
Sudah satu jam mereka berjalan dan kini perjalanan mereka sudah mulai sedikit nyaman, karena mereka kini mereka berjalan di lorong yang datar dan sedikit menurun.
“Mohon Ijin komandan, bisakah kita berhenti sebentar saja, ada hal yang ingin saya sampaikan secara langsung.” Terdengar suara seorang petugas kepolisian yang paling belakang melalui radio komunikasi dan secara spontan Azman mengambil radio komunikasinya.
“Di depan ada area yang cukup luas untuk kita berhenti, jadi kita akan berhenti di depan saja, paling dua puluh meter lagi.” Ucap Azman melalui radio komunikasi, mendahului Pak Danu.
“Siap Pak Azman.” terdengar balasan petugas kepolisian yang belakang melalui radio komunikasi.
Azman terus berjalan dan menghiraukan Pak Danu yang ingin bertanya padanya, sampai akhirnya mereka sampai di area yang memang sedikit lebih luas, disana juga banyak batuan besar yang langsung diduduki oleh Azman salah satunya setelah melepas tali karmantel yang tersambung padanya.
Semua yang ada di rombongan itu pun kemudian ikut melepas tali karmantel itu namun ada satu orang yang langsung menggulung tali karmantel agar tidak berantakan dan tidak mengganggu mereka, Pak Danu sendiri memilih untuk duduk di samping Azman.
“Mohon ijin Komandan dan Pak Azman, tadi saya kan menulis di dinding lorong Gua ini dan menandainya dengan merusaknya sedikit menggunakan belati saya, namun ternyata apapun yang saya lakukan, semuanya menghilang, bahkan jika jika berjalan ke belakang, maka kita akan melihat ruang yang tadi kita pasang lampu tidak jauh dari kita, padahal kita sudah berjalan kurang lebih lima ratus meter.” Ucap Petugas kepolisian yang sebelumnya berada di paling belakang datang melapor ke Pak Danu.
“Apakah itu benar?.” Tanya Pak Danu yang nampak kaget.
“Benar Komandan, dan bisa kita buktikan juga.” Jawab Petugas kepolisian itu.
“Pak Danu, sebaiknya kita bertiga saja yang memeriksanya, saya jadi penasaran, karena memang sejak kita memasang lampu sorot di lorong udara saya merasakan keanehan namun tidak mengetahui apa yang aneh.” Ucap Azman sambil berdiri.
“Pak Azman, apakah anda tidak lelah, mungkin lebih baik kita beristirahat sebentar saja.” Ucap Pak Danu.
“Saya memang sudah sangat lelah Pak, baiklah kita beristirahat lima belas menit, dan mohon semuanya tidak ada yang pergi jauh.” Ucap Azman sambil duduk kembali.
“Semuanya dengarkan baik - baik, kita akan beristirahat disini, dan saya harap tidak ada yang pergi jauh, dan jika kalian pergi maka jangan sendirian serta jangan matikan Radio komunikasi kalian.” Ucap Pak Danu memberikan arahan ke anak buahnya.
__ADS_1
“Siap Komandan.” Ucap Semua yang ada disana kecuali Azman tentunya.
Azman hanya nampak duduk merenung sambil menikmati rokoknya namun sebenarnya dia sedang memikirkan apa yang sebenarnya terjadi saat ini, terlalu banyak hal yang membuatnya kebingungan sejak dia mengetahui jika Azizah tidak bisa mendeteksi kehadirannya.
“Ada apa dengan Gua kematian ini, kenapa disini aku bahkan merasa seperti aku pada jaman dulu yang tidak bisa mengetahui apapun, ada apa disini yang bahkan membatasi kemampuan istriku?.” Ucap Azman dalam hatinya mencoba mencari tahu ada apa dengan semua ini.
Lima belas menit berlalu dengan cepat dan kini Azman pun bersiap demikian juga dengan Pak Danu dan satu orang petugas kepolisian yang tadi melaporkan situasinya.
