
“Pak Danu, alasan saya hanya ada dua, yang pertama adalah ingin menghentikan timbulnya korban akibat makhluk gaib yang ada di jurang kematian dan alasan kedua saya ingin memberikan kembali Gua itu ke penduduk desa ini agar kehidupan mereka bisa lebih baik, anda bisa melihat sendiri bukan kondisi desa ini, adapun saya akan kesana bersama dengan istri saya lebih dulu, saya hanya minta anda menghalau semua orang agar tidak ada yang memasuki area jurang kematian sebelum saya menghabisi semua makhluk gaib itu.” Ucap Azman.
“Pak Azman, jika kami membiarkan anda masuk berdua dengan istri anda, kami yakin penduduk desa akan keberatan, begini saja, kami sebagian akan ikut dengan anda dari sini, namun nanti kami akan berhenti di tengah jalan, lalu hal apa lagi yang akan kita lakukan setelah anda berhasil menghabisi makhluk gaib itu.” Ucap Pak Danu.
“Apakah Bapak tahu jika Gua itu merupakan Gua burung walet?.” Tanya Azman.
“Saya mengetahuinya, semoga ide anda bukan memanen sarang burung walet itu ya.” Ucap Pak Danu.
“Tentu saja bukan Pak, masa iya kita yang memanennya, mengenai sarang burung walet itu kan hak pengelolaannya pada warga desa ini dan biarkanlah mereka yang menikmatinya, namun ada kecurigaan saya ada orang - orang tidak bertanggung jawab yang dulu memprovokasi untuk menutup Gua Kematian lalu memanen apa yang ada di dalamnya sendirian, saya sudah mendapatkan sedikit bukti akan hal ini namun sisanya saya serahkan kepada anda saja, bahkan saya curiga jika merekalah dalang dari semua makhluk gaib yang ada di jurang kematian, mereka bekerja sama dengan makhluk gaib agar tidak ada yang ikut memanen hasil dari dalam Gua Kematian itu.” Ucap Azman.
“Pak Azman, apakah maksud anda manusia bisa bekerja sama dengan makhluk gaib? Dan memerintahkan Makhluk Gaib untuk kepentingan mereka?.” Tanya Pak Danu.
“Iya Pak, itu benar, dan karena yang meninggal atau kecelakaan mempunyai pola khusus juga kecurigaan saya semakin menjadi besar, seolah olah mereka dijadikan tumbal.” Ucap Azman.
“Lalu apa yang harus kami lakukan, karena kan akan susah untuk kami mencari bukti dan menuntutnya.” Ucap Pak Danu.
__ADS_1
“Untuk perkara mistis akan susah, namun saya yakin nanti akan ada perkara lain yang bisa anda angkat, ya mungkin perkara kematian akibat racun yang dulu sempat terjadi di jurang kematian itu.” Ucap Azman.
“Kami sudah melakukan visum untuk jenazah itu namun tidak berhasil menemukan jenis racunnya dan keluarganya juga sudah mengikhlaskannya, akan sedikit susah untuk kami menaikkan kasus ini juga, semoga saja ada temuan lain yang bisa menjerat mereka, bisakah Pak Azman memberitahukan saya siapa - siapa yang anda curigai di desa ini, siapa tahu mereka sama dengan orang - orang yang sudah kami curigai sebelumnya.” Ucap Pak Danu.
“Tolong tuliskan nomor ponsel anda disini Pak, biar saya bisa mengirimkan photonya.” Ucap Azman sambil memberikan ponselnya.
Pak Danu menerima ponsel Azman dan langsung menulis nomor teleponnya lalu memberikan kembali ponsel milik Azman tersebut.
Azman pun kemudian mengirimkan photo - photo tersebut ke Pak Danu melalui pesan singkat dan Pak Danu pun nampak cukup terkejut dengan photo - photo tersebut.
“Ini sama Pak, kami juga mencurigai mereka selama ini, namun kami tidak mendapatkan bukti untuk menjerat mereka.” Ucap Pak Danu sambil menarik nafas dalam - dalam.
“Saya tahu Sumur itu, beberapa tahun lalu saya pernah kesana melihatnya, saya tidak menyangka jika sumur itu adalah salah satu akses masuk ke Gua kematian.” Ucap pak Danu.
“Suamiku akan susah untuk manusia memasuki Gua dari sumur itu, karena semakin kebawah semakin mengecil dan tidak muat untuk tubuh manusia.” Ucap Azizah dalam hatinya berkomunikasi dengan Azman.
__ADS_1
“Pak Danu, itu hanya lorong udara saja, tidak bisa di masuki manusia karena semakin ke bawah semakin mengecil, berbeda jika dilakukan penggalian ulang mungkin manusia bisa memasukinya.” Ucap Azman.
“Jadi begitu, namun ini sudah menjadi sumber informasi yang sangat baik untuk kami, sebentar saya tinggal dulu, saya akan membuat strategi untuk menjaga sumur tua itu dan semoga saja sumur tua itu bisa menjadi lokasi penangkapan dari para pelaku.” Ucap Pak Danu.
“Ingat Pak, jangan sampai mereka membuang racunnya kedalam sumur, karena bisa - bisa kita jadi korbannya, angin dari laut berhembus sangat kencang sehingga mulut Gua di jurang kematian itu akan mengeluarkan angin dan racun yang di masukkan ke sumur tua sudah pasti memenuhi jurang kematian.” Ucap Azman mengingatkan.
“Terima kasih informasinya, sebentar saya tinggal dulu ya.” Ucap Pak Danu yang langsung berdiri dan meninggalkan balai desa untuk menemui anak buahnya yang tidak jauh dari balai desa itu.
“Suamiku, analisa mu cepat juga, aku suka dengan gaya berpikirmu itu.” Ucap Azizah sambil tersenyum hangat sedangkan Azman sendiri kembali menyalakan sebatang rokoknya.
“Istriku, saat tadi kita ke mulut gua itu kan angin memang kencang dan jika kita tarik garis lurus maka mulut Gua kematian di pinggir laut dengan di jurang kematian itu lurus dengan sumur tua itu di tengahnya, disana aku menarik kesimpulan jika tempat yang paling aman untuk membuang racun adalah sumur tua itu, dan dampak dari racun itu juga tidak ada rumput yang tumbuh di sekitar sumur tua itu, namun aku masih penasaran dengan batuan ini.” Ucap Azman sambil mengeluarkan batu alam yang berikan oleh Azizah.
“Jika aku lihat batu ini merupakan batuan alam yang sama dengan yang di pakai oleh Pak Danu tadi, cuma yang di pakai Pak Danu itu sudah di olah lebih lanjut.” Ucap Azizah.
“Jadi ini batu akik.” Ucap Azman.
__ADS_1
“Batu akik itu apa?.” Tanya Azizah.
“Batu akik adalah batuan alam yang sangat indah yang digunakan untuk perhiasan, selain dengan permata dan berlian banyak juga batuan yang sangat keras yang juga memiliki nilai jual yang cukup tinggi, biar nanti kita coba minta pendapat dari Pak Danu itu ya.” Ucap Azman sambil menyimpan kembali batu alam itu ke saku celananya dan kembali menikmati rokoknya, Azman menghisap rokoknya perlahan dan terlihat sangat menikmatinya.