
Azman pun terus mengemudikan mobilnya, hingga akhirnya dia menemukan sebuah area yang cukup lapang untuk berhenti, dan cuaca juga terlihat sudah cukup cerah meski waktu sudah sore hari, bahkan samar samar Azman mendengar suara Adzan Magrib.
Aman yang sudah selesai memarkirkan mobilnya itu pun kemudian turun dari dalam mobilnya dan berusaha mencari lebih jelas arah dari suara Adzan maghrib tersebut namun dia tidak berhasil menemukan arahnya.
Azman pun kemudian kembali kedalam mobilnya dan dia yang dalam keadaan berwudhu itu pun kemudian melaksanakan shalat di dalam mobilnya karena dia merasa shalat di dalam mobil saat ini adalah hal yang paling aman untuknya.
“Aku sebaiknya langsung melanjutkan perjalanan, meskipun disini cukup terang namun tidak dengan area sekitar, aku tidak merasa nyaman dengan area ini” ucap Azman yang kembali menjalankan mobilnya, dan dia pun kembali mengikuti jalan satu - satunya itu.
Perjalanan itu tidak mulus juga karena jalan yang dilalui tetap jalan yang sama dengan kondisi rusak berat.
“Ada rumah di puncak gunung ini?” ucap Azman berbicara sendiri saat melihat sebuah bagunan berdiri megah di depannya, dan dengan perlahan dia pun kemudian menghentikan mobilnya persis di depan bangunan kayu tersebut.
Azman tidak langsung turun dari dalam mobilnya namun dia tetap mengawasi sekitarnya, karena tidak ingin sampai ada hal bisa merugikannya.
“Alhamdulillah sudah ada sinyal kembali disini” ucap Azman yang melihat jika sinyal gps navigasinya sudah ada kembali, dan dia pun kemudian mengambil telepon selulernya, dia melihat jika sinyal telepon selulernya itu juga sudah ada.
Azman pun dengan segera mengirimkan pesan singkat ke Azizah dan juga lokasi terakhirnya ke Azizah agar istrinya itu tidak khawatir dengannya, dia juga mengabarkan jika dia mengambil jalan pintas yang ternyata kondisi jalannya rusak berat.
Azman yang telah selesai mengabari Azizah kemudian menyimpan telepon selulernya di saku celananya lalu dia pun menyalakan sebatang rokoknya.
Azman melihat jika lampu rumah itu kini mulai menyala namun bukanlah lampu listrik pada umumnya melainkan lampu petromak, Azman juga melihat seorang kakek tua yang sedang menyalakan lampu petromak di teras rumah kayu tersebut.
“Aku tidak bisa melihat auranya sama sekali” ucap Azman berbicara sendirian sambil melihat ke arah kakek tua tersebut.
__ADS_1
“Tidak sopan aku hanya berdiam dalam mobil mengawasinya, sebaiknya aku turun dan pamitan untuk numpang beristirahat sebentar disini” ucap Azman sambil kemudian turun dari dalam mobilnya dan tidak lupa dia pun mengunci mobilnya tersebut.
Hanya sebungkus rokok serta koreknya yang dia bawa serta, dan dia pun langsung menemui kakek tua yang kini sudah duduk di teras rumah kayu itu.
“Assalamualaikum, mohon maaf saya mengganggu waktu tenang kakek” ucap Azman saat dia sudah berada di depan kakek tua tersebut.
“Walaikumsalam, tidak, kau tidak menggangguku, dari mana gerangan bisa sampai disini” ucap kakek tua tersebut.
“Kakek, saya tersesat dan ingin kembali ke Yogyakarta,bisakah saya ikut beristirahat sebentar disini, karena badan ini sudah cukup lelah” ucap Azman.
“Nak duduklah terlebih dulu, kau bisa beristirahat di rumah ku selama yang kau inginkan” ucap Kakek tua tersebut mempersilahkan Azman untuk duduk.
