
Azman langsung melihat ke atas dan melihat jika ada tengkorak kecil di paku di kayu utama atap rumah itu.
"Itu tengkorak monyet" ucap Daim.
"Apa pemilik rumah ini melakukan pesugihan monyet" ucap Azman sambil kembali melihat ke sekelilingnya.
"Benar selain itu semua makhluk tadi adalah piaraannya" ucap Daim.
"Tapi kenapa aku masih merasa ada makhluk halus di rumah ini ya." Ucap Azman sambil terus melihat sekelilingnya.
"Di bawah kaki mu ada makam bayi juga, roh bayi itu tertahan di sana jadi kau masih merasakannya" ucap Daim.
"Tapi kenapa sangat kuat" ucap Azman sambil melihat Daim.
"Minta penduduk desa ini untuk membongkarnya kau akan tahu jawabannya" ucap Daim.
"Ayo kita keluar" ucap Azman sambil melangkah keluar dari bangunan rumah besar yang sudah sangat rusak itu.
Azman melihat jika sekarang ada banyak sekali orang dengan tangan mereka memegang tasbih dan berdzikir sedangkan mata mereka tertutup.
Azman berjalan melangkah mendekati imam masjid dan ketua DKM, yang berdiri persis di luar gerbang.
"Pak Ustadz" ucap Azman dengan ramah.
Imam Masjid itu membuka sedikit matanya dan melihat Azman ada disana.
"Alhamdulillah, semuanya sudah selesai" ucap Imam Masjid itu dan terlihat semua orang itu menghentikan dzikir mereka lalu semuanya membuka mata mereka.
"Pak Ustadz apakah ada kepala desa atau kepala dusun" ucap Azman dengan ramah.
"Pak Azman ya, saya kepala desa disini Pak" ucap seorang pria sepuh yang berdiri di samping kiri imam masjid itu sedangkan ketua dkm berdiri di Sebelah kanan Imam Masjid.
__ADS_1
"Maaf bapak kepala desa pemilik rumah ini dulunya kerja apa?" Ucap Azman dengan ramah.
"Istrinya dukun beranak pak" ucap kepala desa itu.
"Pantas di dalam rumah itu ada makam bayi bayi" ucap Azman sambil menarik nafas dalam dalam.
"Benarkah Pak" ucap kepala desa itu dan tampak semua orang disana terlihat kaget.
"Benar, makanya saya mau minta tolong agar makamnya di gali lalu di pindahkan ke makam yang layak pak, satu hal lagi saya minta tolong di kayu utama atap rumah ini ada tengkorak monyet, berkenan di bakar saja pak sampai menjadi abu, sepertinya pemilik rumah ini melakukan pesugihan monyet dan bayi bayi itu tumbal mereka" ucap Azman dengan ramah.
"Apakah di dalam sudah aman Pak" ucap ketua DKM itu yang terdengar sangat berat.
"Tadi di dalam ada dua kuntilanak, dua buto ijo dan satu genderuwo namun sekarang sudah hilang semuanya, jadi aman untuk bapak bapak masuki, namun jika tulang tulang bayi itu tidak di angkat maka makhluk makhluk itu akan pada berdatangan lagi" ucap Azman sambil tersenyum hangat.
"Maaf Pak, leher bapak kenapa kok merah seperti itu" ucap Imam Masjid itu sambil menunjuk ke leher Azman.
"Oooh ini tadi di cekik kuntilanak" ucap Azman santai sambil memegang lehernya.
"Mari saya perlihatkan lokasinya" ucap Azman sambil melangkah menuju ke dalam rumah besar yang kosong dan sudah sangat rusak itu.
Kepala desa dan yang lainnya pun mengikuti Azman dengan jantung yang berdetak kencang.
"Disini pak lokasi kuburan bayi bayi itu dan disana tengkorak monyetnya" ucap Azman memperlihatkan lokasinya.
"Pantas pemilik rumah ini kaya raya dan setelah ada bidan desa dia menjadi miskin" ucap ketua dkm itu dengan sangat sopan.
"Seperti karena kekurangan tumbal karena penduduk desa lebih memilih melahirkan ke bidan" ucap Imam Masjid itu.
"Entahlah Pak, mereka sudah pada tiada juga bukan jadi kita tidak bisa menanyai mereka" ucap Azman sambil menyalakan sebatang rokoknya dan menawarkan untuk mereka bertiga namun tidak ada yang mau.
"Saran saya, nanti bangunan ini di hancurkan saja, saya takut semakin hari semakin rusak dan membahayakan jika ada anak anak kecil bermain ke dalam sini, atap rumah ini bisa ambruk" ucap Azman.
__ADS_1
"Iya pak besok kami hancurkan saja, sore ini lebih baik kita pindahkan tulang tulang bayi ini saja dulu" ucap kepala desa itu dengan sangat sopan.
Jika tidak salah dulu disini ada kolam kursi sofa, ini dulunya ruang tunggu jika ada yang melahirkan dan ruang lahirannya yang itu" ucap imam masjid itu.
"Di ruangan itu tadi saya di cekik ama kuntilanak itu Pak" ucap Azman.
"Kini semuanya menjadi jelas, karena pemilik rumah ini juga memusuhi kami para pengurus masjid dulunya" ucap ketua dkm itu.
"Yang sudah terjadi biarlah terjadi, sekarang kita fokus dengan saat ini saja, syukurlah kalian sudah datang" ucap kepala desa itu sambil melihat beberapa orang penduduk sudah datang bersama dengan petugas kepolisian juga.
Azman langsung menjelaskan apa yang terjadi ke petugas kepolisian itu dan terlihat jika petugas kepolisian itu sedikit terkejut mendengarnya.
"Sudah cukup sore apa tidak sebaiknya besok pagi saja kita membongkar kuburan ini" ucap salah seorang petugas kepolisian.
"Saya tidak bisa menjamin jika roh roh halus tidak datang nanti malam" ucap Azman dengan ramah yang sebenarnya itu hanya alasan dia saja yang tidak ingin bermalam di desa ini.
"Sudah kita selesaikan sekarang saja" ucap Kepala desa.
"Baik jika demikian silahkan di bongkar kami menunggu di luar saja pak" ucap salah seorang petugas kepolisian itu dengan ramah.
"Silahkan Pak, dan kalian bongkar lantai yang ini" ucap kepala desa itu.
Empat orang langsung bekerja membongkar lantai keramik yang berbeda dari yang lainnya itu, keramik rumah itu semuanya putih, sedangkan posisi yang menjadi makam itu berwarna merah yang sepertinya sengaja di tandai oleh pemilik rumah itu.
Posisi tengkorak monyet itu juga tepat di atas makam bayi bayi itu.
"Tolong ambilkan tengkorak monyet itu dan langsung bakar sampai menjadi abu" ucap kepala desa lagi ke penduduk desa yang membawa tangga dan penduduk desa itu langsung naik mengambil tengkorak monyet itu.
Lima belas menit berlalu dan kini terlihat sebuah lubang sedalam satu meter yang penuh dengan tulang tulang bayi lengkap dengan tengkoraknya.
"Astagfirullah hal adzim, banyak sekali bayi yang di kubur di sini" teriak salah seorang penduduk yang ikut menggali kuburan bayi itu.
__ADS_1
Azman dan yang lainnya langsung melihat lubang itu dan mereka hanya bisa menarik nafas dalam dalam dengan apa yang mereka lihat.