
Setengah jam berlalu dan Azman melihat jika anak laki laki itu sudah datang kembali membawa sebuah piring besar dan segelas kopi.
"Maaf Pak, ini Nasi goreng udang dan kopinya, sebentar saya ambilkan dulu rokok dan air mineral botolnya" ucap anak laki laki itu sambil meletakan piring dan gelas yang dibawanya di atas tikar lipat Azman.
"Iya terima kasih" ucap Azman sambil mengambil piring yang berisi nasi goreng udang itu.
Anak laki laki itu kembali meninggalkan Azman dan Azman pun langsung mulai memakan nasi gorengnya dengan lahap karena memang dia sebenarnya sudah mulai lapar.
Sepuluh menit berlalu dan anak laki laki itu sudah kembali ke tempat Azman dengan membawa satu kantong plastik besar yang berisi tiga botol air mineral dan satu slop rokok.
"Ini Pak air mineral dan rokoknya, maaf saya kelamaan karena rokok bapak tidak ada di warung ibu saya, jadi saya membelinya di warung lain, sama ini kembaliannya" ucap anak laki laki itu sambil memberikan kantong plastik besar itu dan puluhan ribu uang kembalian.
"De kembaliannya untuk mu saja ya, lalu apakah ibu mu menjual jagung bakar" ucap Azman sambil hanya menerima kantong plastik besar itu saja.
"Terima kasih pak, iya ibu saja juga menjualnya Pak, mau rasa apa pak jagung bakarnya" ucap anak laki laki itu dengan wajah berbahagia karena uang kembalian itu masih sangat banyak untuknya.
"De, rasa original saja ya, berapaan satunya" ucap Azman sambil mengambil dompetnya.
"Lima belas ribu Pak per buahnya untuk jagung bakar" ucap anak laki laki itu dengan sangat sopan.
"Bawakan tiga saja, dan kembaliannya untuk mu saja ya" ucap Azman sambil memberikan selembar uang seratus ribuan ke anak laki laki itu.
"Makasih banyak Pak" ucap anak laki laki itu sambil menerima selembar uang seratus ribu itu dari Azman lalu berjalan dan kembali ke warungnya yang berjarak seratus lima puluh meter dari tendanya Azman.
Azman kemudian berdiri dan menyimpan satu slop rokoknya itu di box pannier motornya karena itu memang untuk lalu kembali ke tempat duduknya tadi.
"Azman, nafsu makan mu itu besar juga ya" ucap Daim.
"Sebenarnya aku sudah kenyang namun jika aku hanya memberinya uang maka anak itu bisa kecewa dengan ku, dengan begini kan dia memperoleh uang lebih" ucap Azman sambil melihat ke arah pantai dan kini air laut mulai naik meskipun masih jauh ke arah tenda yang ada di atas.
__ADS_1
"Tenang saja air laut itu tidak akan sampai kesini kok" ucap Daim sambil melihat ke arah laut juga.
"Daim apakah kau melihatnya juga" ucap Azman yang melihat seorang wanita berjalan di atas air laut itu, seratus meter dari bibir pantai dan wanita itu berjalan ke arah tengah laut.
Sosok wanita berpakaian serba hijau itu memiliki rambut lurus dengan panjang sampai pinggang menutupi punggungnya.
"Iya aku melihatnya, biarkan saja, lagi pula dia tidak akan mengganggu kita" ucap Daim sambil berdiri lalu melangkah ke arah laut.
Daim terlihat berjalan di atas air dengan cepat dan mendekati sosok perempuan berbaju hijau itu.
Azman hanya diam dan melihat ke arah Daim saja, karena mustahil untuknya bisa berjalan di atas laut seperti Daim dan sosok perempuan berbaju hijau itu.
Dua puluh menit sudah berlalu dan Azman sudah tidak melihat sosok Daim maupun sosok perempuan berbaju hijau itu namun Azman melihat jika anak laki laki itu sudah datang dengan membawa satu kantong plastik.
"Maaf Pak lama, ini saya bawakan jagung bakar pesanan bapak" ucap anak laki laki itu dengan ramah.
"Warungnya dua puluh empat jam kok pak, kami tidur di warung, jika bapak perlu apa apa bisa ke saya saja ya pak, meskipun di warung ibu tidak ada saya akan carikan ke warung lain" ucap anak laki laki itu dengan sangat sopan.
"Iya, makasih ya De" ucap Azman dengan ramah sambil menyimpan kantong plastik besar yang berisi jagung bakar itu di depannya.
"Baik Pak, saya permisi" ucap anak laki laki itu dengan sangat sopan sambil melangkah meninggalkan Azman.
Azman kemudian mengambil satu jagung bakar itu dan mulai memakannya perlahan sambil melihat jika Daim sudah berjalan di atas air laut ke arahnya.
"Azman, itu yang di sebut ratu pantai selatan" ucap Daim sambil duduk di samping Azman.
"Apakah ada masalah?" Tanya Azman dengan ramah.
"Tidak ada, dia hanya ingin melihat mu saja namun karena kehadiran ku maka dia tidak jadi" ucap Daim.
__ADS_1
"Apakah mitos itu benar jika akan ada korban jika dia terlihat" ucap Azman lagi.
"Iya, biasanya seperti itu tapi sudah aku sampaikan agar malam ini atau selama kau di sini tidak ada masalah di pantai selatan ini" ucap Daim.
"Ya syukurlah, aku sedang tidak ingin bertemu makhluk aneh untuk malam ini" ucap Azman sambil kembali memakan jagung bakarnya.
"Ya jika kau mau bertemu dengannya aku bisa memanggilnya kesini, dia satu kaum kok dengan ku" ucap Daim.
"Tidak terima kasih, aku tidak ingin berhubungan dengan dia atau pun yang lainnya" ucap Azman sambil kembali memakan jagung bakarnya dan kini semua jagung bakar itu sudah berpindah ke dalam perutnya.
"Azman besok pagi ada yang harus kau kerjakan jadi sebaiknya kau beristirahat" ucap Daim.
"Ada apa sebenarnya besok, apa lokasinya jauh?" Ucap Azman.
"Tidak terlalu jauh hanya lima sampai enam kilometer saja dari sini, sama dengan kemarin ini berhubungan dengan orang hilang juga" ucap Daim.
"Pendaki lagi?" Tanya Azman yang terlihat sangat penasaran.
"Besok saja, sekarang kau tidak perlu mengetahuinya" ucap Daim yang ingin Azman untuk beristirahat dengan nyaman.
"Ya sebentar lagi aku akan beristirahat" ucap Azman sambil melihat jika ada pesan singkat ke ponselnya dan langsung di lihat olehnya.
Pesan singkat di kirim oleh Intan yang memberitahukan adanya musibah tanah longsor dan satu desa tertimbun longsor satu jam yang lalu.
Azman pun membalas pesan singkat itu hanya dengan ucapan terima kasih saja, sebagai tanda jika dia sudah membacanya.
"Daim apakah berhubungan dengan satu desa yang menjadi korban longsor?" Ucap Azman sambil melihat ke arah Daim.
"Iya, sebenarnya aku tidak ingin memberitahu mu malam ini karena aku takutkan malam ini juga kau kesana, tapi karena kau sudah tahu ya sudahlah terserah kau saja mau kesana kapan?" Ucap Daim.
__ADS_1