Petualangan Misteri Azman

Petualangan Misteri Azman
Menolong Anak Pak Sobari


__ADS_3

"Azman sebaiknya nanti kau berjalan di desa itu dulu, dan sepertinya ada yang membutuhkan uang mu, aku mendengar tangisan doa seorang ibu." Ucap Daim sambil menunjuk ke arah desa yang bersebelahan dengan desa terkutuk.


"Daim, apakah kau tahu rumah yang mana dan apa masalahnya." Ucap Azman.


"Aku tahu, namun sebaiknya kau kesana saja dulu, mumpung masih ada waktu sebelum shalat Ashar." Ucap Daim sambil berdiri lalu melangkah ke motor Azman.


Azman juga ikut berdiri lalu dia pun berjalan ke motornya dan langsung menaiki motornya itu.


BMW R 1200 GS itu melaju hanya dengan kecepatan dua puluh kilometer per jam melintasi jalan di tengah sawah dan memasuki desa itu.


"Azman, rumah yang itu." Ucap Daim menunjuk sebuah rumah di depan mereka.


Azman tidak menjawabnya melainkan dia langsung memarkirkan motornya itu lalu turun dari motornya dan berjalan ke arah pintu rumah itu.


Rumah itu sangat sederhana dan masih merupakan rumah semi permanen setengah kayu, sedangkan rumah rumah lain di desa itu sudah rumah permanen dengan menggunakan bata dan semen.


Tok tok tok "Assalamualaikum" ucap Azman sambil mengetuk pintu rumah semi permanen itu.


"Walaikumsalam, sebentar" terdengar suara seorang pria sepuh dari dalam rumah semi permanen itu.


"Pak Azman, mari silahkan masuk." Ucap seorang pria sepuh yang keluar dari dalam rumah semi permanen itu dan ternyata itu rumah pria sepuh yang di titipkan uang untuk pembangunan masjid oleh Azman sambil mempersilahkan Azman untuk masuk kedalam rumahnya.


"Permisi Pak." Ucap Azman sambil kemudian melangkah masuk kedalam rumah itu dan duduk di kursi kayu yang sudah mulai rusak.


"Pak Azman, maaf rumah saya seperti ini, dan uang dari bapak sudah saya titipkan ke ketua dkm pak, jadi insyaallah besok sudah mulai pembangunannya." Ucap pria sepuh pemilik rumah itu dengan sangat ramah.

__ADS_1


"Pak Ustadz, dimana istri dan anak bapak?" Tanya Azman.


"Anak saya sudah pisah rumah pak, istri saya ada Pak sebentar saya panggilkan sambil membuat minum untuk bapak." Ucap pria sepuh itu sambil berdiri dan masuk ke bagian dalam rumahnya.


"Azman, pria ini sangat jujur dan rela menahan lapar." Ucap Daim yang duduk di sebelah kiri Azman.


"Ada apa sebenarnya, aku tidak melihat ada gangguan makhluk gaib di rumah ini." Ucap Azman dalam hatinya berkomunikasi dengan Daim.


"Aku bilang perlu uang mu, bukan perlu kemampuan gaib mu itu." Ucap Daim.


"Jadi mereka tidak memiliki uang untuk makan?" Ucap Azman dalam hatinya berkomunikasi dengan Daim karena tidak mungkin dia berucap sampai terdengar berbicara sendiri.


"Iya benar, dan anaknya sedang sakit di rawat di rumah sakit akibat kecelakaan motor namun dia tidak memiliki sepeser uang pun, pria sepuh itu sengaja memberikan uang mu yang untuk pembangunan masjid ke orang lain karena dia takut jika sampai uang mu terpakai." Ucap Daim.


"Sungguh pribadi yang bagus, saku suka orang seperti ini, oke aku akan membantunya sebisa ku." Ucap Azman dalam hatinya kembali sambil melihat pria sepuh itu datang bersama dengan istrinya.


"Bapak Ibu terima kasih." Ucap Azman sambil mengambil gelas itu dan meminumnya sampai habis lalu meletakkan kembali gelas tersebut di atas meja.


