
“Benar Pak, karena jika anda salah dalam mengambil tindakan maka bisa berakibat buruk juga.” Ucap Azman.
“Pak Azman, apakah ada analisa anda mengenai kelelawar - kelelawar itu?.” Tanya Pak Danu.
“Analisa saya mereka menggiring kelelawar itu ke rumah kayu melalui lorong bawah tanah itu Pak, kelelawar itu asalnya dari Gua Kematian, dan dengan mengosongkan Gua Kematian dari kelelawar maka mereka bisa membersihkan Gua Kematian.” Ucap Azman.
“Membersihkan bagaimana maksud Pak Azman?.” Tanya Pak Danu yang nampak kebingungan.
“Membersihkan dari sarang burung walet dan hasil bumi lainnya Pak ha ha ha ha ha ha.” Jawab Azman sambil tertawa.
“Ha ha ha ha ha ha anda bisa saja.” Ucap Pak Danu sambil tertawa juga.
“Tapi bagaimana cara mereka mengarahkan kelelawar - kelelawar hitam itu?.” Tanya Pak Danu.
“Susah - susah mudah dan memerlukan beberapa orang untuk melakukannya, kelelawar itu sensitif dengan cahaya, jadi jika semua mulut Gua Kematian di sinari cahaya terang maka kelelawar itu akan mencari area yang gelap, ini juga di lakukan dengan perlahan agar kelelawar itu tidak menerobos cahaya buatan itu, di tambah lagi jangka waktunya tidak bisa cepat, besar kemungkinan dari dulu sudah ada lubang atau lorong disini dan mereka memperbesarnya, sehingga menjadi lorong bawah tanah yang menembus Gua Kematian.” Jawab Azman.
“Semua yang mereka lakukan ini untuk kepentingan sendiri, padahal jika mereka bekerja sama dengan penduduk desa juga mereka tidak akan rugi, keuntungan masih ratusan juta untuk mereka.” Ucap Pak Danu.
“Itulah dia Pak, kadang harta merusak semuanya.” Ucap Azman.
“Pak Azman, saya yakin jika ada banyak yang terlibat dalam hal ini, karena mereka kan hanya mengeluarkan mobil di malam hari untuk membawa hasilnya dan dari mana mereka memasuki Gua Kematian? Mereka pasti membutuhkan pintu masuk yang nyaman bukan untuk memasuki Gua Kematian dan memanennya.” Ucap Pak Danu.
__ADS_1
“Di mulut Gua Kematian yang ada di pinggir pantai itu ada tangga yang terbuat dari tambang yang biasa di gunakan mendaki, namun saya ragu mereka menggunakan tangga itu setiap hari, besok kita akan melakukan ekspedisi ke dalam Gua dan dengan demikian kita akan mendapatkan jawaban dari pertanyaan anda, namun ada baiknya jika kita juga mulai bersiap sekarang, silahkan nanti anda siapkan banyak tambang dan senter ya Pak.” Ucap Azman.
“Pak Azman, apakah anda bermaksud untuk masuk kedalam Gua Kematian malam ini juga.” Ucap Pak Danu.
“Benar Pak, namun kita akan masuk melalui lorong bawah tanah ini saja, untuk keselamatan bersama saya minta satu sama lain terikat dengan tambang saja, kita tidak mengetahui medannya dan kita tidak mengetahui ada jebakan apa yang mereka siapkan.” Ucap Azman.
“Baik, saya permisi sebentar menyiapkan kebutuhannya, dan menurut anda berapa orang yang kita ajak ke dalam lorong bawah tanah itu.” Ucap Pak Danu.
“Tidak perlu terlalu banyak Pak, Sepuluh orang sudah cukup dan sepuluh orang lainnya biar bertahan disini saja, untuk sebagai bala bantuan jika kita membutuhkan, satu hal lagi radio komunikasi serta masker gas jangan sampai lupa ya Pak.” Ucap Azman.
“Oke, sebentar saya siapkan terlebih dulu kebutuhannya, saya ada anak buah yang cocok untuk tugas malam ini.” Ucap Pak Danu yang langsung meninggalkan Azman.
