Petualangan Misteri Azman

Petualangan Misteri Azman
Yogyakarta 12


__ADS_3

Azman kemudian mengambil testpack tersebut dan memeriksanya dengan teliti, nampak jika dia tersenyum bahagia dengan melihat testpack tersebut.


“Alhamdulillah, Allah Subhanahu Wa Ta’ala sudah memberikan kebaikan kepada aku dan istriku, istriku jaga kandunganmu baik - baik ya, dan aku sekarang memutuskan untuk tinggal di Yogyakarta ini setidaknya sampai anak kita lahir nantinya.” Ucap Azman sambil meletakkan testpack di atas meja.


“Selamat untuk kalian berdua, semoga anak kalian nanti bisa menjadi anak yang berbakti untuk kalian.” Ucap Pak Jaja.


“Ibu juga diperbolehkan ingin tinggal disini untuk sementara, ibu ingin menemani Azizah, kasihan dia jika sendirian nantinya.” Ucap Istri Pak Jaja.


“Bu, Bapak mengizinkan, namun selain izin Bapak, tentunya keputusan ada sama Azman.” Ucap Pak Jaja.


“Saya tentu saja mengizinkan namun dengan satu syarat, saya harap Bapak tidak memanggil saya dengan kata Pak lagi, cukup dengan Azman saja. Bapak dan Ibu sudah seperti orang tua saya.” Ucap Azman dengan bersungguh - sungguh.


“Baiklah, aku akan memanggil kalian berdua dengan nama saja.” Ucap Pak Jaja.


“Suamiku, apakah boleh jika memang besok sudah pasti aku mengabari kedua orang tua kita?.” Tanya Azizah.


“Tentu saja, ini berita baik dan sudah sepantasnya di beritakan.” Jawab Azman.


“Saya ada Ide, bagaimana jika kita semua berkumpul di Yogyakarta ini saja, area rumah ini masih sangat luas dan bisa membangun beberapa bangunan rumah lagi, bagaimana jika aku membangun rumah untuk orang tua kita dan juga untuk Bapak dan Ibu disini, meskipun kalian semua nantinya tidak tinggal disini namun rumah itu bisa untuk menjadi tempat istirahat kalian jika kesini.” Ucap Azman memberikan idenya dan dia juga sudah memperhitungkan segalanya.


“Azman, sudah itu tidak perlu, rumah mu itu sudah sangat besar, dan masih banyak kamar kosong, dari pada semua pohon itu di tebang untuk dijadikan rumah, saran Bapak biarkan saja apa adanya seperti saat ini.” Ucap Pak Jaja.


“Ibu juga setuju dengan apa yang Bapak ucapkan, tidak perlu kau membangun rumah untuk kami.” Ucap Istri Pak Jaja.

__ADS_1


“Suamiku, apa yang ayah dan ibu sampaikan itu benar, biar rumah kita jadi hangat maka kita satu bangunan saja ya, lagipula kau dan Bapak kan sering bepergian juga, aku dan Ibu serta anak kita yang akan lebih banyak di rumah nantinya.” Ucap Azizah.


“Ya Sudah, sekalian aku ingin memberitahukan jika aku dan Bapak besok akan pergi, kemungkinan sampai malam, namun aku akan upayakan urusan besok selesai dan tetap pulang kesini.” Ucap Azman.


“Suami ku, jalani harimu seperti biasa, jangan sampai dengan kehamilanku jadi batasan untuk mu, aku insyaallah bisa menjaga diri dan selain itu sekarang kan ada Ibu yang akan menemani aku.” Ucap Azizah.


Malam itu mereka habiskan dengan terus berbincang satu dan yang lain, dan tepat jam sepuluh malam mereka pun beranjak ke kamar masing - masing untuk beristirahat.


Di pagi hari seperti biasa mereka bangun sebelum waktu shalat Subuh dan kali ini Pak Jaja yang menjadi Imam, beruntung Azman sudah menyiapkan satu ruangan khusus untuk  menjadi mushola.


Waktu sudah menunjukkan Jam enam pagi dan mereka semua kini berkumpul di ruang makan duduk mengelilingi meja makan, semuanya nampak menikmati hidangan sarapan yang sudah di siapkan dengan tidak ada yang berbicara seorang pun.


