Petualangan Misteri Azman

Petualangan Misteri Azman
Desa di tengah lembah 10


__ADS_3

“Insyaallah saya masih aman Pak, baiklah nanti saya kabari lagi jika ada perkembangan lainnya” Ucap Azman sambil mematikan panggilan telepon itu dan menyimpan lagi telepon selulernya di saku celananya.


Wusssssssss angin berhembus dan api lilin itu pun mati.


Sekilas Azman melihat bayangan hitam bergerak di belakangnya dan dia pun langsung berdiri mencoba melihatnya namun tidak ada satu pun yang dia lihat.


Wusssssssss Azman merasakan ada angin lagi yang berhembus di belakangnya dan dia pun kembali membalikkan badannya namun lagi - lagi tidak ada yang dia lihat.


Azman pun mengambil koreknya dan berusaha menyalakan kembali lilin itu namun setiap kali dia menyalakan korek angin kembali berhembus dan mematikan api tersebut sehingga dia pun berhenti menyalakan korek lalu menyimpan kembali koreknya.


‘Tap tap tap tap’ Azman mendengar suara langkah kaki dari arah ruang tamu.


Azman tetap berdiri di tempatnya dan dia berusaha untuk menenangkan pikirannya.


Bukan hanya suara langkah kaki yang dia dengar namun dia juga merasakan jika suhu udara di dalam rumah itu kini semakin dingin dan hembusan angin juga berkali - kali dia rasakan.


“Ada apa ini” Ucap Azman dalam hatinya sambil menggerakkan badannya ke arah dinding dengan sangat hati - hati dan tidak mau membuat suara apapun.


‘Tap tap tap tap’ kembali terdengar suara langkah kaki namun kini suara langkah kaki itu seolah ada banyak orang di rumah itu.


‘Bruuggggg’ Azman merasakan jika ada memukul dadanya dan dia pun merasakan sakit yang luar biasa hingga dia pun jatuh tersungkur ke lantai sambil tangan kanannya memegangi dada.


“Sakit sekali, tapi aku tidak melihat siapa yang memukulku” Ucap Azman dalam hatinya sambil berusaha untuk duduk dan dia pun berhasil duduk lalu bersandar di dinding.

__ADS_1


Asap mulai tercium oleh Azman dan Asap itu juga sangat pekat, perlahan Azman mulai melihat cahaya dan cahaya itu bersumber dari api yang menyala dari jendela dapur yang ternyata terbakar.


Dengan susah payah Azman berusaha untuk berdiri dan dia pun menutup hidungnya dengan tangan kirinya karena tebalnya Asap di dapur itu membuat napasnya sesak.


Azman berlari ke arah kamar mandi dan dia pun membuka kaos yang dia pakai lalu membasahi kaosnya dengan air yang ada di kamar mandi dan menjadikan kaos basah tersebut sebagai masker.


“Aku harus keluar dari sini” Ucap Azman berbicara sendiri dan menguatkan tekadnya.


Asap tebal itu tidak lagi terhirup oleh Azman namun matanya yang kini merasa pedih, dan dia melihat jika api di jendela dapur sudah mulai merambat ke dinding serta atap rumah.


Dengan susah payah di berusaha berjalan ke arah ruang tamu karena rumah itu hanya memiliki satu pintu namun ternyata ruang tamu rumah itu pun sudah terbakar sehingga dia pun mengurungkan niatnya dan berkat cahaya dari api itu juga Azman kini bisa lebih jelas melihat isi rumah.


Azman pun berlari ke arah kamar karena dia mengingat jika kamar terdekat dengan dapur memiliki jendela yang mengarah ke arah belakang rumah namun ternyata jendela dan dinding kamar itu juga sudah terbakar, api juga nampak sangat besar namun Azman melihat jika api belum menyambar bagian lain di kamar itu sehingga dengan cepat dia menyambar selimut yang ada di atas ranjang dan berlari kembali ke arah dapur.


