Petualangan Misteri Azman

Petualangan Misteri Azman
Wisata Air Terjun 4


__ADS_3

“Kalian berdua datang ke lokasi yang tepat untuk berlibur namun bukan pada hari yang tepat, biasanya air terjun disini sangat ramai jika bukan di musim penghujan.” Ucap Pria Sepuh.


“Bapak mohon maaf, apakah kami bisa berkemah di gunung itu?.” Tanya Azman sambil menunjuk ke gunung yang ingin dia tuju.


“Sebaiknya kalian berdua mengurungkan niat kalian untuk berkemah dan sebaiknya kalian bahkan tidak kesana.” Ucap Pria Sepuh itu yang nampak menyimpan suatu rahasia.


“Bisakah kami mengetahui alasan kami tidak boleh kesana.” Ucap Azman.


“Anak muda, di gunung itu terlalu banyak misteri yang tidak terpecahkan dan sudah cukup banyak pendaki atau orang yang berkemah di sana terluka, jadi kami sebagai warga desa disini hanya bisa menyarankan siapapun yang hendak kesana untuk mengurungkan niat mereka.” Ucap Pria sepuh tersebut.


“Apa yang ayah saya sampaikan itu benar, sebaiknya kalian berdua tidak kesana, katanya disana ada makhluk gaib yang menyerupai monyet besar dan suka mencelakai siapapun yang masuk kesana, kami para penduduk desa di sini tidak pernah kesana.” Ucap Ibu Warung sambil membawakan pesanan Azman dan Azizah dan meletakkannya di atas meja yang ada di depan Azman dan Azizah itu.


“Makhluk yang menyerupai monyet besar?.” Tanya  Azizah.


“Sudah, nanti lagi membahasnya, sekarang kita isi perut kita terlebih dahulu ya.” Ucap Azman yang sangat tergiur dengan karedok yang dibuat oleh Ibu Warung.


Azizah hanya tersenyum dan langsung mengambil nasi untuk Azman, mereka berdua pun sangat menikmati makan siang mereka itu bahkan keduanya sampai menambah masing - masing satu porsi karedok.

__ADS_1


Jam masih menunjukkan jam sebelas siang dan ini berarti masih ada waktu untuk mereka sebelum masuk ke waktu shalat dzuhur berjamaah sehingga Azman pun memilih untuk tetap di warung tersebut, dia pun memesan segelas kopi tanpa gula untuknya.


“Bapak bisakah anda menjelaskan lebih rinci mengenai gunung itu dan juga misteri yang ada di dalamnya.” Ucap Azman yang langsung menyalakan sebatang rokoknya.


“Kami warga desa percaya jika disana ada makhluk gaib yang menyerupai sosok monyet besar, monyet itu bahkan lebih besar dan lebih tinggi dari pada manusia, dan siapapun yang datang kesana selalu kerasukan makhluk gaib, sehingga mereka melakukan hal yang di luar nalar yang membahayakan jiwa mereka, bahkan pernah ada yang loncat ke jurang.” Ucap Pria sepuh tersebut yang nampak menyimpan ketakutan di matanya.


“Lalu jika mereka kerasukan  makhluk gaib, bagaimana bisa mereka keluar dari gunung itu?.” Tanya Azman.


“Mereka semua bisa keluar dari dalam gunung, karena roh yang memasuki tubuh merekalah yang membawa mereka keluar dengan cara mereka sendiri, seperti yang tadi bapak sampaikan bahwa kadang ada yang konyol dengan melompati ke jurang, mereka meskipun ada sebelah kaki atau sebelah tangannya patah mereka tetap merangkak keluar dari gunung dan baru sadar dengan keadaan mereka jika sudah keluar dari dalam gunung itu.” Ucap Pria sepuh.


“Jika memang demikian saya ingin menanyakan satu hal Pak, apakah pernah ada yang tidak selamat dari gunung itu atau semuanya bisa keluar dengan keadaan yang terluka.” Ucap Azman.


“Semuanya bisa keluar jadi seakan penunggu gunung itu mengusir paksa mereka, yang jelas menurut kami gunung itu adalah gunung terkutuk yang membawa bencana, dan biarlah kami warga desa disini tidak mendapatkan apapun dari gunung itu selama kami semua selamat, toh kami masih bisa menjadikan air terjun di bawah gunung sebagai obyek wisata, wajah anda sepertinya tidak asing untuk saya namun dimana ya kita berjumpa.” Ucap Bapak kepala desa itu yang nampaknya mulai mengenali Azman.


“Saya dan istri hanya wisatawan saja Pak dan kebetulan sedang berlibur disini, kami memiliki hobi kemping jadi tadinya kami ingin kemping disana, namun mendengar cerita Bapak berdua maka kami tidak akan jadi kemping disana.” Ucap Azman yang memiliki rencana lain untuk mencari tahu apa yang terjadi dengan gunung tersebut.


“Suamiku, sebaiknya kita segera pulang.” Ucap Azizah yang tidak nyaman berada disana karena dia merasa ada yang mengawasinya dari arah gunung tersebut.

__ADS_1


“Bapak - bapak kami permisi dulu ya, terima kasih untuk informasinya.” Ucap Azman sambil berdiri dan demikian juga dengan Azizah.


Kedua pria sepuh itu hanya tersenyum ke Azman dan Azizah dan Azman pun langsung membayar tagihannya lalu mengambil motornya, Azman dan Azizah pun langsung kembali ke villa mereka.


“Suamiku aku tidak nyaman dengan adanya yang selalu mengawasi dari arah gunung itu.” Ucap Azizah.


“Aku bisa memahamimu, kita akan shalat berjamaah di masjid dekat villa saja jika demikian ya.” Ucap Azman yang mengingat saat tadi berangkat dia melewati sebuah masjid kecil di dekat villa yang disewanya.


“Itu lebih baik, dan kau tahu setelah kita meninggalkan parkiran air terjun itu, aku sudah tidak merasakan ada lagi yang mengawasiku, oh iya apakah kita bisa melihat ke arah gunung itu dari villa.” Ucap Azizah yang juga masih penasaran dengan gunung yang di sebut gunung terkutuk oleh kepala desa itu.


“Seharusnya bisa kita melihatnya dari teras depan di lantai dua, nanti kita cek ya, aku sedikit penasaran dengan gunung itu namun mendengar akses kesana sudah di putus maka nanti aku akan mencari akses masuk lainnya saja.” Ucap Azman.


“Atau mungkin kita tidak perlu kesana, toh penunggu gunung itu juga tidak mau kedatangan tamu.” Ucap Azizah dan hal ini membuat Azman sedikit kaget namun Azman memahami ada hal yang membuat Azizah berbicara seperti itu.


“Istriku, kita cari tahu lebih banyak informasi dulu dari masyarakat disini ya, jadi ada opini lain mengenai gunung tersebut, dan semakin banyak informasi mengenai gunung itu akan lebih baik untuk kita, sekarang kita shalat berjamaah saja dulu ya.” Ucap Azman yang masih penasaran dengan gunung tersebut karena dia pun tadi merasakan ada keanehan saat di air terjun tersebut dan hal itulah yang membuatnya lebih banyak merenung sambil merokok disana dan saat ini mereka sudah sampai di depan masjid yang menjadi tujuan Azman.


“Iya suamiku, bagaimana kau saja aku akan ikut pilihan mu, oh iya itu ada rumah makan padang bagaimana jika nanti setelah shalat kita mampir kesini ya.” Ucap Azizah sambil turun dari atas motor dan melihat ke arah rumah makan padang yang ada di sebelah masjid.

__ADS_1


__ADS_2