“Terima kasih Kek” ucap Azman sambil duduk di kursi teras yang terbuat dari pohon jati, duduk berhadapan dengan kakek tua yang nampak asyik menghisap rokok yang di linting sendiri.
“Sungguh suasana yang sangat tenang, sebaiknya aku satu jam saja disini agar aku bisa segera pulang” ucap Azman dalam hatinya sambil menghisap rokoknya.
Cukup lama kakek tua itu di dalam rumahnya dan hampir lima belas menit kakek tua itu kembali dengan membawa sebuah teko teh yang masih mengeluarkan asap di tangan kirinya, sedangkan di tangan kanannya dia nampak membawa sebuah piring yang di atasnya ada singkong rebus yang juga masih terlihat sangat panas,
“Kakek hidup sendiri disini, ini silahkan kau nikmati dulu ya, itu gelasnya masih bersih kok” ucap kakek tua itu setelah menyimpan apa yang dibawanya di atas meja teras, dan dia menunjuk ke gelas gelas yang tertelungkup di atas meja yang memang sudah ada sejak Azman datang kesitu.
“Terima kasih kek, jika demikian saya tidak akan sungkan” ucap Azman sambil mengambil satu gelas lalu menuangkan air dari teko ke gelasnya, dan ternyata di teko itu berisi air teh manis yang masih sangat panas, namun karena dinginnya cuaca alhasil Azman pun tetap menyeruput air teh manis tersebut.
Azman juga tidak sungkan untuk mengambil singkong rebus tersebut dan menikmatinya dengan perlahan.
__ADS_1
“Singkong rebus ini sungguh segar dan nikmat sekali” ucap Azman sambil terus mengunyah singkong rebus.
“Itu hasil panen kakek di kebun belakang, Nak, sebaiknya malam ini kau tetap disini saja, dan kau akan kakek ijinkan pulang besok pagi” ucap kakek tua tersebut yang sedikit mengagetkan untuk Azman.
“Kakek, apakah ada sesuatu yang akan terjadi sehingga saya tidak boleh melanjutkan perjalanan malam ini juga” ucap Azman dengan penuh rasa ingin tahu.
“Lihatlah, para Arwah sudah mulai keluar” ucap kakek tua itu sambil menunjuk ke arah mobil Azman dan posisi Azman yang membelakangi mobilnya membuatnya terpaksa berdiri untuk melihat apa yang ditunjuk oleh kakek tua itu.
Azman dapat melihat bukan hanya puluhan namun bahkan ratusan arwah yang terbang melayang di jalanan dan mengarah ke arah yang akan dituju, dan nampak jika arwah arwah itu berasal dari jalan yang sebelumnya dia lintasi juga.
Azman menarik nafas dalam - dalam dan dia melihat jika arwah arwah itu memiliki aura yang berbeda - beda, ada yang sangat putih dan ada yang sangat hitam yang menandakan perbuatan dari orang itu semasa hidupnya.
“Duduklah kembali” ucap Kakek tua itu.
“Baik Kek” ucap Azman sambil duduk di kursi yang ada di sampingnya, agar dia masih bisa melihat ke arah jalanan, lebih tepatnya agar bisa melihat ratusan arwah tersebut.
“Nak, jika ada yang ingin kau tanyakan kepadaku, maka bertanyalah, selama aku masih bisa menjawabnya maka aku akan menjawab apa yang kau tanyakan” ucap kakek tua itu.
“Kakek, hendak kemana para arwah itu?” tanya Azman yang penasaran dengan arah yang dituju oleh ratusan arwah tersebut.
“Apakah kau pernah mendengar jika para arwah memiliki dunia sendiri?” ucap kakek tersebut yang balik bertanya ke Azman.
“Saya pernah mendengarnya, dan saya meyakini hal itu adalah suatu kenyataan, jika para arwah dan makhluk gaib lainnya memiliki dunia mereka sendiri.
__ADS_1