
“Sebentar, kau bilang, jika aku sudah bisa merusak salah satu segel maka kau akan bisa bekerja menjadi pengawal pribadiku lagi, ada apa ini sebenarnya, apa lagi yang kau sembunyikan dari ku.” Ucap Azman yang merasa jika Daim masih menyembunyikan sesuatu darinya.
“Itu dia, di Goa itu aku curiga ada lawan yang cukup berat untukku, kau ingat dengan yang sosok buto ireng.” Ucap Daim.
“Ya aku ingat, kenapa memangnya, apakah dia ada disana di goa itu.” Ucap Azman.
“Ini hanya kecurigaan ku saja, makanya sebaiknya kau sampaikan dulu ke mereka untuk ke lokasi tempat dimana semua organ itu ditanam ya, nanti aku akan memberitahumu apa yang harus kau lakukan.” Ucap Daim.
“Jika demikian maka aku kabari saja dulu perwira kepolisian itu, agak sedikit sudah karena kan posisi ku paling belakang, jika menggunakan radio komunikasi maka aku takutnya mereka semua akan menjadi ragu untuk kesana.” Ucap Azman ke Daim.
“Satu kilometer di depan kita aku yakin mereka semua akan beristirahat, karena disana ada tanah lapang yang cukup untuk kalian beristirahat, jadi nanti saja kau menyampaikannya, aku sengaja meminta mu berjalan di belakang seperti ini bukan tanpa alasan.” Ucap Daim.
“Lalu apa alasanmu?.” Ucap Azman.
“Aku harus memberitahumu sesuatu dan ini berkaitan dengan lawanku nanti, di gunung ini kau tidak akan capai dan melawan mereka namun setelah ini aku akan memerlukan waktu untuk memulihkan stamina ku, dan kau sementara akan ditemani oleh teman ku.” Ucap Daim.
“Berapa lama aku tidak bersama mu?.” Tanya Azman.
“Satu minggu mungkin satu bulan, aku tidak bisa memastikannya namun akan berusaha lebih cepat, sudah tidak perlu khawatir, nanti kawan kawanku akan menemuimu di puncak gunung itu dan dia akan memanggil penjaga baru untukmu, aku sudah berkomunikasi dengannya jadi tidak perlu khawatir ya.” Ucap Daim.
“Daim aku kira dia yang di puncak gunung yang akan menggantikan mu sementara, ternyata Jin lainnya.” Ucap Azman.
“Kau mana cocok di sandingkan dengan kakek tua, sudah jangan khawatir aku yakin kau akan nyaman dengan teman ku yang satu ini, namun jangan kau tidurin ya.” Ucap Daim.
__ADS_1
“Apa maksudmu?.” Tanya Azman sambil terus melangkah agar tidak jauh tertinggal dari anggota kepolisian dan TNI yang ada di depannya.
“Dia itu wanita yang masih sangat muda dan cantik, namun kemampuannya sudah tidak diragukan lagi, sehingga cocok untukmu, dia bisa menampakkan diri menjadi manusia jika kau mau jadi kalian bisa mengobrol dan saling menemani bukan, tapi ingat aku mohon jangan kau tiduri dia.” Ucap Daim.
“Apakah aku sejahat itu sampai kau terlihat aku tidur dengan Jin wanita itu.” Ucap Azman.
“Hei kawan apa kau lupa, kuntilanak yang jelek saja yang kau mau tiduri waktu itu, apalagi sosok kaum ku yang secantik bidadari.” Ucap Daim.
“Jika wanita kaum mu secantik bidadari kenapa sosokmu tidak setampan aku.” Ucap Azman.
“Kau ini benar - benar tidak tahu malu ya, aku sengaja menggunakan tampilan ini agar kau tidak merasa tersaingi, apa kau mau melihat penampilan asliku.” Ucap Daim.
“Tunggu sebentar jika penampilan aslimu itu ternyata seperti yang digambarkan di komik - komuk aku tidak mau.” Ucap Azman.