Hanya area kamar mandi yang sama sekali belum ada api namun  area kamar mandi itu di penuhi oleh asap yang cukup pekat.


Azman mengambil gayung dan dia membasahi seluruh tubuhnya dengan air dan sesekali menguyur area luar kamar mandi agar api tidak segera sampai kesana.


Hampir semua bagian rumah kini sudah terbakar namun tidak ada seorang penduduk pun yang keluar dari rumah mereka dan berusaha memadamkan api tersebut, semua penduduk nampaknya berpura - pura tidak mengetahui kebakaran itu, di tambah memang jarak antar rumah yang cukup jauh membuat api itu tidak menjalar ke rumah lainnya.


Azman mengambil selimut yang sudah basah dan dia pun menutup tubuhnya dengan selimut tersebut lalu dengan cepat dia berlari ke arah kamar yang tadi dan menerobos api lalu melompat keluar melalui lubang di dinding bekas jendela yang lebih dulu terbakar.


Azman sengaja memilih keluar melalui dinding kamar karena jika dia menerobos keluar melalui dinding dapur maka dia akan berada di samping rumah sedangkan sekarang dia berhasil berada di belakang rumah.

__ADS_1


Azman pun tidak diam di tempat namun  dia langsung berlari ke area hutan menghiraukan rasa sakit yang dia rasakan di seluruh badannya.


‘Uhuuuk uhuuuuk’ Azman terbatuk dalam posisi masih berlari dan akibat terlalu banyak menghirup asap dia merasakan jika dadanya sangat sakit, belum lagi akibat ada yang memukul dadanya saat di dalam rumah itu.


Akibat jalanan yang menurun serta licin alhasil Azman pun tersungkur hingga jatuh terperosok ke jurang.


Sementara itu Pak Jaja yang masih berada di kawasan hutan pinus tidak sama sekali mengetahui keadaan Azman.


“Mobilnya kita parkirkan disini saja dan kita akan berjalan dua ratus meter ke arah sana” Ucap Pak Jaja ke Perwira kepolisian yang ikut di mobilnya dan dia pun langsung mematikan mesin mobilnya.


“Baik Pak, apakah semua perlu saya ajak atau sebagian saja” Ucap Perwira kepolisian itu.


“Jika ini adalah kasus pembunuhan maka lebih baik jika kita membagi dua pasukan saja, cukup sepuluh orang yang ikut bersama kita ke makam kuno dan sisanya arahkan untuk menyebar, sampaikan kepada mereka untuk berhati - hati dan agar mengamankan siapapun yang ada di area hutan ini, tidak mungkin ada penduduk desa yang berkeliaran di hutan ini pada jam segini kecuali mempunyai niat jelek” Ucap Pak Jaja memberikan arahan sambil kemudian turun dari dalam mobilnya itu.


Perwira kepolisian itu pun ikut turun dari dalam mobilnya lalu mengumpulkan semua anggota kepolisian dan memberikan arahannya sedangkan Pak Jaja nampak berusaha menghubungi Azman melalui panggilan telepon karena dia merasa ada firasat tidak baik tentang Azman.


Berkali - kali Pak Jaja berusaha menghubungi Azman namun tidak berhasil tersambung dengan Azman.


“Azman kenapa kau tidak mengangkat telepon ku” Tulis Pak Jaja melalui pesan singkat ke Azman dan dia pun kemudian menyimpan kembali telepon selulernya bersamaan dengan datangnya perwira kepolisian bersama sepuluh orang anggotanya.


“Sebaiknya kita membawa tambang dan juga senter Pak, serta perlengkapan untuk melakukan evakuasi di sumur itu” Ucap Pak Jaja.


“Sudah siap Pak, dan sebagian anak buah saya akan bergerak menyisir hutan pinus ini, saya juga sudah meminta tambahan personil untuk menyusul kita kesini” Ucap Perwira kepolisian itu sambil menyerahkan sebuah senter kepala ke Pak Jaja.

__ADS_1


__ADS_2