Azman dan Pak Jaja yang sudah selesai sarapan pun beranjak ke teras rumah dan menikmati kopi sesuai kebiasaan mereka yaitu kopi hitam tanpa sebutir gula pun, dan di teras itu juga nampak Azizah dan Istri Pak Jaja menemani.


“Iya Pak, dan Istriku, sepertinya Jip tidak cocok untuk mu, tadi aku sudah meminta anak buahku di Jakarta untuk mengantarkan mobil ku yang lain juga motorku, kemungkinan sore atau malam mereka akan tiba.” Ucap Azman.


“Iya nanti aku pesankan Pak Sugeng juga, takutnya aku dan Ibu belum kembali ke sini mereka sudah datang.” Ucap Azizah.


“Bu, jangan lupa bawa Azizah ke Dokter kandungan ya, agar kita semua dapat kepastian soal bayi yang ada di kandungan Azizah.” Ucap Pak Jaja.


“Itu Sudah Pasti, nanti kami jalan jam delapan saja, dan Dokter Kandungan akan jadi tujuan Ibu.” Ucap Istri Pak Jaja.


“Baguslah jika demikian.” Ucap Pak Jaja.

__ADS_1


“Istriku, tolong sampaikan ke Pak Sugeng juga jika bisa minta carikan ahli kayu, aku ingin membangun mushola dari kayu jati, dan letaknya di tengah hutan kecil itu saja, jadi akan lebih alami.” Ucap Azman sambil menunjuk ke sebelah kanan rumahnya dan area itu memang dipenuhi pohon - pohon yang cukup rapat sehingga mirip seperti hutan kecil.


“Baik, nanti aku sampaikan ke Pak Sugeng, pastinya dia lebih mengenal orang - orang sekitar sini.” Ucap Azizah.


“Bapak sangat setuju dengan ide ini, dengan mushola disitu maka kita akan serasa menyatu dengan alam.” Ucap Pak Jaja.


“Tapi jika kondisi hujan deras akan sulit untuk beribadah disitu loh, dan sebaiknya kau pikirkan juga hal itu.” Ucap Istri Pak Jaja.


“Ibu, jika pas hujan deras ya kita shalat di rumah saja ya, saya berencana membangun mushola itu juga sebagai tempat untuk fokus belajar agama Bu, ya mungkin jika pas disana hujan deras dan ada suara petir kan suasananya jadi semakin bisa menaikkan iman kita Bu.” Ucap Azman.


“Ya Sudah, jika memang itu sudah menjadi keinginan mu, tapi sayang loh jika pohon sampai di tebang dan di jadikan bangunan, sedangkan masih banyak tanah kosong di area rumah mu ini.” Ucap Istri Pak Jaja.


“Iya Bu, ini baru pemikiran saja, nanti saya akan pertimbangkan lagi lokasinya ya Bu.” Ucap Azman yang tidak ingin mengecewakan Ibu Angkatnya itu.


“Ya Sudah, sekarang kami berangkat dulu ya, aku tidak mau sampai datang terlambat soalnya.” Ucap Pak Jaja sambil berdiri.


“Pak Saya saja yang menyetir.” Ucap Azman sambil ikut berdiri dan Pak Jaja pun memberikan kunci mobilnya.


“Kalian pergilah dan berhati - hatilah.” Ucap Istri Pak Jaja.


Azman dan Pak Jaja pun kemudian menaiki mobil mereka dan Azman langsung menghidupkan mobil lalu menjalankannya perlahan.


Mobil itu melaju perlahan meninggalkan rumah Azman dan dengan arahan Pak Jaja, Azman pun jadi mengetahui kemana harus pergi.

__ADS_1


Sebenarnya lokasinya tidak terlalu jauh hanya enam kilometer saja dari lokasi rumah Azman namun benar apa dugaan Pak Jaja, jika pagi hari ini jalanan cukup ramai sehingga kemacetan pun dialami oleh mereka berdua, bahkan Azman hanya bisa menjalankan mobil itu dengan kecepatan maksimal dua puluh kilometer per jam saja saking padatnya jalanan.


__ADS_2