
“Nanti lagi bahasnya, kita shalat dzuhur saja dulu” ucap Daim.
Keduanya pun langsung menuju area wudhu dan mengambil air wudhu lalu melaksanakan ibadah shalat dzuhur berjamaah di masjid itu, dan ternyata masjid itu kini hampir penuh, ada banyak sekali orang yang ikut shalat berjamaah.
Azman dan Daim pun selesai shalat kembali ke paviliun tempat mereka menginap dan selesai membereskan barang - barang mereka pun langsung berpamitan, namun sama Pak Soedirjo mereka diminta menikmati hidangan makan siang yang sudah disiapkan.
Dengan menu nasi gudeg dan juga ayam bakar Daim nampak makan dengan sangat lahap, demikian juga dengan Azman, dan mereka pun setelahnya kembali duduk di kursi teras untuk bersantai sejenak.
“Azman, nanti jika di Candi Cetho usahakan jangan sampai malam ya” ucap Pak Soedirjo.
“Memangnya jika sampai malam kenapa Pak, apakah ada larangan khusus” ucap Azman.
“Banyak yang mengatakan jika sampai malam dan sendirian maka akan tersesat pulangnya” ucap Pak Soedirjo kembali.
“Baik Pak, saya hanya ingin melihat arsitekturnya saja kok Pak, tidak ada yang lain” ucap Azman.
“Jika demikian maka baguslah, ini ada sedikit kenang kenangan dari Bapak” ucap Pak Soedirjo sambil memberikan sebuah tas jinjing ke Azman.
“Apa ini Pak” ucap Azman yang menerima tas jinjing tersebut dan tanpa melihat isinya.
“Itu cerutu lokalan, dan bapak mendapatkannya saat bapak ke daerah wonosobo, bapak lihat kau sangat sering merokok jadi itu untuk mu saja” ucap Pak Soedirjo.
“Terima kasih Banyak Pak, kami berdua pamit ya Pak, semoga proses pembangunan masjidnya berjalan dengan baik dan tidak ada halangan apapun” ucap Azman sambil berdiri.
“Terima kasih juga untuk kalian berdua dan berhati - hatilah di jalannya” ucap Pak Soedirjo.
Azman dan Daim juga berpamitan dengan istri dan anak Pak Soedirjo dan setelah itu mereka pun melangkah ke arah mobil dan menaikinya.
Azman yang sudah di kursi pengemudi langsung menghidupkan mobil dan dengan perlahan menjalankan mobilnya menuju ke arah area parkir candi cetho.
__ADS_1
Suasana desa siang itu sangat ramai sehingga Azman pun memilih untuk menjalankan mobilnya perlahan saja.
“Keputusanmu membantu membangun masjid itu sangat tepat” ucap Daim yang duduk santai di kursi penumpang depan.
“Ya alhamdulilah” ucap Azman sambil mengambil bungkus rokoknya dan dia pun langsung menyalakan satu batang.
“Kau tau, aku kadang kecewa, dengan masjid yang sangat besar namun jamaahnya sangat sedikit” ucap Daim.
“Kau benar, tapi setidaknya itu memperlihatkan jika ada keinginan untuk berbuat kebaikan, dan kau tahu ada kala masjid yang sepi akan jadi ramai dan yang ramai akan jadi sepi, ya itulah perputarannya” ucap Azman sambil melihat ke arah Daim.
Daim hanya menganggukkan kepalanya, karena apa yang Azman sampaikan ada benarnya juga.
“Azman, seberapa lama lagi sampainya?” Tanya Daim.
“Lima belas menit kurang lebih, kenapa apakah kau berubah pikiran dan akan ikut dengan ku ke atas” jawab Azman.
“Dasar kau ini, jika kau mau pulang maka aku tidak masalah juga, bukankah kau bisa datang dalam kedipan mata jika aku membutuhkan mu” ucap Azman yang tidak ingin membuat Daim merasa terpaksa ikut dengannya, dan dia berpikiran jika Daim memiliki kepentingan sendiri.
“Nah itu lebih baik, oke aku pergi dulu ya” ucap Daim yang tiba - tiba saja menghilang dari dalam mobil.
