Petualangan Misteri Azman

Petualangan Misteri Azman
Yogyakarta 6


__ADS_3

Sudah satu jam mereka berada di perjalanan itu namun belum ada tanda jika Pak Jaja akan berhenti, dan Azman sama sekali tidak mengetahui kemana mereka akan pergi.


Azman sendiri sudah menghubungi Azizah jika dia meninggalkan rumah dan Azman meminta agar Azizah tidak khawatir tentangnya.


“Pak Jaja, sudah satu jam kita di jalan, apakah masih jauh yang menjadi tujuan kita?.” Tanya Azman sambil melihat ke Pak Jaja.


“Kurang lebih dua Jam lagi Pak, saya ingin mengajak anda menemui salah seorang kawan saya, kebetulan sudah hampir delapan tahun saya tidak bertemu dengan beliau itu.” Jawab Pak Jaja.


“Wah sudah lama juga ya Pak.” Ucap Azman sambil terus menikmati melihat ke arah keluar mobil.


“Benar Pak, jadi kawan saya itu tinggal di kaki bukit Gunung Lawu, lebih tepatnya dia berdekatan dengan Candi Cetho, dari rumahnya ke Candi Cetho itu sangat dekat Pak.” Ucap Pak Jaja.


“Saya tidak sabar untuk sampai kesana Pak, tapi bukankah lebih baik kita berhenti dan membeli buah tangan terlebih dahulu, anda sudah delapan tahun tidak berjumpa, masa anda akan datang dengan tangan hampa.” Ucap Azman.


“Nah ini kebiasaan saya Pak, saya selalu datang dengan tangan hampa, baiklah, nanti jika ada mini market kita akan berhenti.” Ucap Pak Jaja yang mulai menambah kecepatan mobilnya karena jalanan cukup kosong.


“Pak Jaja, jika ada warung nasi yang cocok untuk anda maka sebaiknya kita berhenti, dari tadi saya lihat ada banyak warung nasi yang kita lintasi, anda tidak berhenti.” Ucap Azman yang membuat Pak Jaja menengok kepadanya.


“Apakah Anda sudah lapar?.” Tanya Pak Jaja.

__ADS_1


“Sedikit, namun dari tadi melihat banyak warung nasi maka saya jadi lapar Pak.” Jawab Azman. 


“Saya mengetahui satu warung nasi yang sangat enak menurut saya Pak, di sampingnya juga ada warung serba ada jadi saya bisa membeli buah tangan sekalian, namun satu jam lagi kemungkinan kita baru sampai.” Ucap Pak Jaja.


“Saya masih bisa menunggu dan tidak masalah jika memang makanan disana enak.” Ucap Azman.


Pak Jaja terus menjalankan mobilnya dan mereka juga terus berbincang santai, hingga akhirnya Pak Jaja menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah makan tradisional dan disana juga nampak sudah ada beberapa mobil terparkir demikian juga dengan sepeda motor.


“Pak Azman, di rumah makan ini anda bisa makan banyak menu makanan yang mungkin sangat jarang anda temui di daerah lainnya, sekarang mari kita masuk, kita ke bagian belakang saja yang lesehan Pak.” Ucap Pak Jaja sambil mematikan mobilnya dan mereka berdua pun langsung turun dari dalam mobil itu.


“Anda sangat mengenal tempat ini sepertinya.” Ucap Azman sambil berjalan di samping Pak Jaja.


Rumah makan itu dari luar nampak tidak terlalu besar dan luas namun setelah mereka masuk ternyata rumah makan itu memanjang ke belakang, dan cukup luas dengan ratusan meja yang ada disana, Pak Jaja yang sudah mengetahui rumah makan itu kemudian mengajak Azman ke area lesehan yang berada di paling belakang, dengan pemandangan sebuah lereng bukit terlihat jelas dari lokasi mereka itu.


