
“Saya bisa memahami hal itu Pak, memang biasanya bagaimana Pak dengan sesajen itu sebelumnya?.” Tanya Azman.
“Biasanya satu hari setelah kami meletakkan kopi dan yang lainnya tinggal setengah pak, disana kami tahu jika leluhur menerima pemberian kami.” Ucap Pak Sudrajat.
“Saya tidak mengetahui hal seperti itu namun yang jelas saya penasaran dengan lokasi tersebut Pak, namun yang jelas saya paham dengan keyakinan dari Bapak dan para penduduk sini, banyak lokasi juga yang melakukan hal serupa dan mereka menamakannya dengan sedekah bumi ya.” Ucap Azman.
“Benar Pak, itu salah satu cara kami berterima kasih baik kepada alam, leluhur dan Sang Pencipta.” Ucap Pak Sudrajat.
Azman dan Pak Sudrajat terus berbincang namun tidak lama kemudian datang Azizah dan Bu Neneng yang membawakan makan siang untuk mereka, mereka berempat pun dengan lahapnya menikmati hidangan makan siang itu.
“Istriku, aku dan Pak Sudrajat akan pergi sebentar untuk melihat lokasi mata air milik penduduk desa ini, dan sebaiknya kau disini saya ya.” Ucap Azman setelah mereka selesai menikmati hidangan makan siang itu.
“Iya suamiku, namun jika kau memerlukan bantuanku maka jangan sungkan menghubungi ku dan aku akan kesana menyusulmu.” Ucap Azizah dan ucapan ini membuat Pak Sudrajat bersama istrinya kebingungan.
“Iya sayang ku, kau jangan khawatir, aku hanya ingin melihat lokasinya saja untuk saat ini dan siapa tahu bisa mencarikan solusi untuk para penduduk desa ini, Pak Sudrajat bagaimana jika kita langsung kesana saja sekarang, mumpung hari masih siang.” Ucap Azman.
“Baik Pak jika demikian mari kita berangkat.” Ucap Pak Sudrajat.
Azman dan Pak Sudrajat pun kemudian berangkat menuju lokasi sumber mata air, dan benar saja mereka melintasi jalan yang ada di samping masjid.
Mereka berjalan di jalanan setapak yang masih dari tanah, melintasi banyak kebun dan masuk kedalam hutan, jarak lima ratus meter yang disampaikan Pak Sudrajat ternyata hampir satu kilometer jauhnya, akan tetapi Azman sudah memperkirakan hal ini karena memang di daerah seperti itu para penduduknya sudah bisa menyampaikan dekat namun aslinya jauh.
__ADS_1
Lokasi sumber mata air itu nampak sebuah lereng gunung dan ada sebuah batu besar dengan diameter kurang lebih tiga meter yang di bawahnya ada sebuah pancuran air dan di bagian bawah pancuran air itu nampak sebuah kolam berdiameter tiga meter dengan kedalaman satu meter yang kini sudah kering.
“Pak Azman ini lokasinya, dan sejak jaman dahulu mata air ini tidak pernah surut seperti ini, meskipun musim kemarau juga tidak pernah surut sama sekali.” Ucap Pak Sudrajat sambil menunjuk ke batu besar itu.
“Pak Sudrajat, apakah di atas sana ada danau atau ada sumber air lainnya?.” Tanya Azman sambil menunjuk ke puncak bukit.
“Tidak ada Pak, di puncak bukit itu hanya puncak bukit biasa yang penuh dengan pohon pinus saja.” Jawab Pak Sudrajat.
“Lalu dimana kalian biasa meletakkan sesajennya?.” Tanya Azman lagi sambil memperhatikan sekitarnya.
“Biasanya kami meletakkannya di atas batu besar ini, kami biasa membawa tangga bambu jika saat perayaan sedekah bumi Pak.” Ucap Pak Sudrajat sambil menunjuk ke atas batu besar yang sebelumnya merupakan sumber mata air.
