Petualangan Misteri Azman

Petualangan Misteri Azman
Bertenda di Hutan samping desa terkutuk 2


__ADS_3

"Tiada yang lebih indah dari pada makan dikala lapar." Ucap Azman sambil tersenyum bahagia karena bisa memberi makan cacing cacing di dalam perutnya itu.


"Azman kau ini, uang banyak namun masih saja menahan lapar." Ucap Daim yang dari tadi hanya berdiri di pojokan tenda.


"Aku tidak bisa makan jika yang lainnya lapar, mereka semua dari pesisir baru selesai tugas penyelamatan jadi aku tahu jika mereka pastinya belum makan juga, makanya aku menunggu dapur umum saja." Ucap Azman dalam hatinya berkomunikasi dengan Daim sambil membuka tutup botol air mineral dan langsung meminumnya.


"Sifat sosial mu ini kadang membuat ku bingung, karena kau selalu mengutamakan orang lain dari pada dirimu sendiri." Ucap Daim.


"Ya siapa tahu salah satu kebaikan ku bisa melebur dosa ku, kita tidak pernah tahu bukan mana kebaikan kita yang di terima oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala nantinya, jadi selama aku masih bisa bernafas aku akan tetap seperti ini." Ucap Azman dalam hatinya berkomunikasi dengan Daim karena ada beberapa orang yang melintasi tendanya.


"Kau benar akan hal itu, tidak semua kebaikan akan di terima, aku hanya berharap kau lebih menjaga kesehatan mu saja." Ucap Daim.


"Iya terima kasih, kenapa aku tidak melihat satu pun arwah leluhur di hutan ini." Ucap Azman dalam hatinya berkomunikasi dengan Daim sambil membawa kotak bekas nasi nya ke tempat sampah yang ada di luar tendanya.


"Mereka masih tidur semua di atas pohon pohon yang ada di hutan ini, lihatlah ke atas." Ucap Daim.


"Astaghfirullah hal Adzim." Ucap Azman yang melihat ada ribuan arwah leluhur yang tidur di atas pohon, ada yg bersandar di dahan, ada juga yang tiduran di atas dedaunan.


Sosok sosok mereka layaknya manusia pada umumnya namun mereka semua terlihat transparan dan wajahnya sangat pucat seperti mayat.


Azman dapat melihat mereka dengan jelas karena memang itulah kelebihan dari Azman.


"Mereka itu kenapa tidur seperti itu." Ucap Azman dalam hatinya berkomunikasi dengan Daim karena tidak ingin menakuti semua anggota Tim SAR.

__ADS_1


Posisi tenda Azman memang di antara tenda tenda lainnya sehingga banyak yang melewati tendanya itu.


"Ya namanya juga sudah menjadi Arwah, mau tidur di atas air juga bisa, mereka tidak seperti ku yang bisa terus menerus aktif tanpa tidur." Ucap Daim.


"Iya kau Jin dan mereka arwah tentunya berbeda." Ucap Azman dalam hatinya berkomunikasi dengan Daim.


"Azman kau lihat mereka berjumlah ribuan dan mereka akan membantu mu menyelesaikan masalah desa terkutuk itu, namun tidak semua bisa mereka hadapi jadi hanya sebagian besar saja yang akan di selesaikan oleh mereka, sisanya yang kuat kuat akan menjadi tugas mu." Ucap Daim.


"Iya aku sudah siap, dan mungkin waktunya menggunakan senjata api ku untuk menghabisi mereka nantinya." Ucap Azman.


"Azman ingat kelebihan mu adalah buat mu mereka sama seperti manusia pada umumnya, jadi apapun yang kau gunakan untuk melukai manusia maka akan bisa melukai mereka." Ucap Daim.


"Iya, aku akan mengingatnya, aku akan meminjam pisau sangkur milik anggota Tim SAR saja atau golok penduduk desa." Ucap Azman dalam hatinya berkomunikasi dengan Daim karena ada lagi anggota Tim SAR yang melewati tendanya itu.