“Sosok besar bertanduk merah, karena di komik - komik yang aku baca sosok Jin dan Iblis tidak jauh berbeda.” Ucap Azman sambil berhenti berjalan dan melihat ke arah Daim dan demikian juga Daim kini berhenti dan melihat ke arah Azman.
Langit tiba - tiba menjadi sangat gelap dan anehnya petir kini mulai terdengar dengan sangat kerasnya, angin pun kini bertiup dengan kencang sehingga membuat pepohonan di sana mulai terlihat bergoyang dengan kencang.
Semuanya kini ikut berhenti karena mereka cukup kaget dengan perubahan situasi itu.
“Pak Azman apakah ini aman untuk kita.” Ucap Perwira kepolisian melalui radio komunikasi.
“Aman dan satu kilometer di depan ada tanah lapang yang bisa untuk istirahat, kalian terus melangkah saja kesana ya, aku akan menyusul kalian.” Ucap Azman menjawab melalui radio komunikasi dan kini angin semakin bertiup sangat kencang.
__ADS_1
“Baik Pak Azman, semuanya kita terus melangkah, jangan ada yang berhenti.” terdengar suara Perwira kepolisian itu melalui radio komunikasi dan Azman masih melihat ke arah Daim, karena dia tahu jika perubahan kondisi alam itu dampak dari kekuatan Daim yang sangat kuat.
“Daim, apa maksudnya ini, apakah ucapanku menyinggung mu.” Ucap Azman.
“Tidak hanya saja aku ingin menampakkan wujud manusia ku yang sesungguhnya.” Ucap Daim bersamaan dengan tubuh Daim kini mulai mengeluarkan asap berwarna putih dan mulai menutup Daim seutuhnya, Azman pun kini mundur beberapa langkah menjaga jarak dengan Daim dan dia juga kini sangat waspada karena dia tidak tahu apa yang sebenarnya akan dilakukan oleh Daim.
Asap putih itu semakin tebal dan semakin menutup Daim, sehingga Azman sudah tidak dapat melihat Daim, beberapa anggota kepolisian yang berada di barisan belakang yang kebetulan menengok ke Azman juga melihat ini dan langsung menyampaikan melalui radio peristiwa ini sehingga perwira Kepolisian itu meminta semuanya untuk berjalan lebih cepat.
Perwira kepolisian dan juga semua dalam rombongan itu mengira jika ada makhluk gaib yang menyerang Azman, mereka tidak ingin menjadi bagian dalam hal itu, meskipun kini mereka menggunakan senter dan banyak daun serta ranting yang beterbangan mereka tetap mempercepat langkah mereka hingga setengah berlari menjauhi Azman.
Asap putih itu perlahan mulai menghilang bersamaan dengan suara petir dan angin kencang yang menghilang, langit juga mulai terang kembali.
Seorang pemuda seusia Azman dengan tinggi badan mencapai seratus tujuh puluh lima centimeter kini nampak di depan Azam dengan kulit kuning langsat yang sangat mulus, wajah yang sangat tampan dan juga sangat menawan nampak tersenyum ke Azman.
“Azman ini wujud asliku apakah kau sekarang masih akan mencela ku.” Ucap Daim.
“Daim, kau bukan kakek tua ya ternyata ha ha ha ha ha.” Ucap Azman sambil tertawa terbahak bahak.
“Kami semua selalu muda, jadi bagaimana apakah sosok ku ini seperti dalam komik yang kau baca.” Ucap Daim.
“Iya masih sama namun dalam komik percintaan ha ha ha ha ha, sudahlah kawan ku, ayo kita melanjutkan perjalanan kita, coba kau dari awal berpenampilan seperti ini aku lebih nyaman dengan mu dan sepertinya kita seumuran ya sekarang.” Ucap Azman sambil mendekati Daim dan kembali melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda.
“Azman kau ini benar - benar senang sekali mencandai ku ya, usia kita memang sama namun aku di tambah banyak nol di belakang.” Ucap Daim. sambil melangkah di samping Azman.
__ADS_1