Petualangan Misteri Azman

Petualangan Misteri Azman
Gua Kematian 22


__ADS_3

“Siap Komandan, Pak Azman mohon maaf apakah aman untuk kami menyalakan api disini, suhu disini sangat dingin dan kami hendak membuat kopi untuk menghangatkan badan kami.” Ucap Salah seorang dari anggota kepolisian.


“Tentu, namun tolong di atas batu saja ya, saya tidak mengetahui jenis lumut yang ada disini dan takutnya bisa membahayakan kita.” Ucap Azman.


“Baik jika demikian, dan apakah Bapak mau juga kami buatkan kopi.” Ucap Petugas kepolisian itu.


“Jika ada kopi hitam tanpa gula boleh satu untuk saya.” Ucap Azman.


“Aku juga sama, dan jangan bilang kau tidak memilikinya, karena aku tahu kopi mu juga sama bukan.” Ucap Pak Danu.


“Siap komandan, saya membawanya.” Ucap Petugas kepolisian itu yang kemudian dia mulai menyalakan kompor parafin di atas sebuah batu datar.


Mereka terus menunggu disana dan tidak membutuhkan waktu lama untuk petugas kepolisian itu menyuguhkan segelas kopi untuk semuanya yang ada disana.


“Pak Azman, apakah anak buah saya bisa kita selamatkan.” Ucap Pak Danu.


“Pak Danu, kita akan berusaha sebisa kita untuk itu, semoga saja tidak hal buruk yang terjadi dengan mereka semua, Gua ini memang penuh misteri namun saya sama sekali tidak merasakan hal gaib disini, saya yakin jika mereka hanya tersesat saja.” Ucap Azman mencoba memberikan semangat untuk Pak Danu dan yang lainnya.


“Semoga saja demikian, karena jika sampai ada hal buruk yang menimpa mereka maka saya sendiri yang akan sangat bersedih Pak.” Ucap Pak Danu.


“Pak Azman, maaf keluar topik, saya ingin bertanya ke Bapak jika boleh?.” Ucap salah seorang petugas kepolisian.


“Silahkan Pak, selama saya bisa menjawabnya.” Ucap Azman.


“Saya hanya penasaran Pak, apa alasan anda selalu membantu masyarakat?.” Tanya Petugas kepolisian itu dan semuanya kini menengok ke Azman.

__ADS_1


“Saya hanya ingin membantu tanpa memiliki alasan apapun Pak, dalam pemikiran saya selama saya bisa membantu orang lain atau memiliki kesempatan untuk itu maka kenapa tidak, toh nantinya kita membutuhkan banyak amal kebaikan untuk kita bisa masuk ke surga.” Jawab Azman.


“Terima kasih jawabannya Pak, saya benar - benar salut dengan anda yang tidak membutuhkan alasan apapun untuk menolong orang lain.” Ucap Pak Danu.


“Saat kita meninggal nanti pastinya kita membutuhkan orang lain untuk mengurus jenazah kita dan ini sudah cukup untuk menjadi alasan bukan.” Ucap Azman lagi.


“Pak Azman, kita sudah menunggu sangat lama disini, dan apakah tidak sebaiknya kita melakukan explorasi sekitar sini terlebih dahulu?.” Tanya salah seorang petugas kepolisian lainnya.


“Sebaiknya kita menunggu yang lain saja Pak, saat semuanya sudah datang maka kita bisa menyusun strategi sesuai dengan perbekalan yang baru, ini akan jauh lebih efektif daripada kita memaksakan diri dengan perbekalan seadanya.” Jawab Azman.


“Itu benar, kita tidak tahu sudah sejauh mana mereka dan seberapa lama kita akan berada di dalam Gua ini, dan Pak Azman, apakah tidak sebaiknya lokasi ini kita jadikan basecamp saja.” Ucap Pak Danu.


“Jangan disini Pak, seperti yang kita lihat jika disini bukan langsung tanah melainkan lumut yang aneh ini, dan seperti yang saya sampaikan jika saya tidak mengetahui apakah lumut ini beracun atau tidak, jika lumut ini beracun kan tidak bagus untuk kita saat kita tiduran di atasnya maka akan sedikit terhirup oleh kita.” Ucap Azman.