"Pak Azman, apa ada yang bisa saya bantu untuk bapak?." Tanya pria sepuh itu.


"Pak, Bu, kenapa kalian bersedih, apa ada hal yang membuat kalian berdua menangis." Ucap Azman sambil kemudian menyalakan sebatang rokoknya untuk membuat suasana agar semakin santai.


"Tidak ada apa apa Pak, kami tadi habis dzikir dan terbawa suasana saja Pak." Ucap Pria sepuh.


"Bapak dan Ibu, kita memang harus berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta 'ala namun pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta'ala juga datangnya kadang melalui manusia juga, jadi tolong jawab dengan jujur, berapa yang di butuhkan untuk mengobati anak bapak ibu yang kecelakaan motor ini." Ucap Azman yang tidak mau lagi berbasa basi.

__ADS_1


"Pak Azman, bagaimana bapak bisa tahu jika anak kami kecelakaan motor dan masuk rumah sakit." Ucap Pria sepuh yang nampak sangat kaget.


"Bapak, susah untuk saya menjelaskannya, namun sebaiknya bapak atau ibu menjawabnya." Ucap Azman.


"Pak Azman, sebenarnya saya sangat malu kepada bapak jika harus menceritakan permasalahan pribadi keluarga saya, kemarin siang menantu saya mengabari saya jika anak saya kecelakaan, dan tadi pagi di kabari lagi jika memerlukan sejumlah dana untuk biaya rumah sakit." Ucap pria sepuh itu dengan wajah menunduk.


"Pak, anak bapak di rawat di rumah sakit mana jika saya boleh mengetahuinya?." Tanya Azman.


"Anak saya dan istrinya  bekerja di jakarta pak, dan katanya di Rumah Sakit Mooby Pak." Ucap istri pria sepuh.


"Siapa nama anak bapak dan ibu." Ucap Azman.


"Nama anak saya Rohmat pak lengkapnya Rochmat Bin Sobari, karena memang di aktenya di tulis seperti itu Pak." Ucap istri pria sepuh itu lagi dengan wajah yang terlihat sangat khawatir.


"Sudah Bapak dan Ibu jangan khawatir, sebentar saya urus semuanya untuk Bapak dan Ibu ya." Ucap Fatih sambil mengambil Ponselnya dan langsung menghubungi Dirut Rumah Sakit Mooby.


"Siang Pak Azman, wah tumben Nich menghubungi saya, oh ya maaf saya tidak sempat membesuk bapak lagi waktu sakit, karena pas saya datang  Bapak belum siuman dan saat saya kembali lagi  Bapak malah sudah melanjutkan jalan jalannya, apa ada yang bisa saya bantu untuk Bapak." Ucap seorang pria menjawab panggilan telepon dari Azman.


"Pak Erickson apa kabar pak, apakah bapak masih menjadi Direktur utama Rumah Sakit Mooby." Ucap Azman melalui panggilan telepon itu.


"Alhamdulillah kabar saya baik, saya masih di Rumah Sakit Mooby pak, bagaimana kabar dengan bapak?." Ucap Pak Erickson yang merupakan Direktur utama Rumah Sakit Mooby.


"Kabar saya juga baik Pak, saya mau minta bantuan bapak sedikit, kebetulan ada anak kenalan saya di rawat di rumah sakit bapak akibat kecelakaan motor dan namanya Rochmat bin Sobari, apakah bisa dipindahkan ke ruang VVIP dan nanti biayanya ditagihkan ke saya saja, bapak potong saja dari uang  bagian saya." Ucap Azman.


"Wah bapak ini bercanda terus, siap Pak Azman, bapak jangan khawatir saya pastikan sekarang juga anak kenalan bapak mendapatkan perawatan VVIP disini, masa iya saya berani memotong uang bapak secara rumah sakit ini milik bapak." Ucap Pak Erickson yang terdengar sangat sopan.

__ADS_1


"Baguslah, aku tunggu kabar  baiknya, dan ini sekaligus teguran pertama saya ke Pak Erickson ya, saya tidak mau lagi mendengar jika ada pasien yang kekurangan biaya dan pengobatannya di tunda." Ucap Azman.


__ADS_2