempati pohon beringin besar di pusat desa yang tadi anda lihat, dan berkat leluhur itu kami semua aman dari gangguan makhluk halus di jurang kematian.” Ucap Bapak Kepala Desa menjelaskan.


“Mengenai kecelakaan yang terjadi apakah terjadi setiap jangka waktu atau acak ya Pak?.” Tanya Azizah.


“Itu hanya terjadi saat malam bulan purnama penuh saja, dan anehnya itu terjadi sejak dahulu, sejak saya kecil juga seperti itu.” Jawab Bapak Kepala Desa.


“Jadi demikian, tidak terjadi setiap saat atau di waktu yang acak.” Ucap Azman.

__ADS_1


“Benar dan kita sudah sampai, Bibir Gua itu ada di atas sana, kita tidak bisa kesana karena untuk kesana kita harus mendaki ke atas tebing dan jalur kesana sangat sulit juga Pak.” Ucap Bapak Kepala Desa sambil menunjuk tebing dimana terlihat mulut Gua yang berjarak kurang lebih dua puluh meter di atas mereka.


“Sangat curam dan sangat terjal untuk kesana dari sini ternyata, saya sebelumnya mengira kita bisa masuk kesana dari sini, lalu apakah ada mulut Gua lainnya Pak atau lubang yang menembus ke Gua itu.” Ucap Azman.


“Setahu saya tidak ada lagi Pak, karena kami dari dulu tidak pernah menjelajah lorong - lorong Gua lainnya, hanya satu lorong saja yang menembus ke sana yang kami temukan, dan burung - burung walet itu juga masuknya melewati mulut Gua yang itu saja.” Ucap Bapak Kepala Desa.


“Pantai ini sangat curam dan bukan pantai yang biasa di kunjungi orang banyak ya Pak.” Ucap Azman karena memang disana hanya ada batu - batu besar yang dan jarak ke laut juga hanya sekira lima meteran saja dari tebing itu, ombak juga cukup besar dan sering sehingga sejak mereka datang juga nyaris terkena pecahan ombak.


“Pak Azman benar, pantai ini tidak pernah di kunjungi siapapun, karena disini sangat berbahaya, batu - batu besar ini juga tidak menarik untuk di kunjungi bukan.” Ucap Bapak Kepala Desa.


Sementara itu Azizah mengambil beberapa Photo di sana dan beberapa Photo mulut Gua itu.


“Suamiku lihatlah ini.” Ucap Azizah sambil memberikan kameranya.


“Coba kau perbesar deh, dan aku minta pendapatmu dengan apa yang aku lihat.” Ucap Azizah dan Azman pun kemudian men zoom photo tersebut.


“Ini bekas pembakaran, dan dilihat dari sini sepertinya mereka membakar kemenyan, disini juga terlihat sisa dupa.” Ucap Azman sambil memperlihatkan photo tersebut ke Bapak Kepala Desa.


“Ini tidak masuk di akal, kami tidak pernah membakar kemenyan atau dupa disana, siapa yang berani melakukan ini dan menjadikan sumur keramat itu jadi tempat seperti itu.” Ucap Bapak Kepala Desa.

__ADS_1


“Anda tidak perlu khawatir nanti kita akan mengetahuinya, siapa yang bertanggung jawab dengan hal ini, dan Azizah apakah ada hasil yang menarik dari lokasi ini.” Ucap Azman sambil mengembalikan kamera tersebut ke Azizah.


“Ada, ini dia, jika dengan mata telanjang agak susah melihatnya karena sinar matahari yang menghalangi pandangan kita namun aku berhasil mengambil gambarnya, ada orang yang memasang tangga tali di atas sana untuk turun ke mulut gua dan memasukinya.” Ucap Azizah sambil memperlihatkan layar kameranya lagi ke Azman dan Azman pun langsung melihatnya.


“Tali ini adalah tali untuk mendaki, dan siapapun yang memasangnya dia pintar memilih warna karena membuat tali ini susah terlihat dari sini, kerja bagus istriku.” Ucap Azman sambil memperlihatkan gambar tersebut ke Bapak Kepala Desa dan nampak Bapak Kepala Desa itu sangat terkejut dengan apa yang berhasil di temukan oleh Azizah.


“Saya tidak menyangka hal ini, jadi kami berhenti mengambil sarang burung walet dan ada orang lain yang masih memanennya, ini tidak bisa di biarkan, karena Gua itu milik kami dan jika ini di ketahui penduduk desa bisa ada kemarahan tidak terduga dari mereka semua.” Ucap Bapak Kepala Desa.


“Suamiku, sebaiknya kita tidak melintasi jalan yang tadi, aku merasa ada unsur kejutan yang disiapkan oleh orang itu untuk kita.” Ucap Azizah dalam hatinya berkomunikasi dengan Azman dan Azman hanya mengangguk saja.


“Mereka tidak perlu mengetahuinya, mari kita kembali, dan apakah ada jalan lain menuju Desa, sedikit memutar tidak masalah, bahkan jika ada jalan tikus lebih baik.” Ucap Azman.


“Hanya ada jalan utama ke jalan besar Pak, satu - satunya jalan tikus yang tadi kita lintasi, tapi jadi sedikit lebih jauh.” Ucap Bapak Kepala Desa.


“Jika demikian maka kita lewat jalan utama saja, dan saya mohon apa yang kita temukan ini tidak di bahas dengan siapapun juga, anda pura - pura tidak mengetahuinya saja, sedikit memutar tidak masalah karena dengan demikian kedatangan kita akan bisa bersamaan dengan kedatangan Pihak Kepolisian, bahkan saya inginnya mereka datang lebih awal dari kembalinya kita.” Ucap Azman.


“Baik Pak jika demikian mari, saya akan menunjukan jalannya, dan hati - hati ya Pak, karena batu - batu ini cukup licin.” Ucap Bapak Kepala Desa sambil berjalan lebih dulu melintasi batu batu besar itu dan Azman bersama Azizah pun mengikutinya dari belakang.


“Suamiku, lihatlah disana ada perahu dan sepertinya dia sengaja bertahan di jarak itu.” Ucap Azizah sambil menunjuk ke arah laut.

__ADS_1


“Kau benar, aku juga curiga dengan perahu itu, lalu dengan penglihatanmu apakah kau melihat manusia disana.” Ucap Azman.


“Perahu itu tidak ada manusianya, namun ada banyak batuan disana, dan sepertinya batuan itu cukup berharga.” Ucap Azizah yang jika di perhatikan dia tidak berjalan di atas batu melainkan melayang beberapa sentimeter di atas batuan itu.


__ADS_2