“Disini aneh ya Pak, tidak ada bau kotoran kelelawar, yang artinya tidak ada kelelawar di area gua sebelah sini.” Ucap Salah seorang petugas kepolisian.


“Saya lupa, apakah ada yang membawa spidol atau cat semprot.” Tanya Azman.


“Saya membawa spidol permanen pak, kebetulan ini tidak sengaja terbawa.” Ucap seorang petugas kepolisian sambil berjalan ke arah Azman dan di tangannya nampak dua buah spidol dia bawa.


“Bapak saja yang memegangnya, jadi begini, jika nanti kita bertemu persimpangan silahkan di tandai dinding batunya, jadi kita tahu arah keluar, ini untuk berjaga - jaga saja pak jika ada yang terlepas dari tali karmantel pengikat kita.” Ucap Azman.


“Benar itu, dan nanti kau gambar saja arah keluar, ingat jangan sampai malah gambar mu menyesatkan, ini ku tambah satu spidol permanen nya.” Ucap Pak Danu sambil memberikan sebuah spidol permanen miliknya ke anggotanya itu.


“Siap, dan maaf Ndan, dari tadi saya sudah memberi tanda di dinding juga sebagai penanda untuk saya sendiri sebenarnya.” Ucap Petugas kepolisian itu sambil menerima spidol dari Pak Danu.

__ADS_1


“Tidak masalah, meskipun kita sedikit merusak alam gua ini, namun itu akan memberikan manfaat juga kedepannya.” Ucap Azman.


“Oh iya Pak Azman, disini udaranya sangat baik, apakah ada ventilasi udara ya di lorong ini, saya juga merasakan jika aliran anginnya sangat stabil disini.” Ucap Pak Danu.


“Saya juga merasakannya Pak, sepertinya ada banyak lorong udara dan kemungkinan besar jika lorong udara itu sangat kecil sehingga kita tidak melihatnya.” Ucap Azman sambil melihat ke langit - langit gua namun karena gelap tidak ada yang dapat dia temukan.


Hampir semuanya yang ada disana pun melihat ke atas bahkan Pak Danu menyorotkan senter besarnya ke langit - langit gua, sehingga kini langit - langit gua itu jadi terang dan dapat mereka lihat.


“Lihatlah di atas kita itu ada banyak stalaktit namun tidak ada stalagmitnya ini berarti jika sudah ada perubahan di area gua ini, karena jika ada stalaktit seharusnya ada stalagmitnya.” Ucap Azman sambil tetap memperhatikan bagian atas gua itu.


“Benar pak, dan anehnya stalaktitnya itu kering Pak, bukannya seharusnya basah atau lembab.” Ucap salah seorang petugas kepolisian.


“Benar Pak, artinya daerah atas itu kering dan tidak ada lagi aliran air mengalir.” Ucap Azman sambil berdiri dan berjalan sambil tetap mengawasi atasnya.


Pak Danu pun ikut berdiri dan berjalan mengikuti Azman sampai akhirnya Azman berhenti dan menatap ke atas.


“Pak Danu, saya pinjam senternya.” Ucap Azman sambil menyodorkan tangan kanannya.


“Ini Pak silahkan.” Ucap Pak Danu sambil menyerahkan senter besarnya dan langsung di terima oleh Azman.


“Pak Danu lihatlah ada lorong disana.” Ucap Azman sambil menyorot langit - langit gua itu dan nampak sebuah lorong berdiameter setengah meter yang terhalang oleh stalaktit - stalaktit besar.


“Benar Pak, jadi itulah ventilasi udara di lorong ini, tapi kenapa lorong itu bisa sebulat itu seperti sengaja di buat manusia..” Ucap Pak Danu.


“Itu mungkin saja Pak, namun untuk memastikannya memerlukan penelitian dan penjelajahan, sedangkan kita tidak memiliki waktu untuk itu, jadi anggap saja demikian ya Pak, setidaknya tanda tanya anda sudah terjawab, dan biarkan yang lainnya menjadi misteri saja.” Ucap Azman dan saat dia mematikan senter itu di lubang tersebut nampak ada sedikit cahaya namun tidak terlalu terang akan tetapi Azman dan Pak Danu masih dapat melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2