“Kalian semua jangan kemana - mana, tunggu kami disini, ingat radio komunikasi jangan sampai putus.” Ucap pak Danu ke anak buahnya yang lain.
Mereka bertiga pun kemudian berjalan menuju arah belakang dan keanehan mulai dirasakan oleh Azman, karena dia merasa semakin menjauhi anggota kepolisian yang lainnya.
“Berhenti.” Ucap Azman sambil menghentikan langkahnya dan mereka baru berjalan sepuluh meter dari lokasi sebelumnya.
“Pak Azman, ada apa?.” Tanya Pak Danu.
“Kau kembalilah, biar kami berdua saja yang pergi, dan ingat jangan sampai kau lepas ujung tali ini, jika perlu kau sambung tali ini.” Ucap Pak Danu ikut mengarahkan anak buahnya.
“Siap Komandan.” Ucap Anggota kepolisian itu sambil menerima ujung tali dari Azman dan langsung meninggalkan mereka berdua.
“Pak Danu, saya merasa ini sebuah jebakan, yang bisa membuat kita tersesat, semoga dengan tali ini kita bisa tetap kembali ke pintu keluar dengan membawa semua anak buah anda.” Ucap Azman.
“Saya Paham maksud dan tujuan Pak Azman.” Ucap Pak Danu sambil berjalan di samping Azman.
Mereka berdua terus berjalan dan benar saja setelah seratus meter mereka berjalan mereka kembali ke lokasi pertama yaitu ruang tempat mereka beristirahat dan memasang lampu sorot di lubang udara.
__ADS_1
“Ini kenapa kita bisa secepat ini kembali kesini, ada apa dengan Gua ini?.” Tanya Pak Danu yang nampak sangat keheranan.
“Saya juga tidak paham Pak. namun sepertinya lorong gelap itu menyimpan rahasia besar atau mungkin memiliki lorong - lorong yang tidak terlihat oleh kita.” Ucap Azman.
“Apakah sebaiknya kita memanggil mereka saja untuk kembali kesini.” Ucap Pak Danu.
“Sebaiknya begitu Pak.” Ucap Azman sambil melepas tali karmantelnya dan duduk di batu besar yang sebelumnya dia duduki.
“Kalian kesinilah dan ikuti tali terikat padaku.” Ucap Pak Danu melalui radio komunikasi.
“Siap Komandan, mohon ijin talinya terputus, dan suara komandan terdengar sangat pelan oleh saya.” Jawab salah seorang anggota kepolisian melalui radio komunikasi.
“Pak Azman, apa yang harus kita lakukan.” Ucap Pak Danu yang terdengar sangat panik.
“Suruh mereka diam di tempat mereka saja, kita saja yang akan kembali kesana, saya sudah mulai mengerti apa yang terjadi.” Ucap Azman.
“Kalian diam disana, dan jangan pergi kemana pun, kami akan kembali kesitu.” Ucap Pak Danu kembali melalui radio komunikasi.
“Pak Danu, tariklah tali itu, jika benar sudah terputus maka seharusnya ujung talinya ada bukan.” Ucap Azman dengan santai.
“Baik Pak.” Ucap Pak Danu sambil menarik perlahan tali karmantel yang masih terikat di carabiner harnesnya.
Pak Danu terus menarik perlahan tali tersebut dan tali itu pun benar - benar terputus, sehingga Pak Danu pun memperlihatkan ujung tali tersebut ke Azman.
“Pak Azman, tali karmantel ini sangat kuat dan bahkan bisa menahan beban sampai ratusan kilogram, namun ini terputus seolah - olah ada yang mengguntingnya.” Ucap Pak Danu.
__ADS_1
“Pak Danu, itu bukan oleh gunting, melainkan benda lain yang lebih tajam, saya curiga itu dikarenakan oleh golok atau parang, jadi minta anak buah anda lebih waspada, namun sebisa mungkin jangan menggunakan senjata api jika mereka mendapatkan bahaya.” Ucap Azman sambil memegang ujung tali tersebut.