Dua orang petugas kepolisian juga menarik kabel untuk memasang lampu sorot baik di luar maupun di dalam rumah kayu itu sehingga kini area itu sudah jauh lebih terang dan Azman bisa melihat dengan jelas area itu bukan hanya mengandalkan penerangan dari rembulan.
“Pak Azman, mohon maaf kami hendak memotong sebagian bunga sedap malam ini untuk kami taburkan di dalam, agar bisa menetralisir bau yang tersisa.” Ucap seorang petugas kepolisian yang mendatangi Azman dengan membawa sebuah gunting tanaman.
“Silahkan Pak.” Ucap Azman dan petugas kepolisian itu pun langsung memotong banyak bunga sedap malam lalu membawanya ke dalam rumah kayu itu.
Sepuluh menit berlalu dan kini semuanya sudah selesai membersihkan rumah kayu itu, Azman sendiri sudah duduk di teras rumah kayu yang kini sudah harum dengan bunga sedap malam, nampak jika Pak Danu sudah kembali dengan membawa dua puluh orang yang sudah mengenakan perlengkapan mendaki.
“Pak Azman, kami sudah siap, dan ini perlengkapan anda.” Ucap Pak Danu yang menyerahkan sebuah tas ransel ke Azman.
__ADS_1
“Terima kasih Pak, saya cukup menggunakan harnes dan sarung tangan serta helm ini saja.” Ucap Azman sambil mengeluarkan barang yang dibutuhkannya lalu mengenakan semua yang dia butuhkan itu.
“Baiklah, jarak kita cukup dua meter saja dan saya harap tidak ada yang melepas carabiner ini ya.” Ucap Azman sambil mengaitkan carabiner di harnesnya dan carabiner itu juga sudah terikat dengan tali karmantel lalu memberikan gulungan tali karmantel panjang itu ke Pak Jaja.
Pak Jaja dan yang lainnya pun langsung mengikatkan tali karmantel itu ke harnesnya dengan menggunakan carabiner sehingga kini semuanya saling terhubung satu dan yang lainnya.
“Maaf saya lupa, ini radio komunikasi anda Pak, meskipun kita terikat dengan karmantel namun akan lebih baik jika semuanya membawa radio komunikasi.” Ucap Pak Jaja sambil memberikan sebuah radio komunikasi ke Azman dan Azman pun kemudian menyelipkan radio komunikasi itu di harnesnya.
“Sebelum kita memulai perjalanan malam kita ini maka mari kita berdoa sesuai kepercayaan masing - masing, berdoa di mulai.” Ucap Azman.
“Berdoa selesai mari kita mulai perjalanan kita ini.” Ucap Azman lagi yang langsung melangkah dan tidak lupa mengenakan tas ranselnya karena masih banyak perlengkapan di dalamnya yang mungkin akan dia butuhkan.
Azman dan yang lainnya pun berjalan memasuki rumah kayu itu lalu menuju ke ruangan kecil yang merupakan akses masuk ke lorong bawah tanah, mereka semua saling menjaga jarak agar tali karmantel itu tidak sampai mengganggu mereka.
Azman berjalan paling depan dan melihat jika ruang bawah tanah itu cukup besar, bahkan bisa dimasuki oleh dua orang secara berdampingan.
“Lorong bawah tanah ini murni buatan manusia, dan dilihat dari kondisinya ini sudah puluhan tahun.” Ucap Azman ke Pak Danu yang berjalan di belakangnya.
“Benar Pak, ini sudah ada sejak lama, pelaku sepertinya menemukan ini dan menggunakannya untuk kepentingan pribadinya, sepertinya desa kecil ini menyimpan banyak rahasia dan tidak sesederhana yang kita kita.” Ucap Pak Danu.
“Pak Danu, di depan lorongnya bercabang, dan sepertinya kita harus membagi dua rombongan kita ini, saya akan mengambil yang kanan saja.” Ucap Azman.
__ADS_1