“Kelakuan” ucap Azman sambil menggelengkan kepalanya.
Sementara itu Daim nampak melayang puluhan meter dari atas mobil Azman yang masih melaju pelan dan melihat kearah Azman, Daim sendiri sudah menghilangkan penampakannya.
“Azman, aku akan tetap menjagamu dan aku hanya ingin melatih mu, kewaspadaan mu itu sudah sangat berkurang ternyata selama aku tinggalkan, semoga dengan begini kau ada perubahan yang jelas, meskipun aku tidak menyalahkanmu karena salah mengira kaum iblis itu adalah manusia tapi seharusnya kau sudah curiga saat ada makhluk terkutuk yang sangat tunduk dengannya” ucap Daim berbicara sendiri sambil mengawasi Azman.
“Aku rasa tidak akan ada masalah aku pergi sendirian ke gunung lawu, namun yang harus aku pikirkan adalah bagaimana aku bisa bermalam disana” ucap Azman berbicara sendirian.
Azman terus mengemudikan mobilnya dan tidak lama kemudian dia pun sampai ke lokasi parkir yang biasa digunakan para pendaki.
__ADS_1
Dia memarkirkan mobilnya di depan salah satu warung makan dan dia pun langsung berjalan memasuki warung tersebut.
“Mba, bisa buatkan saya segelas kopi hitam tanpa gula” Ucap Azman ke pedagang warung itu yang dia kira usianya masih tiga puluh tahunan, atau lima tahun lebih tua darinya, warung itu sendiri tidak besar dan hanya ada dua meja panjang dengan delapan kursi saja, dan nampak jika tidak ada pembeli di sana selain Azman.
“Bisa mas, saya akan buatkan, mas nya silahkan duduk dulu ya” ucap wanita pedagang warung tersebut.
Azman hanya tersenyum ramah dan langsung duduk di kursi terdekatnya lalu menyalakan sebatang rokoknya sambil memperhatikan sekelilingnya.
“Aku kok jadi ingat dengan warung kuntilanak itu, kejadian pertama kali dengan makhluk gaib yang sampai merubah hidupku” Ucap Azman dalam hatinya sambil menghisap perlahan rokoknya.
“Mas ini kopinya, jika kurang pahit akan saya tambahkan kopinya” ucap wanita pedagang warung yang sudah datang dengan membawa secangkir kopi hitam pesanan Azman dan meletakkan cangkir kopi tersebut di atas meja persis di depan Azman.
“Makasih ya mba, oh ya disini kok sepi ya” ucap Azman sambil menggeser cangkir kopi tersebut agar lebih dekat dengan dirinya.
“Iya mas, mungkin karena kemarin hujan deras jadi para pengunjung pada tidak mau datang, mas ini sendiri mau kemah atau mau ke candi” ucap wanita pedagang warung yang duduk di depan Azman.
“Saya mau berkemah mba, kebetulan belum pernah berkemah di gunung ini” ucap Azman.
“Jika mas mau berkemah sebaik selesai minum kopi langsung naik, karena tidak baik jika naik ke atas sehabis maghrib” ucap wanita pedagang warung dan dari nada suaranya Azman merasakan kekhawatiran.
“Iya Mba, tapi kenapa pendakian malam hari tidak disarankan ya oleh semua orang daerah sini” ucap Azman yang ingin mencoba mencari informasi.
“Mas, ada banyak kisah mistis yang terjadi kepada para pendaki, ada pendaki yang hilang, ada pendaki yang kesurupan, bahkan ada yang terluka, gunung lawu ini entah kenapa menyimpan ribuan kisah para pendaki” ucap wanita pedagang warung tersebut.
“Jadi begitu ya mba, oh ya mba, kalau mbak asli sini atau pendatang ya” ucap Azman.
“Saya asli sini Mas, kenapa memangnya?” tanya wanita pedagang warung.
“Gini loh Mbak, jika Mbak asli sini kan bisa memberitahu saya apa yang bisa saya lakukan dan tidak lakukan selama mendaki gunung lawu ini, saya berencana berkunjung ke candi cetho terlebih dulu baru lanjut ke puncak lawu” ucap Azman.
__ADS_1