Azman hanya mengangguk dan dia dengan teliti memperhatikan lokasi sekeling, setiap sudut dari lokasi itu dia coba pahami dan mencari hal tidak masuk di akal sehatnya namun sejauh mata memandang tidak ada satu hal pun yang membuatnya bisa mengerti kenapa mata air itu menjadi surut.
Belum Pak Sudrajat menjawabnya tiba - tiba langit menjadi gelap dan awan hitam nampak jelas terlihat oleh mereka, suara halilintar juga secara tiba - tiba terdengar oleh mereka, bahkan bukan hanya oleh Azman dan Pak Sudrajat saja melainkan oleh Azizah dan para penduduk desa lainnya juga ikut mendengarnya.
“Pak Azman, saya persilahkan anda untuk naik ke atas batu besar ini namun sepertinya sekarang bukan waktu yang baik untuk melakukannya, sebaiknya kita segera pulang agar tidak kehujanan, saya kira akan terjadi badai yang cukup dahsyat kali ini.” Ucap Pak Sudrajat yang nampak mulai khawatir dengan perubahan cuaca itu.
“Baik Pak mari kita kembali terlebih dahulu jika demikian.” Ucap Azman yang mengurungkan niatnya untuk menaiki batu besar itu.
Azman dan Pak Sudrajat pun kemudian melangkah meninggalkan lokasi itu dan tanpa mereka sadari karena mereka sudah membelakangi batu besar itu nampak dari dalam batu besar itu asap putih mulai keluar dan menyelimuti batu besar itu seutuhnya.
__ADS_1
“Entah kenapa bulu kuduk saya berdiri Pak.” Ucap Pak Sudrajat sambil mempercepat langkahnya.
Azman sendiri tidak langsung menjawabnya namun dia menoleh ke belakang dan apa yang dia lihat benar - benar di luar dugaannya karena batu besar itu kini tidak nampak olehnya padahal mereka baru pergi sejauh sepuluh meter saja.
“Sebentar Pak, kemana batu besar itu.” Ucap Azman sambil berhenti dan membalikkan badannya, berusaha untuk melihat jelas ke batu besar tersebut.
“Jedeeeeeeeeeeeeeeeer jedeeeeeeeeeeeeeeeeer” terdengar suara halilintar bersahut - sahutan.
“Batu itu hilang!” Ucap Pak Sudrajat yang nampak kebingungan.
“Alam sedang tidak mendukung kita, sudahlah nanti saya akan kembali kesini dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, kita kembali saja terlebih dahulu ke rumah Bapak ya.” Ucap Azman yang melihat ada sepasang makhluk gaib berdiri membelakanginya dan Azman bisa mengetahui jika makhluk gaib itu bukan kaum Jin.
“Baik Pak, mari kita pulang saja dahulu.” Ucap Pak Sudrajat yang kembali membalikkan badannya dan langsung berjalan dengan cepat untuk kembali ke rumahnya.
Azman pun langsung mengikuti Pak Sudrajat namun dia memilih untuk menjaga jarak dengan Pak Sudrajat, ini dia lakukan untuk berjaga - jaga apabila dua makhluk gaib itu menyerangnya atau menyerang Pak Sudrajat.
Angin bertiup sangat kencang dan suara halilintar pun semakin sering terdengar, debu dan dedaunan pun kini beterbangan namun baik Pak Sudrajat maupun Azman terus melangkah.
“Pak Azman, sebelumnya disini tidak pernah seperti ini, semoga tidak ada bencana yang menimpa warga desa saya.” Ucap Pak Sudrajat.
“Semoga tidak ada hal buruk yang terjadi Pak.” Ucap Azman.
__ADS_1
“Kraaaaaaaaaaaaak bruuuuug” terdengar suara kencang dari belakang mereka dan nampak ada sebuah pohon besar yang tumbang dan menutupi jalan menuju ke sumber mata air tersebut.
Azman hanya menarik nafas dalam - dalam karena lokasi pohon yang tumbang itu hanya lima meter dari nya, sedangkan Pak Sudrajat kini mulai berlari karena mereka masih ada di lokasi hutan dan pohon yang tumbang itu membuatnya cukup takut.