“Iya aku akan berusaha untuk tetap waspada, jalan ku masih panjang dan aku tidak ingin selesai hanya di desa ini saja.” Ucap Azman.


“Baguslah jika kau mengetahui hal itu, ingat jangan pernah meremehkan musuhmu, kadang yang kau kira lemah justru sangat berbahaya.” Ucap Daim.


“Iya, namun aku bingung kenapa banyak sekali yang menjadi arwah penasaran di sini?.” Tanya Azman.


“Itu di karenakan mereka semua tidak ingin para penerus mereka di desa menjadi korban dari makhluk makhluk yang ada di dalam desa terkutuk itu.” Jawab Daim.


“Jika begitu dengan selesainya semua makhluk yang ada di desa terkutuk maka mereka juga kembali ke alam baka.” Ucap Azman dalam hatinya berkomunikasi dengan Daim karena melihat jika Pak Jaja berjalan ke arah tendanya dan akan segera sampai..

__ADS_1


“Iya itu benar, makanya mereka semua mau membantumu, karena peluang seperti ini sudah mereka tunggu dari puluhan tahun lalu.” Ucap Daim.


“Pak Azman, maaf mengganggu istirahat Bapak, namun saya ingin menginformasikan jika sudah ada ratusan relawan yang datang dan akan ikut berdzikir bersama bersama kita.” Ucap Pak Jaja yang kini sudah duduk di depan Azman.


“Alhamdulillah jika demikian, nanti selesai shalat isya berjamaah langsung di bagi per beberapa kelompok saja pak, atau bisa bagi dan arahkan mulai dari sekarang, usahakan minimal lima orang perkelompoknya Pak, jadi mereka tidak akan iseng, dan nanti akan saya sampaikan ke mereka juga jika mendengar atau melihat hal hal gaib maka mereka cukup menutup mata dan tetap berdzikir saja pak.” Ucap Azman.


“Baik Pak, tadinya saya berencana untuk membuat pagar betis saja pak.” Ucap  Pak Jaja.


“Iya Pak jika jumlahnya cukup maka itu tidak masalah, namun jika tidak maka di buat berkelompok saja Pak, dengan jarak sepuluh meter sebisanya jadi mereka tetap bisa saling melihat kelompok lainnya.” Ucap Azman.


“Pak Azman, ada satu hal yang mengganjal di hati saya Pak.” Ucap Pak Jaja.


“Jika saya boleh mengetahuinya, apa itu pak yang mengganjal di pikiran bapak.” Ucap Azman.


“Bulu kuduk saya dari tadi berdiri Pak demikian juga dengan yang lainnya.” Ucap Pak Jaja.


“Kita berkemah di pusat roh para leluhur desa atau yang biasa di sebut dengan arwah penasaran, ada ada ribuan dari mereka, namun Bapak tidak perlu takut atau risau karena mereka saya pastikan tidak akan menyerang siapapun yang ada di hutan ini selama mereka mau menjaga hutan ini tetap asri, tidak membuang sampah sembarangan dan juga tidak buang air sembarangan, jadi akan lebih baik bapak meminta lebih banyak mobil toilet Pak, karena saya lihat hanya ada satu mobil toilet saja.” Ucap Azman.


“Pak Azman apakah kita perlu memindahkan kemah kita?.” Tanya Pak Jaja.


“Tidak Pak, itu tidak perlu, karena mereka semua ada di pihak kita, dan merekalah yang besok akan masuk bersama saya ke desa terkutuk, jadi besok pagi mungkin akan ada pemandangan yang tidak pernah bapak lihat sebelumnya.” Ucap Azman.


“Saya bingung Pak harus menjawab apa Pak, apakah saya harus senang karena Pak Azman mendapatkan bantuan atau saya harus sedih karena berkemah di pusat keberadaan Arwah Arwah Gentayangan.” Ucap Pak Jaja.

__ADS_1


__ADS_2