Azman cukup terkejut saat membaca menu makanan karena benar apa yang dikatakan Pak Jaja jika menu makanannya sangat banyak dan juga ada beberapa menu makanan yang tidak lazim di rumah makan itu, seperti sate kuda dan sop tupai dan karena rasa ingin tahu Azman maka semua menu yang baru diketahui pun dia pesan agar bisa mencobanya.


“Wah saya tidak menyangka jika anda sampai memesan sepuluh jenis makanan disini.” Ucap Pak Jaja yang hanya memesan paket nasi gudeg lengkap ayam goreng.


“Dari pada kita penasaran maka lebih baik kita mencobanya Pak, jika enak alhamdulillah namun jika tidak enak ya sudah yang penting tidak penasaran saya nya.” Ucap Azman yang langsung menyalakan sebatang rokoknya, karena dia tahu menunggu pihak rumah makan membawakan pesanannya akan cukup lama.

__ADS_1


“Hati - hati ketagihan, akan susah loh mencari apa yang anda order itu di rumah makan lainnya.” Ucap Pak Jaja yang juga menyalakan sebatang rokok, dan sejak kenal Azman Pak Jaja kini mulai menjadi perokok aktif kembali.


“Ya paling nanti saya minta orang rumah yang masak Pak, saya rasa daging tidak terlalu susah di beli, kebetulan istri saya juga sama seperti saya, hobi makan makanan yang baru Pak.” Ucap Azman.


“Dari semua masakan indonesia yang pernah anda coba, apa yang paling anda senangi pak?.” Tanya Pak Jaja.


“Nomor satu untuk saya itu adalah karedok, masakan mentah dari tanah sunda, yang kedua adalah gudeg dari Yogyakarta ini, dan yang ketiga yang banyak di semua daerah yaitu rendang bersama dengan sambal hijaunya.” Ucap Azman sambil melihat ke sekitarnya.


“Jika demikian maka makanan favorit kita sama Pak, saya yang asli sunda sangat menyukai karedok, terlebih lagi karena dulu orang tua saya kehidupanya cukup susah dan juga karena ada banyak sayuran di kebun milik orang tua saya, sedangkan gudeg saya sukai dulu waktu saya masih aktif di TNI saya lama tugas di daerah sini Pak, sehingga gudeg menjadi makanan setiap hari untuk saya, dan kemanapun kita pergi pasti ada rumah makan padang yang menjual rendang serta sambal hijau.” Ucap Pak Jaja.


“Pak Jaja, tujuan kita apakah masih jauh?.” Tanya Azman.


“Tidak terlalu jauh, dan kurang dari satu jam kita akan sampai kesana.” Ucap Pak Jaja.


“Gunung Lawu itu bukankah gunung yang dikenal sebagai salah satu gunung mistis ya Pak, dan disana ada candi Cetho yang masih digunakan untuk beribadah.” Ucap Azman.


“Apa yang anda sampaikan itu memang benar, Gunung Lawu memang dikenal sebagai Gunung mistis, dan Candi Cetho memang masih digunakan sebagai tempat ibadah, di Gunung Lawu juga sering terjadi kasus pendaki yang hilang, kasus kematian pendaki juga cukup lumayan jika dibandingkan dengan gunung - gunung lain yang ada di daerah sini.” Ucap Pak Jaja.


“Lalu yang anda ingin temui itu siapa Pak, apakah dia juga anggota TNI?.” Tanya Azman yang memang sedikit penasaran dengan kawan Pak Jaja, dan dia ingin sedikit mencari informasi lebih awal.

__ADS_1


“Bukan Pak, dia lebih ke orang tua asuh saya, di masa muda saya dulu hobi kita ini sama, saya di sejak remaja suka berpetualang dan suka sekali dengan alam, hampir semua gunung saya daki dan saat pendakian ke Gunung Lawu itu saya bertemu dengan beliau.” Jawab Pak Jaja yang menarik nafas dalam - dalam dan nampak mengingat sesuatu.


__ADS_2